Menjadi Burung Bersayap Sempurna: Kisah Syaqiq al-Balkhi & Ibrahim ibn Adham


Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki orangtua yang juga pengusaha kaya.

Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan niaga. Di tengah perjalanan ia beristirahat di sebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang. Syaqiq seorang muslim yang taat. Dan tentu saja, bagi seorang muslim, berhala adalah benda mati yang tak patut dijadikan sesembahan.

“Kau memiliki Pencipta Yang Mahahidup, Mahatahu, Mahakuasa,” kata Syaqiq kepada penjaga itu, setelah melihatnya telah rapi. “Dialah yang seharusnya kausembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu.”

“Jika benar demikian,” kata si penjaga tempat ibadah itu, “jika benar Dia Mahakuasa, kenapa Dia tak berkuasa memberimu harta di daerahmu sendiri sehingga kau tak perlu jauh-jauh berniaga mencarinya di daerah orang? Kenapa pula kau capek-capek mencari harta jika Dia berkuasa memberikannya untukmu?”

Rupanya tanggapan yang tak terduga itu menghujam hati Syaqiq. Syaqiq terdiam, merenung. Ia kemudian memutuskan kembali ke daerahnya, urung melanjutkan perjalanan niaga. Ia berniat menjalani hidup zuhud, meninggalkan segala kemewahan, dan menghabiskan waktu untuk beribadah.

Keyakinan Syaqiq untuk menempuh hidup zuhud semakin teguh setelah mendapat pelajaran dari seekor burung. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang tak lagi sempurna kedua sayapnya, sendirian di atas tanah. Syaqiq bertanya dalam hati: bagaimana burung ini bisa bertahan hidup jika tidak punya sayap yang sempurna untuk terbang dan mencari makan? Tak lama kemudian datang seekor burung lain terbang merendah membawa makanan di paruhnya, mendekati burung bersayap tak sempurna itu, lalu menyuapinya.

“Hmmm … Begitutah?” kata Syaqiq dalam hati.

Suatu hari, Syaqiq berada di tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sampai kemudian Ibrahim ibn Adham mendatanginya. Sama seperti Syaqiq, Ibrahim juga berasal dari daerah Balakh—bagian dari wilayah Khurasan, bahkan ayah Ibrahim adalah penguasa Balakh. Sama seperti Syaqiq pula, Ibrahim adalah orang kaya yang kemudian memilih menjalani hidup zuhud.

“Kenapa kau memilih hidup seperti ini?” tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham.

“Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun tetap bisa mendapatkan makanan,” kata Syaqiq. “Dia yang memberi rezeki untuk burung dengan sayap tak sempurna itu adalah Dia pula yang akan memberikan rezekiku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribadah kepada Allah.”

“Syaqiq!” kata Ibrahim. “Kenapa kau memilih menjadi burung dengan sayap tak sempurna yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan?! Kenapa kau tak memilih menjadi burung dengan sayap sempurna sehingga mampu mencari rezeki sendiri dan bahkan membantu yang lain mendapatkan rezekinya?!”

Hati Syaqiq terhujam untuk kali yang kedua. Syaqiq segera meraih tangan Ibrahim. “Kau adalah guruku,” kata Syaqiq berkali-kali seraya menciumi tangan Ibrahim.[]

*Diolah dari al-Risâlah al-Qusyayriyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Abu Qasim al-Qusyairi dan Qashash min Siyar al-Musytâqqîn ilâ al-Jannah karya Muhammad ibn Hamid Abdul Wahhab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s