Antologi Status [6] dan Serial Status Spesial Miyabi


Status-status pilihan yang ditulis dalam rentang 21 Oktober – 2 November 2009
—————————————————————————————————–

Yang kupercaya adalah kata. Telah dan akan kutitipkan diriku padanya. Darinya, engkau membaca diriku, dan aku tak peduli, jika kemudian engkau mendustakan. Tapi, aku ingin mengatakan, kata seringkali mendahului laku. [21 Oktober 2009/11:35 WIB]

Tidak ada yang lebih menyebalkan dan membosankan bagi sesosok Iblis daripada menunggui tidur seorang pendosa, sehingga ia menggerutu kesal, “Sial! Kapan orang ini bangun?! Aku tak sabar mengajaknya bernista-nista ria.” [21 Oktober 2009/15:25 WIB]

Biarkan pikiranmu mengembara. Biarkan jiwamu berkelana. Tak tahukah kau, setitik tahi menitik di air menggenang, mencemari. Seonggok sampah terjatuh di sungai, hanyut bersama aliran. [22 Oktober 2009/06:10 WIB]

Kekasih, kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri?! Di sisimu, aku menangis takut kehilanganmu. Jauh darimu, aku menangis merindukanmu. Kapan kauberi mataku waktu menenangkan diri, Kekasih?! [22 Oktober 2009/17:59 WIB]

Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air, mengalir berakhir di hilir, lalu ke laut. Bukan udara, bukan api, bukan tanah. Untukmu yang meyakini tentang tujuan: ikutilah jejak langkah air. Sebab, melawan arus untuk kembali ke hulu adalah kembali kepada ketiadaan. [23 Oktober 2009/16:33 WIB]

Sekobaran api yang padam, ke mana cahayanya menghilang? [25 Oktober 2009/20:35 WIB]

PERHATIAN: Status gombal jauh lebih menarik daripada status gembel. Lagi pula, menggombal tak mengakibatkan rambut gimbal. [26 Oktober 2009/10:40 WIB]

Iblis hanya membenci ayah kita, Ayah Adam. Sedangkan denganku, denganmu, dengan seluruh anak-cucunya, sungguh, Iblis benar-benar ingin berteman. [26 Oktober 2009/14:21 WIB]

Akulah jiwamu. Sangat dekat. Melebihi segala yang dekat. Kenapa engkau merindu?! [26 Oktober 2009/16:43 WIB]

Senja hari ini telah berlalu. Senja esok belum tentu melaju. Yang ada hanyalah malam, kini. Peluklah kelamnya, jangan kaulepaskan. Melepaskannya, kau menyudutkan diri dalam ketiadaan. [26 Oktober 2009/18:38 WIB]

Karena cantikmu tak abadi, semata kepada rasa maka kata-kataku mengabdi. Kecantikan datang dan pergi, kata-kataku tak pernah mati. [26 Oktober 2009/23:16 WIB]

Untukmu yang mengabdi kepada rasa: nalarmu adalah tongkat pemandu bagi mata-rasamu yang buta. Kepadamu yang berpegang pada nalar: rasamu adalah bunga-bunga indah penghias jalan setapak nalarmu yang berbatu. [27 Oktober 2009/06:06 WIB]

Tidak ada wanita yang tak ingin disayangi, seperti tidak ada pria yang tak ingin dihormati. Dengan menyayangi, seorang pria menunjukkan rasa hormat kepada wanita. Dengan menghormati, seorang wanita menunjukkan rasa sayang kepada pria. Adalah kesempurnaan, pria dan wanita menyatu. [28 Oktober 2009/22:35 WIB]

Jika merindu ini untuk wajahmu yang ayu, aku sangat paham, kelak ia layu. Bila merindu ini untuk wajahmu yang manis, aku sangat mengerti, kelak ia terkikis habis. Jika merindu ini untuk hatimu yang sedang merindu, o, Tuhan, tolong kait-pautkan rinduku dan rindunya, seperti telah Engkau kait-pautkan kelam dan malam. [28 Oktober 2009/19:09 WIB]

Keberuntungan dapat keluar dari beragam pintu. Tapi, cukup satu pintu kauketuk untuk mendapat kebahagiaan: hatimu! [29 Oktober 2009/06:02 WIB]

