Antologi Status [1]


Mani Menjadi Bangkai
hei, kau!
dari mani kau berawal,
menjadi bangkai kau akan final.
ada di antaranya,
kau menenggak mani
dan melahap bangkai 

[jr]

Hadiah
jika kelak tuhan memberimu surga,
atau menjatahimu neraka,
sepertinya bukan karena
kesalahenmu seluas angkasa,
bukan pula kebejatanmu memenuhi semesta.
kesalehanmu bahkan sepanjang hidupmu
terlalu murah untuk membeli surga,
kebejatanmu bahkan seumur hidupmu
terlalu ringan untuk menukar neraka.
o, apalah diri…

[jr]

Apa Salah
begitu bencikah kau
hingga menganggap dunia ini
bahkan lebih hina
dari bangkai anjing.
Yakinkah kau,
duniamu selanjutnya
lebih baik dari duniamu saat ini?
O, jadilah murid kehidupan…

[jr]

Tak Rindu
kaulah jiwaku,
sangat dekat
melebihi segala
yang dekat,
meski tak
dapat kulihat

[jr]

Kita
jika kau iri dengan para sahabat,
orang-orang yang beruntung
hidup sezaman dengan rasulullah,
yang menghabiskan hari-hari mereka
bersamanya, ketahuilah, kita, di zaman ini,
memiliki keberuntungan yang tak dimiliki
para sahabat itu: kita tak pernah bertemu sapa
dengan rasulullah, tapi kita percaya

[jr]

Menyatu
saat kutahu
kau menetap dalam jiwa,
kusaksikan hadirmu di setiap mana.
kau kusapa tanpa kata,
kau kutatap tanpa mata

[jr]

Kaupikir
jika kaupikir kaulah bumi,
tempat berpijak siapa dan apa saja tanpa pilah;
jika kaupikir kaulah awan
yang menaungi siapa dan apa saja tanpa pilih;
jika kaupikir kaulah hujan
yang membasahi siapa dan apa saja tanpa pilah pilih;
kau perlu tahu, akulah semesta…

[jr]

Jika
Kurasakan kau menangis di sana
dengan mata yang pernah kaupinjamkan,
namun kutolak. Kini, sebulir saja
kuminta air tangisanmu itu.
Akan kubasuh jejak-jejak yang terserak.

[jr]

Menggetarkan Dalam Kerinduan
jika dengan mata
telanjang bisa melihat Tuhan,
mau apa kau?

[jr]

Semesta
setinggi gunung durja,
sedalam samudra nista,
rahmat dan maafmu adalah semesta

[jr]

Tak Selalu
bulan tampak kasihan
saat sedikit saja purnamanya pudar:
kusam, tak lagi terang,
lalu meminta awan-awan menyelimutinya…

[jr]

Kendali
aku di antara dua seteru:
mata dan jiwa.
mata menyergap geliat,
jiwa menyerap hasrat.
keduanya bersekutu:
m . e . m . b . u . n . u . h . k . u .

[jr]

Khalifah
ia orang yang sekian tahun
menyumbat mulutnya dengan batu
agar tak banyak bicara…

ia orang yang selalu diam
jika takjub oleh kata-kata,
dan hanya akan berbicara
jika diam tak lagi bermakna…

[jr]

Al-Quran Berdialog Dengan Umar
ia pasti sedang membacakan sajak-sajak penyair
jika bukan, pastilah itu mantra-mantra penyihir

bukan!

ini bukan sajak,
pula bukan mantra
ini adalah sabda penguasa semesta

2009

3 thoughts on “Antologi Status [1]

  1. Al-Quran Berdialog Dengan Umar
    Khalifah
    Kendali
    Tak Selalu
    Semesta
    Menggetarkan Dalam Kerinduan
    Jika
    Kaupikir
    Menyatu
    Kita
    Tak Rindu
    Apa Salah
    Hadiah
    Mani Menjadi Bangkai

    14 Isi Jiwa riuh tumpah dalam kata berlarian tuk mewakili yang bersemayam dalam relung percik rasa.

    Wah kayaknya menjadi editor itu enak ya. Di samping dapat duit, yang terpenting gaya penulisan tampak tambah yahut,,,terus diasah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s