Kalih Kalimatalla


Saya menamai anak laki-laki saya Kalih Kalimatalla.

“Kalih” artinya “dua”. Dari krama inggil atau bahasa Jawa halus. Sederhana saja, nama ini sebagai penanda bahwa si pemilik nama adalah anak kedua.

Sedangkan “Kalimatalla” terinspirasi ayat Al-Quran.  Al-Masih, Isa putra Maryam itu,  adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Ia sampaikan kepada Maryam … (al-Nisa: 171).

Malaikat berkata, “Maryam, Allah memberimu kabar gembira berupa kalimat dari-Nya, bernama Al-Masih Isa ibn Maryam …” (Alu Imran: 45).

Maryam sempat bertanya bagaimana dirinya bisa memiliki anak sementara ia tak punya suami atau pernah berhubungan dengan lelaki. Jangankan berhubungan, disentuh oleh lelaki yang bukan mahramnya pun tidak pernah. Malaikat itu menjawab, “Demikianlah Allah. Dia mencipta apa yang Ia kehendaki. Jika Allah menetapkan satu persoalan, Dia cukup berkata, ‘Kun!’ Fayakun. ‘Jadilah!’ Maka, sesuatu itu pun terwujud” (Alu Imran: 47).

Kata “Kun! Fayakun” tidak berarti bahwa jika Allah menghendaki sesuatu maka Dia akan berkata demikian. Tidak juga berarti bahwa kemudian sesuatu itu pun terwujud begitu saja tanpa proses.  Kata itu semata sebagai gambaran bahwa jika Allah menghendaki sesuatu maka tak ada yang mampu menghalangi sesuatu itu terwujud, hanya saja prosesnya bisa dalam waktu yang lama atau sebentar. Itu yang kita sebut sunatullah. Begitu juga dengan Nabi Isa. Ia terlahir melalui proses kehamilan yang mungkin dibarengi mual-mual (dan berbagai gejala lain kehamilan) pada sang ibu, juga melalui proses persalinan yang tentu menyakitkan, sehingga digambarkan Maryam merasa lebih baik mati saja daripada merasakan sakitnya persalinan.

Jika demikian, bagaimana menjelaskan “Kun! Fayakun” itu pada kehamilan Maryam yang tanpa proses sebagaimana normalnya? Penjelasan apa lagi untuk seorang perempuan yang hamil berdasarkan kalimat kabar gembira dari Allah melalui Jibril selain sebagai mukjizat kenabian.

Dari situlah Nabi Isa mendapat sebutan “Kalimatullah” atau “Kalimat Allah”. Dari situ pula saya terinspirasi menamai  anak kedua, berharap berkah kepada Allah dengan tawasul Kitabullah. Juga berharap semoga si anak menjadi kabar gembira bagi siapa pun dan di mana pun.

* * *

Salah seorang teman tak mencantumkan nama lahir di akun Facebook-nya dan membuat nama baru. Dia bilang namanya yang dari bahasa Arab terlalu norak, meski maknanya sungguh bagus. Teman lain yang namanya terdengar estetis tak tahu arti namanya itu. Pokoknya itu yang orangtua beri, katanya.

Benar, setiap anak yang lahir tak memilih namanya sendiri. Orangtua tak pernah melibatkan anaknya dalam pemberian nama, sebab itu tidak mungkin. Karenanya barangkali setiap orangtua perlu mempertimbangkan aspek makna dan estetika sebuah nama untuk calon anaknya. Sebab, sama sekali tak salah jika seseorang berpikir andai saat bayi ia bisa menentukan namanya sendiri.

 ***

Anakku,—entah pada usiamu yang keberapa kamu membaca ini—namamu Kalih Kalimatalla dan inilah penjelasannya.

Kemang, 14 November 2012 M/1 Muharram 1434 H (saat Kalih tepat berusia satu bulan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s