Islam di Amerika; Catatan Perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal


Judul: Islam di Amerika
Penulis: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Penerbit: Pustaka Darus-Sunnah
Tebal: 306 Halaman
Terbit: I, Desember 2009
—————————————————–

Sesuatu terpenting apa yang akan Anda bawa jika melakukan perjalanan? Kamera atau camcorder mungkin saja penting. Tapi, menurut saya, sebaiknya laptop atau paling tidak buku catatan. Dokumentasi berupa catatan—tentunya tak semua catatan—lebih memungkinkan kita untuk berbagi kepada banyak orang. Itulah yang dilakukan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub. Perjalanannya selama kurang lebih tiga bulan di Amerika Serikat dan Kanada pada 2008 ia tuliskan dalam buku yang diberi judul Islam di Amerika.

Banyak yang dicatat oleh Imam Besar Masjid Istiqlal itu. Namun, sebagian besar adalah tentang masjid, Islamic Centre, dan komunitas Islam. Seperti tentang masjid bernama King Fahd di Los Angeles. Sesuai namanya, masjid itu dibangun atas biaya dari Raja Fahd pada 1998. Setelah peristiwa “Sebelas September”, masjid tersebut menjadi sasaran pengerusakan. Namun, ia tetap aman berkat penjagaan para pemuda muslim, bekerja sama dengan para pemuda gereja yang lokasinya tidak jauh dari masjid tersebut. Setiap hari, masjid itu tak lepas dari pengawasan para pemuda itu.

Dalam catatan lain, Guru Besar Ilmu Hadis di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta itu menuturkan, setelah tragedi “Sebelas September”, ratusan ribu orang Islam meninggalkan Amerika dan memasuki Kanada. Mereka adalah kaum intelektual. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh pemerintah Kanada. Mereka mendapatkan tempat tinggal. Dan, selama belum mendapatkan pekerjaan, mereka disubsidi oleh pemerintah Kanada. Di sana, orang-orang Islam begitu dihormati.

Pada mulanya, perjalanan tiga bulan di Amerika dan Kanada itu atas permintaan seseorang dari Cibubur yang pernah mengundang penulis buku ini untuk berceramah di tempat orang itu bekerja, atas kerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) wilayah Amerika Utara. Awalnya, sesuai dengan rencana ICMI, sembilan kota akan dikunjungi, namun, pada kenyataannya membengkak menjadi lima belas kota: tiga belas di Amerika dan dua di Kanada, yaitu Washington DC, Philadelphia, New York, West Palm Beach, Miami, Oklahoma, Arkansas, Los Angeles, Chicago, San Francisco, Sacramento, Houston, Sugar Land, Toronto, dan Ottawa, dengan kurang dari empat puluh masjid dan atau Islamic Center yang dikunjungi. Di kota-kota itu, Kiai Ali menemui komunitas-komunitas Islam untuk berceramah, berdialog, dan berdiskusi.

Dalam pengamatan Kiai Ali, etnis-etnis yang mewarnai masjid-masjid di Amerika dan Kanada dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok. Pertama, etnis-etnis dari anak Benua India, yaitu Pakistan, Afghanistan, Uzbekistan, India, Bangladesh, Srilangka, dan lain-lain. Kedua, etnis dari negara-negara Arab (Timur Tengah). Dan ketiga, etnis-etnis dari Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan lain-lain.

Dari ketiga kategori itu, etnis-etnis dari anak Benua India, khususnya Pakistan, adalah yang dominan. Dan, sebab Mazhab Fikih yang dianut kaum muslim Pakistan dan India didominasi oleh Mazhab Hanafi, maka, wajar, bila Mazhab Fikih di Amerika pun didominasi oleh Mazhab Hanafi.

Berbagai hal menarik ditemui Kiai Ali dalam kunjungannya ke berbagai masjid di Amerika. Tidak seperti di Indonesia, tak sedikit masjid-masjid di Amerika adalah pengalih-fungsi. Tak jarang bangunan masjid yang semula adalah gereja, seperti Masjid al-Anshar di Miami Florida yang dikelola oleh orang-orang muslim berkulit hitam. Atau, Masjid al-Tauhid di San Francisco yang dikelola oleh orang-orang Islam asal Yaman. Juga Masjid Fiji, masih di San Francisco. Seperti namanya, masjid itu dikelola oleh orang-orang Fiji keturunan India.

Sedangkan di Ottawa, sebuah masjid bernama al-Salam pada awalnya adalah tempat diskotik milik orang Yahudi. Diskotik itu ditutup oleh pemerintah setempat sebab sering terjadi aksi kriminalitas, kemudian dibeli oleh orang Islam asal Somalia pada 2005.

Perkembangan Islam di Amerika menemukan momentumnya pada peristiwa “Sebelas September”. Dari seorang Indonesia asal Sumatera Utara yang menetap di New York sejak 1970, Kiai Ali mencatat, sebelum peristiwa “Sebelas September”, di New York City ada dua puluh lima masjid. Jumlah itu meningkat menjadi tujuh puluh masjid setelah peristiwa tersebut. Kita tahu, setelah peristiwa “Sebelas September”, Islam dihujat habis-habisan. Namun, hal itu justru semakin membuat orang-orang Amerika penasaran terhadap Islam, lalu tertarik untuk mengenal profil Islam. Saat ini, orang Islam di New York berjumlah sekitar satu juta dari sembilan juta jumlah penduduk New York.

Perjalanan Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Jakarta ini ke Amerika dan Kanada bukanlah perjalanan wisata. Perjalanan tiga bulan itu—termasuk di dalamnya adalah Ramadhan—merupakan perjalanan dakwah. Maka, selain berisi catatan perjalanan, buku ini juga melampirkan tema-tema ceramah yang disampaikan dalam perjalanan dakwah itu. Tema-tema itu berpokok pada sosok Nabi Muhammad.

Membaca buku ini, saya teringat pada sepenggal kalam ilahi dalam Kitab Suci,Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi (Yûnus: 101). Apa yang diperhatikan? Apa saja yang membuat mata batin tecerahkan dan meluaskan wawasan pikiran, lalu dapat kita bagikan.[]

islam di amerika

One thought on “Islam di Amerika; Catatan Perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s