Antologi Status [7]


Niscaya. Ada yang hilang, ada yang datang. Yang hilang, memberi hikmah. Yang datang, membawa berkah. Semoga. [6 November 2009/ 07:58 WIB]

Lakukanlah sesuatu yang mampu dikerjakan menurut ukuran diri sendiri, bukan berdasar ukuran orang lain. Sebab, jika orang itu di atas maka kita cenderung akan memaksakan diri. Jika orang itu di bawah maka kita cenderung akan membanggakan diri. [6 November 2009/13:54 WIB]

Seperti semangat berapi-api, sementara sekadar nyala lilin pengetahuan yang dimiliki. [7 November 2009/18:19 WIB]

Aku adalah air mata. Menitik pada suka dan duka hatimu. [7 November 2009/23:20 WIB]

“Menurut Anda, apa yang disebut suami, istri, rumah tangga?”
“Suami adalah lelaki penyempurna perempuan. Istri adalah perempuan penyempurna lelaki. Rumah tangga adalah tempat membangun kesempurnaan.”
“Maaf. Jawaban Anda terlalu umum. Lebih jelas lagi.”
“Baik. Jelasnya, suami adalah saya. Istri adalah anak Bapak. Rumah tangga adalah saya dan anak Bapak menikah.”
“Oke. Lamaran Anda diterima.” [8 November 2009/08:56 WIB]

Seperti untuk diriku, akan kulihat cara pergimu, [atau] sebagaimana akan kulihat sikapmu jika aku pergi. Ketulusan atau kepura-puraan akan jelas terlihat di akhir. [8 November 2009/15:16WIB]

Jujur, aku terpesona oleh wajahmu yang ayu. Sungguh! Foto-foto yang kau unggah di fesbuk membuat mataku tak berkedip dan hatiku dag-dig-dug. Namun, semua itu buyar setiap kali aku membaca statusmu yang tak pernah kau perbaharui itu. Wahai Kau Yang Ayu! Aku benci membaca statusmu: MENIKAH. [11 November 2009/08:03 WIB]

Jadilah pengatur waktu. Atau Anda yang akan diatur oleh waktu sehingga untuk diri sendiri Anda tak punya waktu. [12 November 2009/08:18 WIB]

Jadi, begini, Tuhan … Hampir setiap orang setuju, Engkau memberi apa yang dibutuhkan manusia, bukan memberi apa yang dimaui mereka. Sebab, Engkau lebih tahu kebutuhan terbaik mereka. Nah, berhubung aku tidak pernah tahu kebutuhan-terbaikku menurut-Mu, aku meminta agar Engkau berkenan mengabulkan kebutuhan terbaik menurutku saja. Jika tidak, ya, tak soal. Kuasa hanya ada pada-Mu. Amin. [12 November 2009/20:24 WIB]

Seperti mendung bergelayut di langit berhasrat turunkan sejuk hujan, rindu ini ingin segera kutumpahkan padamu. [13 November 2009/14:17 WIB]

Petunjuk istikharah datang di hati, bukan di mimpi. Aku akan terus maju mengayunkan langkah selama hatiku yakin dan tenang, meski dalam mimpi engkau tak pernah datang. Kuistikharahkan hatiku setiap waktu, untukmu. [13 November 2009/16:27 WIB]

Dua kaki sudah kumiliki. Aku hanya perlu arah untuk melangkah. Beri aku petunjuk, Tuhan. [14 November 2009/21:08 WIB]

“O, jadi ini yang punya nama fesbuk “Ayu Manis” itu. Apa kabar?”
“He-he-he … Iya, itu aku. Dan aku baik-baik aja.”
“Hmmm … Aku kira kamu seayu dan semanis namamu dan foto-fotomu di fesbuk. Ternya …”
“Ternyata aku tak manis dan tak ayu?!”
“Ya! Dan aku tertipu!”
“O, maaf.”
“Selain minta maaf, kamu juga harus mengubah namamu. Sebab, ternyata kamu tak hanya ayu dan manis, tapi sangat ayu dan manis sekali.” [16 November 2009/09:10 WIB]

Setulus kurma yang tak pernah menebar cerita rasa manisnya di udara. Seteguh parfum yang selalu menebar cerita wewangian meski yang ada dalam dirinya hanya pahit. [17 November 2009/15:33 WIB]

Hatiku tahu bahwa hatimu tahu tentang hatiku sebagaimana hatimu tahu bahwa hatiku tahu tentang hatimu bahwa hatiku dan hatimu telah menjadi kekasih … secara de facto. *Aku akan menjelma awan. Hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu pada suatu hari baik nanti*, lalu aku dan engkau akan menjadi kekasih … secara de jure. [17 November 2009/19:03 WIB]

Tahukah Anda tentang sebuah sisi lain, kenapa wahyu-wahyu penuntas rindu Muhammad selalu Tuhan sampaikan melalui Jibril atau lewat sasmita-sasmita alam? Ternyata, salam kangen, salam manis, atau salam romantika lainnya, akan lebih membahagiakan kekasih jika tak disampaikan secara langsung, tapi melalui pihak-pihak tepercaya. Seolah-olah alam ikut menyaksikan dan mengakui kisah kasih sepasang kekasih. [20 November 2009/08:09 WIB]