Jika kau dan aku berdua, setan akan menjadi yang ketiga. Diamkan dan jangan hiraukan. Biarkan saja ia cemburu melihat kita bercumbu memadu cinta, Kasih. [29 Oktober 2009/15:33 WIB]

Semata Tuhan yang pantas kurindui rasa, karena Ia tak elok mewujud dalam rupa. Tapi, engkau bukan Tuhan Yang Sempurna. Engkau manusia biasa. Tak hanya rindu rasa, maka, kepadamu aku rindu rupa. [30 Oktober 2009/11:34 WIB]

Soal rindu, betapa kepadamu aku adalah pemurah hati. Tuhan hanya kuberi satu rindu: rindu rasa. Sementara engkau kuberi dua: rindu rasa, rindu rupa. [30 Oktober 2009/19:00 WIB]

Ingatlah, Kekasih! Terik yang menyengat kulit dalam perjalanan siang ini berasal dari matahari yang sama, yang setiap pagi memberimu cahaya kehangatan. [01 November 2009/13:57 WIB]

Kasih sayang Tuhan itu serupa binar bulan berparas purnama … Kuajak engkau sebentar memandang langit malam ini, lalu jawablah dengan hatimu: kepada siapa binar mata purnama itu menatap? [01 November 2009/19:41 WIB]

Belaian tangan yang kutitipkan pada semilir angin sejuk dan cahaya hangat mentari pagi untuk membelai lebat rambutmu, telah hilang terpanggang terik siang. Kecupan manis yang baru saja kutitipkan pada senja untuk menitik keningmu, sebentar bakal tenggelam dalam kelam alam malam. Tapi, percayalah! Bersama desir-desir pasir waktu dan detak-detak detik masa, rasaku selalu memeluk jiwamu. [02 November 2009]

* * *

Serial Status Spesial Miyabi:

Anda tahu MIYABI? Tahu? Bagus kalau begitu. Selanjutnya, apakah Anda tahu MIE AYAM? Tahu juga? Ya, itu memang makanan favorit bagi sebagian orang. Nah, sekarang, apakah Anda tahu persamaan MIYABI dan MIE AYAM? Anda cukup bilang “tidak tahu” maka saya akan beri tahu. Persamaan MIYABI dan MIE AYAM adalah keduanya enak dinikmati selagi hangat. [07 Oktober 2009/12:18]

Wahai orang-orang! Menonton aksi Miyabi pakai nafsu, tapi menolak kehadirannya ke Indonesia jangan pakai nafsu. [12 Oktober 2009/01:13 WIB]

Kawan-kawan, cawet dan kutang adalah simbol kehormatan, pelindung bagian paling terjaga dari seorang wanita. Maka, tidakkah kalian sebaiknya tersinggung, Wahai Para Wanita, jika cawet dan kutang dibakar sebagai simbol penolakan pornografi dan pornoaksi?! Bukankah saat kalian mengenakan keduanya adalah dalam rangka menjaga dan melindungi, bukan melakukan pornoaksi?! [13 Oktober 2009/16:49 WIB]

Seorang Miyabi mereka sebut sebagai penghancur moral bangsa. Ada jutaan ulama, pendeta, pendidik, atau apalah Anda menyebutnya, di sini, sejak dulu. Apakah mereka menganggap remeh para penganjur agama dan moralitas itu? Sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir. Atau, jika tidak, cara berpikir seperti itu berlebihan. [14 Oktober 2009/10:45 WIB]

Dua orang menghadap Tuhan. Orang pertama berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku tak kuasa menahan nafsu, hasrat menjadi liar. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan syahwat.” Orang kedua berdoa, “Tuhan, setiap melihat Miyabi, aku selalu jijik, selalu ingin mengutuknya. Tolong, ampuni aku dan beri aku kekuatan menahan amarah.” Lalu, dua orang itu pun pulang ke rumah masing-masing dengan jiwa tenang dan lega. [14 Oktober 2009/13:12 WIB]

Anda pikir Maria Ozawa a.k.a Miyabi itu tidak jadi datang ke Indonesia? Maaf, Anda salah! Miyabi sudah ada di negeri kita, hanya saja sedang disembunyikan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu, sesuai dengan skenario film “Menculik Miyabi”. Namanya sedang diculik, ya, tentu saja yang tahu tepat keberadaan Miyabi saat ini cuma para penculiknya. [27 Oktober 2009/11:23 WIB]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s