Lalu Lahirlah Ilmu


Saya pandangi dengan bangga. Rak-rak itu telah tersusun sempurna, dan buku-buku baru saja tertata. Di sisi kanan adalah buku-buku berbahasa Arab, kebanyakan literatur ilmu keislaman pokok berisi teori-teori rumit. Di antara berjilid-jilid literatur itu, satu mushaf-Al-Quran kecil nyempil. Sebentar saya termenung, kemudian segera teringat kisah Umar ibn Khathab …

Pada suatu malam yang serius, seseorang mengetuk pintu rumah Umar. “Apakah Umar sudah tidur?” tanya orang itu kepada si pembuka pintu. Si pembuka pintu belum sempat menjawab ketika Umar menuju pintu dengan segera dan bertanya kepada orang itu, “Ada apa? Kau ingin mengabarkan kedatangan pasukan Ghassan?” 

“Aku ke sini bukan untuk itu. Ada yang lebih gawat!”

“Apa?”

“Nabi menceraikan istri-istrinya!”

Umar tercengang. Salah satu istri Nabi adalah putrinya, namanya Hafsah. Benarkah Nabi telah menceraikan putriku, pikir Umar. Umar melewati malam itu dengan gelisah. Pagi hari, ia segera menemui menantunya tersebut untuk memastikan kabar yang ia dengar. “Tidak benar,” jawab Nabi. “Aku tidak menceraikan mereka. Aku hanya bersumpah untuk berpisah ranjang dengan mereka selama sebulan.”

Para ulama mengakui, penggalan kisah Umar dalam Shahîh al-Bukhâri itu merupakan cikal-bakal lahirnya ilmu hadis, khazanah keilmuan-Islam yang paling rumit. Tapi, secara sangat sederhana bisa dijelaskan bahwa ia adalah ilmu untuk memastikan kebenaran suatu hadis bahwa ia memang pernah disabdakan Nabi. Saat Nabi masih hidup, seseorang mudah saja mengetahui kebenaran itu dengan memastikannya langsung kepada Nabi sendiri. Tidak ada kabar tentang (atau dari) Nabi pada masa itu kecuali dapat dipastikan benar-tidaknya, lalu orang-orang menyimpannya dalam ingatan. Sepeninggal Nabi, pada masa Khalifah Abu Bakar dan selanjutnya Khalifah Umar, hal-hal yang terkait Nabi masih bisa dijamin keautentikannya. Seseorang takkan meragukan jika ada orang mengatakan bahwa yang ia sampaikan dari Nabi. Periode ketika internal umat Islam masih solid, relatif sangat bersih, dan masih sangat dekat dengan masa hidup Nabi, memungkinkan kebohongan atas nama Nabi mudah diketahui.

Masalah muncul pada masa Khalifah Utsman, tepatnya setelah sahabat Nabi itu dibunuh orang-orang yang marah karena manipulasi, fitnah: seorang penunggang kuda bergelagat mencurigakan ditangkap dan digeledah delegasi Mesir dalam perjalanan kembali mereka dari Madinah setelah menyampaikan keluhan kepada Khalifah, dan ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Gubernur Mesir, bertanda tangan Khalifah, isinya: perintah penangkapan delegasi begitu mereka muncul di gerbang kota, dan segera dieksekusi jika mereka menunjukkan gelagat bersifat politis. Delegasi itu kembali menemui Khalifah, kali ini dengan geram dan dendam. Lalu, terjadilah apa yang telah terjadi. Usia Utsman mendekati delapan puluh kala itu.

Pembunuhan Utsman menjerumuskan Islam ke fase keruh. Benih-benih perpecahan umat mulai tumbuh. Keadaan berubah. Setelah fitnah berujung tragedi besar itu, orang-orang tak lagi mudah menerima apa pun terkait Nabi (hadis) kecuali setelah melihat kualifikasi orang yang menyampaikan. Jati diri si penyampai kini harus dicurigai lebih dulu untuk menilai apakah hadis yang ia riwayatkan bisa diterima atau sebaliknya. Moralitas dan perilaku keberagamaan seseorang menjadi pertimbangan utama. Sederhananya, tidak terlalu penting apa yang kausampaikan. Persoalannya: siapa kau.

Praktik itu selanjutnya menjadi penting. Dari generasi ke generasi, orang-orang melakukannya untuk menyaring hadis-hadis-Nabi yang bersih dari yang kotor. Poin penilaian pun dikembangkan. Selain si penyampai hadis mesti diuji kelayakannya, isi hadis harus diuji kebenarannya: apakah ia bertentangan dengan Al-Quran; apakah ia bertentangan dengan hadis lain yang telah dipastikan sahih. Sampai kemudian lebih dari tiga ratus tahun setelah peristiwa pembunuhan Utsman itu, ketika peradaban dan kebudayaan manusia semakin berkembang, praktik tersebut baru menjadi “ilmu”: diteorikan, ditulis, dibukukan, dan diajarkan.

Di rak sisi kanan tempat satu mushaf kecil nyempil itu tidak hanya tertata literatur ilmu hadis. Literatur ilmu keislaman pokok berisi teori-teori rumit lainnya ada tafsir dan ilmu tafsir, fikih dan ushul fikih serta kaidah-kaidah fikih, dan tata bahasa Arab. Barangkali keilmuan-keilmuan itu tak lahir dari inspirasi tragis sebagaimana ilmu hadis, tapi semua itu hadir untuk satu tujuan utama: memahami Kitab Suci dan sabda Nabi, Al-Quran dan  hadis, dua pusaka penting dalam Islam.

Sepeninggal Nabi sebagai orang yang paling memahami Al-Quran, sehabis sahabat sebagai orang yang paling memahami maksud Nabi, setelah Islam mengembara di segala penjuru dunia, berjalan dari masa ke masa, setelah semakin jauh ia berlalu dari hulu … tidak ada lagi otoritas mutlak untuk pemahaman final dan sebenarnya Al-Quran dan hadis. Kita, manusia abad ke-14 Hijriah, tidak bisa mendekati dan mencari pemahaman Al-Quran dan hadis semudah para sahabat melakukannya pada masa ketika penanggalan Hijriah belum tercipta: ketuk pintu rumah Nabi dan bertanya tentang ayat atau hadis yang masih samar. Jika Nabi juga tidak tahu, ia akan diam sampai Jibril datang membawa jawaban mutlak dan otoritatif dari Tuhan. Sedemikian mudah pada saat itu.

Sepeninggal Nabi, umat, kita, adalah generasi mandiri. Otoritas yang kita miliki untuk memahami Al-Quran dan hadis hanya literatur keilmuan buatan manusia-manusia genius, para ulama, para cendekiawan … tanpa sifat mutlak. Relatif. Namun, justru dengan yang relatif dan yang tak mutlak itu, Al-Quran dan hadis bisa lestari sepanjang zaman, selaras dengan semangatnya: saling isi, saling memahami.[]

Juman Rofarif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s