Air Minum dan Air Seni


Dikisahkan, seorang saleh memegang gelas berisi air dan bertanya kepada Harun al-Rasyid, “Amirul Mukminin, seandainya engkau tersesat dipadangpasir dan sangat lemas karena kehausan, lalu tiba-tiba muncul seseorang membawa segelas air, engkau berani membayar berapa untuk air itu?”

“Aku akan membayarnya dengan setengah dari seluruh kekayaan yang kumiliki,” jawab Harun al-Rasyid.

Orang saleh itu bertanya lagi, “Kemudian, setelah itu engkau ingin buang air seni, tapi ternyata ia tidak mau keluar, membuatmu kesakitan. Dan tiba-tiba seseorang datang dan mengatakan bahwa ia bisa menyembuhkan kesulitanmu itu. Engkau berani membayar berapa untuk jasa orang tersebut?”

Harun al-Rasyid menjawab, “Aku akan membayarnya dengan seluruh sisa setengah kekayaanku.”

Orang saleh itu lalu berkata, “Seperti itulah perumpaan dunia, wahai Amirul Mukminin. Jika engkau mau berpikir, kekayaan dan kekuasaan dunia tak lebih daripada sekadar air minum dan air seni.”[1]

Nasihat bijak adalah yang tepat dan sesuai dengan kondisi orang yang dinasihati. Tak tepat jika engkau memberi nasihat bahwa harta hanyalah air seni kepada orang yang hidup kekurangan, kepada orang yang sedang membutuhkan kedermawananmu.


[1] (dari Yuhka ‘An, 216 Qishah Tajma’ al-Hikmah wa al-Tayswiq wa al-Ta’lim karya Dr Anwar Wardah, hal. 58)

One thought on “Air Minum dan Air Seni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s