Juman’s Daughter


Anakku, kelak, jika dewasa, kamu perlu membaca ini.

Ini hanya tentang namamu.

Nama depanmu Kimya. Menurut bahasa Swahili (bahasa yang digunakan di sepanjang 1.500 km garis pantai Afrika Timur), Kimya berarti hening. Dan hening lebih dekat kepada malam. Maka, tepatlah nama itu untukmu; kamu lahir lima menit menjelang tengah malam saat satu belahan dunia berselimut gelap dan kebanyakan orang tengah terlelap.

Tapi, itu hanya kebetulan. Bukan karena lahir menjelang tengah malam yang hening lalu kamu diberi nama Kimya. Ilham sesungguhnya nama itu dari tokoh utama di novel berjudul Rumi’s Daughter karya Muriel Maufroy, namanya Kimya (novel tersebut diindonesiakan oleh Mizan dengan judul Kimya sang Putri Rumi). Seperti namanya, Kimya ini sosok yang unik. Ia sudah tampak berbeda sejak belia.

Anak-anak usia tujuh tahunan sepertinya mungkin masih senang bermain-main, jatuh dan menangis, berguling-guling di tanah, mengotori pakaian. Kimya tidak. Ia bahkan tidak menangis ketika terluka. Tapi, yang berbeda dalam dirinya itu kadang sesuatu yang  mencemaskan dan membingungkan. Ia kerap mengalami “ekstase”: momen ketika dirinya benar-benar kehilangan orientasi ruang dan waktu. Ia sering terpaku seolah-olah mendengarkan bunyi atau suara dari kejauhan. Tidak menghiraukan keadaan di sekelilingnya dan asyik dengan dirinya sendiri. Sebab itu, bagi teman-teman sebayanya, Kimya bukan anak yang menyenangkan diajak bermain. Edvokia hanya bisa menggeleng saat suatu ketika Kimya bertanya, “Ibu, mengapa aku hidup? Di mana aku sebelum terlahir?” Dari mana anak sekecil itu mendapat ide bertanya demikian?

Kimya ini barangkali anak indigo.

Sampai kemudian seseorang menganjurkan sebaiknya Kimya ke Konya untuk belajar kepada—dan dalam asuhan—orang yang tepat. Singkat cerita, oleh sebuah kebetulan, Kimya bertemu dengan Rumi, lalu menjadi bagian dari keluarga Rumi. Menjadi anak angkat Rumi.

Kimya menyaksikan dari dekat proses perubahan ayah angkatnya itu. Dari seorang ulama terhormat di Konya, Rumi menjadi perindu Tuhan, bersyair dan menari merayakan cinta Tuhan. Semua itu terjadi setelah Rumi berjumpa dengan seorang sufi pengembara, Syamsuddin Tabrizi. Syam dari Tabriz yang kemudian menjadi suami Kimya. Hidup bersama Syam, Kimya semakin akrab dengan suasana “ekstase” yang sering ia alami saat kanak-kanak, sebuah kerinduan kepada Yang Gaib. Hanya saja kali ini ia alami itu dengan segenap kesadaran di bawah bimbingan Syam.

Sementara, nama belakangmu diambil dari judul salah satu buku Imam al-Ghazali: Kimiya al-Sa’adah. Buku kecil yang al-Ghazali tulis dalam bahasa Persia (Yang saya punya sudah dalam versi bahasa Arab).

Di buku itu, al-Ghazali mengajak kita mengenali anatomi “tubuh spiritual” (al-qalb, al-nafs, dan al-ruh) dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat diri: “apa” sebenarnya diri kita; dari mana kita berasal; untuk apa kita diciptakan; apa yang membuat kita bahagia; apa yang membuat kita merana. Pengenalan dan pengetahuan atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar itulah yang menjadi salah satu kunci pembuka pintu makrifat. Mengenal, merasakan, dan menghayati Tuhan. Dalam satu ungkapan metaforis, seorang sufi mengatakan, “Hati adalah taman Tuhan.” Maka, sering-sering tengok hatimu. Kenali setiap sudutnya. Sebab, di sanalah Tuhan berada.

Nama adalah harapan. Sekelumit dari Kimiya al-Sa’adah di atas adalah di antara harapan-harapan untukmu. Dari Kimya sang Rumi’s Daughter, jika ada hal baik yang bisa saya harapkan terjadi pada Kimya si Juman’s Daughter maka itu adalah optimisme bahwa seorang anak bisa melebihi orangtuanya. Kimya sang Rumi’s Daughter hanya anak dari orangtua petani biasa dengan keagamaan yang biasa-biasa saja, namun Kimya memiliki spiritual dan pendidikan yang tak dimiliki orangtuanya.

Tapi, “Anak-anak memang tak memilih namanya sendiri,” kata Goenawan Mohamad di salah satu Catatan Pinggir-nya yang lucu (Nama, atau Mengapa Juliet Salah). “Mungkin ini bagian dari kolonisasi orangtua. Maka, tak jarang ketika jadi dewasa dan mandiri, seorang anak Indonesia mengubah namanya yang ia rasakan tak cocok lagi buat dirinya.” Barangkali namanya tak bernilai estetis di dunianya. Seorang artis menggunakan nama panggung sebagai ganti nama lahirnya. Seorang penulis menggunakan nama pena sebagai ganti nama aslinya.

Sebab itu, nama juga hiasan. Orangtua berkewajiban memberikan anaknya nama yang tak hanya memiliki makna dan harapan baik, tapi juga mempunyai nilai estetis dan terdengar apik, sehingga seorang anak senang menyandangnya dan tak terpikir untuk mengubahnya ketika dia jadi dewasa dan mandiri.

Maka, untuk alasan estetis itulah saya utak-atik Kimiya al-Sa’adah itu semau saya menjadi Kaymiasada.

Anakku, semoga kamu menyukai namamu. Dan kamu akan menyebut namamu dengan senang, “Aku Kimya Kaymiasada.”

Kemang, 25 November 2011 (saat Kimya berusia 7 bulan dan 18 hari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s