Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan


Di bawah langit, Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan berkumpul dalam satu meja, menikmati hidangan yang tersedia seraya berbincang-bincang tentang kehidupan yang menapaki masing-masing.

Masa Lalu tampak bersemangat. Ia menceritakan pelbagai peristiwa penting dan sosok-sosok besar yang tercatat dalam sejarah. Membanggakan pencapaian-pencapaian mereka, kemegahan istana-istana mereka, kegagahan mereka dalam pertempuran, serta bermacam kenikmatan hidup yang menaungi mereka.

“Aku,” kata si Masa Lalu, “jadi tak terlalu puas ada pada masa kini, masa sekarang ini. Aku merasa lebih baik kembali pada masaku saja.”

Masa Depan tampak menggerakan kepala sampai kemudian menengadah. Di antara mata dan langit yang ia tatap hanya ada kekosongan. Sesekali saja awan tipis melintas terlihat malas, dan angin yang berembus tanpa wujud.

“Aku melihat kemuliaan, kekayaan, dan keberhasilan sedang berjalan dengan pasti menujuku,” kata si Masa Depan.

Katanya, lagi, “Aku melihat mimpi-mimpi yang akan menjelma nyata. Kehidupan yang makmur dan mudah sedang melangkah ke arahku.”

Masa Kini segera menyela begitu Masa Depan terlihat usai berbicara. Nada bicaranya terdengar mantap.

“Aku takkan menangisi masa yang telah berlalu. Juga takkan pernah menghabiskan setiap jengkal waktu sekadar untuk bermimpi …

“Kejayaan yang pernah ada pada masa lalu selesai sudah. Dan, kemakmuran yang diharapkan belum pula nyata.

“Ada pun hari ini adalah miliku. Nyata dalam genggaman tanganku. Siapa yang mampu menggenggam dan mengendalikan hari ini, masa sekarang kini, ia berarti telah mampu melewati masa yang telah berlalu. Juga, pada hakikatnya sedang mengarahkan diri ke masa depan.

“Rahasia keberhasilan adalah saat jantungmu tak berdetak sia-sia pada setiap jengkal detik waktu masa kini.”

Semua terdiam. Awan tipis lain tampak melintas. Masih malas. Angin lain juga berembus. Masih tanpa wujud.[]

Dari tulisan lima paragraf versi berbahasa Arab di halaman 137 berjudul al-Madhi wa al-Hadhir, wa al-Mustaqbal dalam buku Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azraq. Diterjemahkan–dengan sedikit penambahan suasana–oleh Juman Rofarif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s