Rasulullah Khilaf


Suatu ketika, Rasulullah berjanji akan menjawab pertanyaan tentang kisah Ashab al-Kahf. “Besok pagi aku akan menjawab pertanyaan kalian itu.” Rasulullah yakin, sebelum matahari esok pagi bersinar, Allah akan menurunkan wahyu tentang kisah tersebut.

Namun, tepat saat Rasulullah harus memenuhi janji, wahyu yang dinantikan ternyata tak kunjung turun, juga pada hari berikutnya, bahkan ketika hari telah berlalu satu pekan dari waktu yang dijanjikan. Kondisi itu membuat Rasulullah gelisah. Orang-orang mulai menyudutkannya: Muhammad tak bisa menepati janji! Muhammad pembohong!

Akhirnya, Allah menurunkan wahyu pada hari kelima belas dari hari Rasulullah berjanji, namun tidak terkait kisah Ashab al-Kahf. Wahyu yang turun justru teguran untuk kekhilafan Rasulullah. Ada etika yang dilanggar Rasulullah.

Jangan sekali-kali kau mengatakan terhadap sesuatu (rencana atau janji), “Aku akan mengerjakannya besok pagi,” kecuali dengan mengatakan ‘insya Allah’ (al-Kahf: 23-24).

Ya, Rasulullah mendapat teguran hanya karena tak mengucapkan “insya Allah”. Secara bahasa, “insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Kata itu Allah ajarkan sebagai etika dalam berjanji dan berencana melakukan sesuatu untuk orang lain atau bagi diri sendiri. Dalam kata itu tersirat makna tauhid bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa dan pengetahuan mutlak pada apa dan bagaimana yang terjadi esok hari. Sedangkan bagi manusia, kekuasaan untuk mewujudkan rencana dan janji hanyalah kemungkinan.

“Insya Allah” bukanlah ungkapan keragu-raguan. Tidak diucapkan ketika kita tak yakin mampu melaksanakan sesuatu. Justru, ia bentuk optimisme sekaligus tawakal.

Ditegur karena si Buta

Bukan kali itu saja Rasulullah khilaf.

Suatu hari, Rasulullah menerima beberapa tokoh berpengaruh Quraisy. Rasulullah perlu menjamu para tamu itu dengan baik dan hormat bukan saja karena mereka kalangan tokoh, melainkan juga Rasulullah mempunyai misi mengajak mereka memeluk Islam. Jika para tokoh itu memeluk Islam, diharapkan kaum mereka juga akan mengekor.

Di tengah perjamuan itu, datang salah seorang sahabat bernama Ibnu Ummi Maktum. Dia buta. Dia merasa harus menyela perjamuan itu untuk suatu hal mendesak. Dia pikir barangkali Rasulullah mau menyempatkan waktu barang sejenak setelah sekian lama beliau melayani tamu-tamu Quraisy itu. Mungkin juga Ibnu telah menunggu beberapa lama tapi tamu-tamu itu tak kunjung pulang. Atau, karena Ibnu buta, dia tidak tahu jika Rasulullah sedang menjamu para tamu sehingga Ibnu tiba-tiba saja menyela.

Namun, yang terjadi tidak seperti harapan anak Ummi Maktum itu. Rasulullah tidak mau menghiraukannya. Sepertinya urusan dengan para tokoh tersebut jauh lebih penting ketimbang dengan satu orang buta, atau kedatangan satu orang itu dianggap tidak sopan karena menyela di tengah pembicaraan.

Karena peristiwa tersebut, Rasulullah mendapat teguran dari Allah, “Jangan sekali-sekali seperti itu!”

Peristiwa itu pun diabadikan dalam Al-Quran, ayat ke-1-11 surah ‘Abasa:

Muhammad bermuka masam dan berpaling saat didatangi seorang buta ….

Kau perlu tahu, Muhammad, barangkali orang buta itu ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau ingin mendapatkan pengajaran yang bermanfaat.

Terhadap orang kaya, kau bersedia melayani dan memperhatikannya. Padahal, kau tak akan hina sekali pun orang kaya itu tak mau beriman. Namun, terhadap orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), dan ia takut kepada Allah, kau mengabaikannya.

Jangan sekali-kali seperti itu!

Setelah peristiwa itu, setiap kali bertemu dengan Ibnu Umi Maktum, Rasulullah selalu menyambutnya dengan gembira sambil membentangkan serban di tanah, dan berkata, “Selamat datang dan salam jumpa untuk orang yang membuatku ditegur Allah! Adakah yang ingin kausampaikan?” Rasulullah menjadi lebih ramah dan perhatian kepada Ibnu Ummi Maktum.

Sebagai utusan Allah untuk menyampaikan risalah agama dan menjawab persoalan umat, memang tidak semestinya Rasulullah membeda-bedakan pelayanan terhadap siapa pun yang membutuhkan, apalagi pembedaan itu atas dasar perbedaan status sosial. Jika Rasulullah saja mesti bersikap demikian, apalagi umatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s