Membuncah


Jika Anda mencari “membuncah” di internet, di antara hasil yang Anda temukan adalah kata itu ada di contoh-contoh kalimat judul berita/artikel ini: “Pakai Maxi Dress, Payudara Vanessa ‘Membuncah’”, “Keharuan Membuncah saat ABK Costa Concordia Bertemu Keluarga”, “Fantasi Seks Bikin Gairah Membuncah”, “Hasrat Islam Membuncah, Mualaf Muda Hafal 2 Juz Al Qur’an”.

Dari contoh-contoh itu, saya menebak Anda akan memahami kata itu dengan semakna: menyembul; tumpah; tercurah; “meledak” … atau seperti apa Anda membuat padanannya. Intinya, sesuatu yang membuncah adalah sesuatu yang tak tertampung dan tertahan oleh wadah, sebab sesuatu itu telah penuh (atau seperti apa Anda menjelaskannya).

Tepatkah pemahaman itu? Pada gilirannya, tepatkah kata “membuncah” di contoh-contoh kalimat di atas?

Nasib “membuncah” ini seperti dua kata lain, yaitu “bergeming” dan “acuh” yang sering disalahpahami. Diartikan sebaliknya. “Bergeming” artinya “tidak bergerak sedikit pun”. Namun, tak jarang kita mendengar orang menyebut “tidak bergeming” justru untuk arti “tidak bergerak”. Demikian juga “acuh”. Coba Anda perhatikan penggunaan kata “acuh” di lirik lagu penyanyi-penyanyi atau band-band kita. Mereka menyelipkan kata “acuh” di lirik salah satu lagu mereka untuk arti “tidak peduli”. Barangkali hampir semua seperti itu (paling tidak, yang saya tahu). Once, d’Masiv, Armada …. Tadi pagi, sementara menunggu istri sedang masak, saya menemani dan menjaga putri saya Kimya bermain di dekat jendela. Tetangga yang hampir setiap hari memutar lagu dengan volume kencang, kali itu memutar lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Rita Sugiarto. Lirik awalnya seperti ini: Kau acuh, memang acuh, cintamu acuh tak acuh/Kau acuh, memang acuh, seperti engkau tak butuh ….

Begitulah. Pemahaman “bergeming” dan “acuh” di atas lapangan tak seperti tertulis di atas kertas Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI. Demikian pula dengan “membuncah”.

Menurut “kitab suci” itu, arti “buncah” (kata sifat) adalah “keruh” (tt air); “gelisah”, “kacau” (tt hati atau pikiran). Turunannya adalah “membuncah” (kata kerja yang tak butuh objek) yang berarti “menjadi buncah” dan “membuncahkan” (kata kerja yang butuh objek) yang berarti “mengeruhkan”; “menggelisahkan”.

Lalu, kenapa yang banyak beredar adalah pemahaman “membuncah” seperti yang disebutkan contoh-contoh kalimat di atas–bukan pemahaman yang dirumuskan KBBI?

Jika mendengar kata “membuncah”, ilustrasi yang terlintas di pikiran saya adalah permukaan air yang bergejolak, yang menyembul-nyembul karena dorongan udara. Bluthuk-bluthuk, kata orang Jawa. Dulu, sebelum menaruh perhatian terhadap bahasa, saya pikir yang disebut “membuncah” adalah gejolak air itu, sembulan-sembulan air itu, bluthuk-blutuk itu. Salah mengerti dan salah memahami.

Padahal, yang disebut “membuncah” dalam ilustrasi itu adalah efek keruh (tanah dan lain-lain) yang ditimbulkan oleh gejolak air, bukan gejolak air itu. Begitu, jika menurut KBBI.

* * *

Omong-omong, saya sering terpikir ini: kenapa ada kata yang beredar di masyarakat dan pemahamannya bertolak belakang dengan rumusan KBBI? Bukankah lema, butir masukan, entri di KBBI merupakan serapan dari kata-kata yang sudah ada dan beredar di masyarakat? Artinya, KBBI tidak “menciptakan” kata. Ia hanya mencatatkan kata yang sudah ada (baik dari bahasa lokal maupun menyerapnya dari bahasa asing). Tidak ada kata baru ciptaan KBBI; yang ada, KBBI baru memasukkannya. Sebab, jelas, kata-kata lahir lebih dulu sebelum kamus. Artinya (juga), KBBI bisa saja salah jika ada kata yang beredar di masyarakat dan pemahamannya tak seperti rumusan KBBI.

Mungkin. Tapi kemungkinan lain, bisa jadi KBBI memasukkan kata yang masih jarang digunakan masyarakat. Lalu, pada gilirannya kata itu sering digunakan dan beredar di masyarakat, hanya saja dengan pemahaman yang justru berkebalikan dengan rumusan kamus itu.

Mungkin. Tapi kemungkinan lain, tak seperti dua kemungkinan di atas.

Jadi?

One thought on “Membuncah

  1. Lalu makna mana yang harus kita pahami? Apakah makna yang sesuai dengan kamus yang berarti membuka kemungkinan kesalahan pemahaman oleh pembacanya atau makna yang dipahami oleh masyarakat yang berarti tidak selaras dengan makna baku?
    Tentu yang ideal adalah menjelaskan makna yang sesuai dengan kaidah baku kepada masyarakat. Tetapi upaya ini butuh proses yang panjang apalagi di tengah budaya masyarakat yang kurang memihak kepada kebiasaan membaca.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s