Antologi Status [8]


Status-status pilihan yang ditulis pada rentang 6 Desember 2009 – 15 Februari 2009.


Kau pergi dari kekasihmu untuk sementara waktu. Satu hal kau tinggalkan dan satu hal lain kau bawa, untuk kekasihmu. Masing-masing adalah ciuman dan kepercayaan. [06 Desember 2009/00:40 WIB]

Matahari telah berkandang, memberi kesempatan pada kelam bertandang menghiasi hamparan langit malam yang … tak sunyi dan tak tenang. Ah, waktu yang tak pernah mengalah pada rindu. [10 Desember 2009/17:44 WIB]

Memungut satu-satu rindu yang terserak di antara detak-detak detik waktu. Kukumpulkan dan kujalin melingkar tasbih. Lalu, pada pertemuan nanti saat tahun menguliti dirinya, akan kukalungkan di lehermu yang sinar mentari dan cahaya bulan pun tak pernah menyentuhnya. [14 Desember 2009/17:15 WIB]

Zuhud bukan berarti diri yang tak mempunyai apa pun, melainkan diri yang tak dalam kepunyaan apa pun. Diri yang merdeka. [15 Desember 2009/16:54 WIB]

Matahari telah berlalu. Menapak jejak di rentang hari. Menghangatkan yang dingin. Mengeringkan yang basah. Meneduhkan yang gerah. Menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang malam. Seperti doa Ibrahim yang abadi di Kitab Suci: “Tuhan! Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi sepeninggalku. Jadikanlah aku pewaris surga!” [17 Desember 2009/18:34 WIB]

Dan penumpang itu bernama manusia. Menaiki bahtera bernama bumi. Mengitari matahari. Dan, bersama masa, bahtera semakin renta. Dibuanglah ke laut segala bawaan yang memberatkan. Karena bahtera harus tetap berlayar tanpa jeda. Sampai pada suatu ketika, penumpang meninggal dunia. Tak ada yang tersisa dari dirinya selain segala bawaan yang telah musnah di pusaran masa. [18 Desember 2009 10:59 WIB]

Di kota ini tak ada embun yang sempat pamit pada cahaya mentari paling pagi. Telah raib sebelum pernah ada. Di kota ini, cahaya mentari menyapa dengan senyum hambar dedaunan lusuh bertitik debu-debu. [21 Desember 2009 08:42 WIB]

Pengetahuan bisa ada di Kitab Suci. Namun, kebijaksanaan tetap dari hati. [26 Desember 2009/21:46 WIB]

Tanah di halaman tampak lembab. Sisa-sisa gerimis lembut dan tak panjang, semalam. Tak segera hilang, tertahan kebekuan. Juga mencipta embun-embun, yang diam di muka dedaunan, menggantung di pucuk-pucuk. Di sini, begitulah embun tercipta … Siang menampakkan semuanya, meski ia sendiri tak pernah tampak. [28 Desember 2009/06:19 WIB]

Pemuji dan pencaci sama saja: sama-sama budak. Hanya saja yang pertama diperbudak cinta, dan yang kedua diperbudak kebencian. [03 Januari 2010/10:01 WIB]

Hanya kepercayaan dan kenyamanan, seseorang memiliki alasan untuk bertahan. [08 Januari 2010/15:49 WIB]

Tiba tiba sendu menyekap rindu dan mencampakkannya sendiri di sepojok ruang sepi, mengadu dan merayu satu-satunya hati yang kumiliki. “Izinkan aku bermalam di rumahmu. Pinjami aku airmata, semalam saja.” [13 Januari 2010/20:09 WIB]

Tak ada harapan yang lebih menyenangkan kekasihmu saat ia mengatakan kepadamu: “Aku menyayangimu”, selain pelukan dan kecupan di kening, lalu kau mengatakan: “Aku percaya.” [15 Januari 2010/11:50 WIB]

Kitab Suci itu seumpama purnama cerah tepat di tengah bulan hijriah: ada yang terpesona dengan rupa purnama yang bulat sempurna, mengawang di angkasa terang; ada yang hatinya bersyukur dan melambungkan puji karena cahaya purnama menerangi langkah kaki, menunjuki mata memindai kerikil, lubang-lubang jalan, dan jejak-jejak hewan yang meneletekkan tahi pada perjalanan pagi. [18 Januari 2010/15:25 WIB]

Pernakah kau mendapati dalam sembunyi-sembunyi kekasihmu berdoa di kesendirian, “Tuhan! Aku menyayanginya. Jadikanlah aku kekasih setia baginya.” Jika pernah, kau pantas terharu. Kekasihmu berusaha mencintaimu dengan segenap hati, tanpa memintamu tahu ketulusan hatinya. Atau, mungkin kau adalah kekasih di kesendirian itu. Maka, betapa mungkin kekasihmu pernah terharu tanpa kautahu. [20 Januari 2010/17:37 WIB]

Semangatmu yang menjulang ke angkasa itu imbangilah dengan pengetahuan yang menghujam dalam di dasar bumi. Jangan punya semangat kobaran api, tapi pengetahuanmu sekadar nyala lilin. [25 Januari 2010/18:33 WIB]

Tahukah kau, Kekasihku, sering kuciumi sms yang sebelum kukirim untukmu seperti juga sering kucimui sms yang kuterima darimu. Bukan pada benda mati bernama hape dan kata-kata aku mencium, melainkan pada jiwa yang membuat benda mati bernama hape serta kata-kata itu seolah hidup. Rindu ini benar-benar membuat gila! Gila! 26 Januari 2010/13:24 WIB]

Jangan kaubuat rindu ini membusuk sebelum sempat aku menemuimu, seperti jangan kaubiarkan mawar merah merekah dan mempesona itu layu di tangkainya sebelum sempat kaupetik. Kekasihku! Marilah kita bertemu, saling menautkan jiwa, saling memetik rindu. [29 Januari 2010 11:56 WIB]

Suatu ketika, Rupiah meninggal dunia. Dikubur. Dan, sesuai prosedur, ia mendapat pertanyaan dari malaikat: apa agamamu. “Ah, Anda becanda, Tuan Malaikat, ” jawab Rupiah. “Begini saja … Tak lama lagi akan ada dari orang-orang itu yang meninggal dunia. Nanti, cobalah kautanya dia: apa agamanya.” [02 Februari 2010/21:49 WIB]

Terkadang aku merasa rendah diri menjadi kekasihmu. Aku seperti jadi tahu diri, sesungguhnya aku tak sebaik atau bahkan jauh tak lebih baik daripada dirimu. Namun, bagaimana aku akan sadar dengan ketidakbaikanku, lalu berusaha berubah menjadi sosok baik, jika aku tak menjadi kekasih dari orang yang lebih baik daripada diriku, seperti dirimu, Kekasihku?! [04 Februari 2010/00:36 WIB]

Dan, pada akhirnya, setiap kita memang sebaiknya membuka diri untuk mengetahui beragam peristiwa dan cerita, dari yang paling manis sampai yang paling bengis, dari yang paling bahagia sampai yang paling nista. Sebab, hal seperti itulah yang memberi hati dan pikiran kita sudut pandang yang bijaksana. [09 Februari 2010/21:19 WIB]

Setiap kita adalah purnama yang benderang: selalu menyimpan sisi gelap yang remang. [15 Februari 2010/17:22 WIB]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s