“Ngeblog” adalah Merekam Jejak Diri


(Semacam Sekadar Sambutan Perayaan-Tanpa-Pesta Ulang Tahun Ketiga Warung Nalar 18 Maret 2011)

Semangat ngeblog adalah berbagi, dan itu membahagiakan. Yang lebih membahagiakan daripada itu tentu saja adalah jika ada orang yang memetik manfaat apa yang kita bagi, atau sekadar membubuhkan komentar berupa ucapan terima kasih telah berbagi. Beberapa teman Facebook pernah berkirim pesan, mereka meminta izin untuk menjadikan tulisan-tulisan di Warung Nalar sebagai bahan ceramah pengajian. Kebahagiaan-kebahagiaan semacam itulah yang mendorong saya serius menjadi bloger, dan tentu saja mesti lebih tekun menulis—selain dorongan utama menulis adalah untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan (menulis ibarat bercinta: ada kegelisahan yang ngganjel dan sulit surut jika tak disalurkan, katarsis—yang tak pernah menulis dan tak pernah bercinta tidak akan mengerti rasa menanggung gejolak hasrat melakukan keduanya serta rasa nikmat setelahnya).

Ngeblog adalah merekam jejak diri. Seseorang pernah mengatakan, jika ingin tahu apa yang terjadi pada suatu masa, lihatlah apa yang orang-orang masa itu tulis. Dalam konteks tulisan ini, pernyataan tersebut bisa dipersempit: jika ingin mengetahui kecenderungan seseorang, lihatlah apa yang dia tulis. (Seperti jenis koleksi buku-buku Anda: menunjukkan kecenderungan pemikiran dan tingkat daya pikir Anda. Lihat kembali buku-buku Anda. Mungkin Anda akan tersenyum melihat buku yang pernah Anda beli pada waktu yang sudah sangat lampau).

Warung Nalar adalah rekam jejak aktivitas menulis saya, mewakili kecenderungan saya, ekspresi hati dan pikiran saya. Ia memperlihatkan bahwa sudah banyak yang berubah dalam pola pikir dan gaya tulis saya, dalam isi dan narasi. Menengok dengan malu-malu catatan-catatan masa lalu, saya mendapati catatan-catatan yang perlu disunting (saking malunya, pernah tebersit catatan-catatan itu sekalian saja digunting). Tapi, saya urungkan itu untuk mengenang jika saya pernah menjadi penulis buruk dengan kecenderungan norak.

Terakhir, kelak, seseorang akan dikenal dan dikenang rekam jejaknya lewat tulisannya atau tulisan tentangnya saat ia telah kembali kepada Sang Pencipta. Begitulah kita mengenal dan mengenang orang-orang besar yang telah tiada. Pepatah Arab mengatakan: al-Khathth yabqâ zamân ba‘da shâhibih, wa kâtib al-khathth taht al-`ardh madfûn. Tulisan akan lestari bersama zaman, meski penulisnya telah terbaring dalam kuburan.

Dirgahayu Warung Nalar!

Juman Rofarif

6 thoughts on ““Ngeblog” adalah Merekam Jejak Diri

  1. Selamat ya udah 3 tahun berkarya di dunia blogger.. dan pastinya ada banyak manfaat yang udah orang banyak dapatkan dari sini. tetap menulis karena biarpun nanti kita udah gak ada lagi, tulisan kita mengabadi di google hehe..

    Like

  2. Saya belum bisa seperti mas Juman yg tekun ngeblog..mungkin karena saya malas posting barangkali ya lantaran tidak ada tulisan yang perlu diposting..Kasih semangat donk mas?he

    Like

  3. ngeblog itu menulis. dan seperti orang-orang bilang, menulis bermua dari membaca. dari membaca akan banyak yang bisa dibagi. semakin banyak yang dibaca, semakin banyak yang bisa dibagi.

    gitu aja sih. :D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s