Ijazah


Aku hanya selembar kertas yang murung. Namaku Ijazah. Lihatlah kalimat pertama aku memulai cerita … Muram. “Hanya” dan “murung”, menandakan jika aku adalah sosok tak dianggap, berada di sudut yang siapa pun sepertinya tak sudi sekadar memikirkannya. Tentu saja itu memprihatinkan, jika melihat mulanya aku adalah kertas yang dipersiapkan untuk berfungsi, dan bagi sementara manusia, sosok semacam aku bisa menaikkan gengsi. Terkadang, dalam kesendirian yang menyedihkan, aku sering menangis: kenapa aku harus menjadi milik orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku seperti dia?! Kenapa aku tak menjadi milik si fulan yang sering membawa ijazahnya ke mana-mana, ke setiap tempat yang ia tahu membuka lowongan pekerjaan?! Meski lamaran si fulan sering ditolak, ijazah miliknya pasti tetap merasa bangga karena paling tidak ia masih dianggap ada dan difungsikan semestinya. Aku dapat merasakan itu.

Ya, begitulah nasibku saat ini. Padahal, dulu, bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, aku adalah sosok idaman, menjadi tujuan dan kebanggaan. Sosok seperti akulah bukti intelektualitas di atas kertas, bahwa di kelas, orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu telah bekerja keras.

Pernah suatu ketika aku tersanjung saat seseorang yang menjadi teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku menawari agar orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah kantor. Wah! Bangganya aku. Aku, maksudku, salinanku, aku yang hanya saja tak sejati namun setara dalam fungsi, bakal berguna sebagaimana mestinya. Aku, beserta beberapa lembar kertas lain, dimasukan ke dalam amplop coklat yang hangat. Setelah melewati kantor jasa pengiriman, aku akan sampai ke kantor yang dituju, lalu diterima oleh seorang menejer yang lalu dengan saksama mengamati angka-angka yang tertera di atasku. Angka-angka itu jika diterjemahkan dalam dua kata maka akan terbaca: Amat Baik. Menejer itu akan mengulum senyum kagum. Dan, tentu saja tak sedang terkagum-kagum kepadaku, tapi kepada orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. Namun, aku tak merasa kecewa dengan itu. Takdirku memang sebatas wakil bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, dan teman yang mengantarkannya meraih cita-cita. Begitulah aku meraih kebanggaanku.

“Tapi aku belum mendapatkan ijazahku,” kata orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku kepada temannya itu. Saat orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku berkata demikian, aku sangat berharap temannya akan menanggapi begini: “O, ya … Sebaiknya kau dapatkan ijazahmu dulu, secepatnya.” Aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Sejak keluar dari percetakan aku sangat ingin menjadi kebanggaan, tanpa harus berlama-lama di penampungan semacam sini.

“Tak masalah. Sekarang kau hanya perlu mengirim CV-mu,” kata teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. “Aku tak akan merekomendasikan kecuali orang yang kutahu keahliannya. Kirim saja CV-mu. Tak apa tanpa ijazahmu.”

Dapat kubayangkan kebahagiaan yang merasuk dalam diri orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku: satu peluang kerja di depan matanya sedang tersenyum menggoda, dan bisa didapatkan tanpa sedikit pun keterlibatanku. Jika benar-benar terjadi maka itu adalah tragedi besar hidupku. Ah, entah. Aku tak mengerti, kenapa orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu menganggap aku sebagai beban, sejak beberapa hari setelah pesta bahagia, resmi, dan prosedural Sabtu itu, yang dalam rentang empat tahun sebelumnya aku adalah tujuan. Setiap perjalanan-empat-tahun adalah aku yang menjadi tujuan. Di aku, perjalanan-empat-tahun berhenti melangkah. Tetapi, apa yang terjadi antara aku dan orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku adalah ironi yang suram yang membuat aku merasa martabat dan derajatku dekaden.

Setarikan napas panjang mengeluh …

Bulan ini adalah tepat satu tahun kurang sebulan sejak tragedi besar itu, dan tepat tiga tahun kurang empat bulan sejak pesta Sabtu itu. Aku masih hanya selembar kertas yang murung … dan masih di sini, di penampungan pengap ini. Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri saat ini adalah bahwa aku masih bernama Ijazah.[jr]

27.03.10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s