Musim Hujan


Awan-awan bergerombol.
Wajah mereka kelam, seram.
O, Tuhan, jangan kautitipkan
atau bahkan sekedar menceritakan
meski sedikit amarahmu kepada mereka.
Aku takut, mereka salah paham,
lalu dengan geram akan mengayun-ayunkan halilintar, menebar badai.
Jika marah dan Kau tak mau menyimpan sendiri amarahmu,
ceritakan saja pada hatiku. Jika mampu, akan kusimpan itu.

*Setelah membaca puisi Gus Mus di salah satu [bukan] buku [puisi]-nya, Mencari Bening Mata Air, selain setelah musim kemarau berlalu dan musim hujan melaju. Sebut saja, aku menirunya.

7532_1111672243292_1571460748_30297590_1172934_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s