Aku Tak Seburuk Itu


Dalam Syarh al-Hikam karya Ibn Athaillah terdapat kalimat ini: Rubbamâ kunta musî’an, fa arâka al-ihsân minka shuhbatuka man huwa aswa` minka hâlan. Kalimat itu bisa dipahami begini: Bisa jadi kau bukan orang yang benar-benar baik. Kau tampak baik hanya karena kau berada di antara orang-orang yang lebih buruk dibanding dirimu.

Kita bisa mengambil pemaknaan terbalik dari kalimat itu: Bisa jadi kau bukan orang yang sama sekali buruk. Kau tampak buruk hanya karena kau berada di antara orang-orang yang jauh lebih baik dibanding dirimu.

Dikisahkan … Seseorang mengalami depresi berat. Ia merasa hidup sudah tidak menghargainya lagi. Dengan mantap, ia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri semua itu: bunuh diri dengan cara melompat dari puncak apartemennya.

Ia melompat dengan mata terbuka, seolah ingin menyambut kematian dengan gembira. Terjun bebas. Sampailah ia kemudian di lantai kesepuluh, tempat kamarnya berada, dunianya seolah berhenti. Ia lihat kamarnya sendiri dengan muram. Di sanalah ia mencurahkan segala perasaan tentang kehidupannya yang suram, tanpa seorang pun tahu. “Betapa buruknya aku,” hatinya yang frustrasi berkata.

Dunianya kembali bergerak. Ia melayang. Sampai kemudian di lantai kedelapan. Dunianya kembali berhenti. Ia menyaksikan pejabat negara yang sering ia lihat di televisi sedang berkencan dengan sesama jenis. Ia kaget melihat pejabat itu tak seperti yang ia duga. Kali ini hatinya menyangkal, “Aku tak seburuk itu.”

Dunianya kembali bergerak. Ia melayang. Sampai kemudian di lantai keenam. Dunianya kembali berhenti. Ia menyaksikan seorang personel grup band terkenal sedang menghirup sabu-sabu. “Aku tak seburuk itu,” gumamnya dalam hati.

Dunianya kembali bergerak. Ia melayang. Sampai kemudian di lantai keempat. Dunianya kembali berhenti. Ia menyaksikan keributan: seorang wanita sedang marah besar karena memergoki kekasihnya sedang bercinta dengan wanita lain. “Aku tak seburuk itu,” hatinya kembali bergumam.

Ada kesadaran yang merasuki pikirannya setelah itu. Jika saja bisa, ia ingin sekali memutar waktu. Tapi terlambat. Ia tertarik dengan kuat oleh gravitasi bumi. Melewati lantai ketiga, kedua, sampai kemudian tubuhnya menubruk halaman apartemen.

Peristiwa itu menggemparkan para penghuni apartemen. Mereka turun dan keluar untuk mengerumuni tubuh yang terempas. Di antara mereka adalah pejabat negara yang tadi berkencan dengan sesama jenis, personel grup band terkenal yang tadi menghirup sabu-sabu, dan tiga orang yang tadi cek-cok. Suara-suara terdengar mengomentari peristiwa dan tubuh itu.

“Orang yang malang. Semoga aku tak seburuk itu,” begitu di antara suara-suara itu.[]

One thought on “Aku Tak Seburuk Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s