Air mengalir dari hulu ke hilir tanpa alasan. Sebab itulah air di hilir tak pernah punya alasan untuk kembali ke hulu. Aku akan mencintaimu seperti air mencintai hilir. [20 November 2009/00:03 WIB]

Kukumpulkan awan-awan kerinduan yang terserak di hati. Pada saat yang tepat, akan kujelma menjadi hujan pertemuan yang menyejukan. [20 November 2009/17:02 WIB]

Kekasihmu meneleponmu sepuluh kali per hari? Mengirim pesan-pendek setiap jam? Ah, kau mungkin senang. Kekasihmu penuh perhatian. Setiap waktunya hanya untukmu. Itu mungkin saja. Sebab, bisa jadi, ia lakukan itu karena sesungguhnya kekasihmu memiliki kepercayaan yang rapuh padamu. [22 November 2009/11:19 WIB]

“Neng!”
“Ya, Mas.”
“Jerawat kamu kok tidak segera hilang, sih?
“Iya. Bikin wajahku tak mulus, ya, Mas. Tapi, ini sudah kering, Mas.”
Iya. Selain bikin wajahmu tak mulus, jerawat itu bikin aku iri.”
“Iri bagimana, Mas?! Aneh. Jerawat, kok, membuatmu iri.”
“Jelas, aku iri. Memangnya aku tak mau, menempel terus di wajahmu, selalu dekat denganmu setiap waktu, dan sekali-sekali kamu usap-usap?!”
[22 November 2009/16:26 WIB]

Cinta bukanlah aku memandangmu dan engkau memandangku. Bukan! Cinta adalah engkau dan aku menyamakan pandangan pada satu titik. [24 November 2009/20:15 WIB]

Jika kutitip rindu pada air, pastilah ia membeku. Jika kutitip rindu pada angin, pastilah ia berhenti melaju. Jika kutitip rindu pada api, pastilah ia layu. Tidak! Tidak! Biar rindu ini kusimpan sendiri di kalbu. Biar kalbu ini bersimbah sendu. [25 November 2009/17:04]

Jika kekasihmu bertanya padamu “Apakah kau menyayangiku?”, itu tak selalu berarti ia meragukan kasih sayangmu. Ia bertanya seperti itu semata karena kata-kata “Aku menyanyangimu!” sungguh sangat luar biasa membahagiakan. [26 November 2009/14:45 WIB]

Saya pikir, istilah “DUDA” atau “JANDA” tak buruk jika diubah dengan “LAJANG SESI 2”. [27 November 2009/16:14 WIB]

Kebahagiaan lebih banyak didapat justru dari hal-hal yang tak penting. Jadi, jangan anggap tidak penting hal-hal yang tak penting. [28 November 2009/08:22 WIB]

Matahari Senin pagi ini begitu cemerlang. Lalu, aku dan dia pun bertaruh: siapakah yang sinar semangatnya lebih dulu redup? [30 November 2009/09:36]

Apakah kau akan mencintaiku pada musim hujan dengan sebesar cinta yang kauberi pada musim semi? Apakah kau akan tetap menciumku saat uban telah merimbun? Saat semua itu, apakah kau akan mengatakan, “Aku mencintaimu pada bulan Desember dengan sebesar cinta yang kuberi untukmu pada bulan Mei”? [01 Desember 2009/08:55 WIB]

Barangkali, tak sedikit yang mampu menyuguhkanmu kesempurnaan. Dan, jelas, aku tak termasuk dalam yang tak-sedikit itu. Sebab, setengah kesempurnaanku ada padamu. Bersamamu, aku justru hendak membangun kesempurnaan. [03 Desember 2009/21:23]

Jika tak pernah menangis, kau takkan mengerti arti tawa. Jika tak pernah merana, kau takkan mengerti arti bahagia. Jika tak pernah gelisah, kau takkan mengerti arti tenang. Jika tak pernah gagal, kau takkan mengerti arti berhasil. Jika tak pernah takut, kau takkan mengerti arti berani. Jika tak pernah salah, kau takkan merasakan nikmat mencoba … Jika tak pernah ragu, berarti kau tak pernah berpikir. [04 Desember 2009/11:26 WIB]

“Kasih!”
“Ya!”
“Kau tahu kenapa aku mencintaimu?”
“Kenapa?”
“Karena kau lelaki yang begitu mencintai Tuhanmu.”
“Benarkah?”
“Ya!”
“O, aku terharu. Terima kasih, Sayang. Dan, kau tahu, kenapa aku mencintaimu?”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap aku bercinta dengan Tuhanku, Ia selalu membisik hatiku jika Ia begitu mencintaimu.”
[04 Desember 2009/17:02 WIB]

Hujan mempercepat kelam. Hari berkandang tanpa sempat pamit pada senja …. Dan, rindu ini seperti buta waktu. [05 Desember 2009/15:52 WIB]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s