Mata Hati


Mata:
Sungguh tak terbayang bagaimana
jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa,
kemudian Musa merekam dalam memorinya
wajah Tuhan yang pernah nyata.
Lalu, dari tutur Musa tersebarlah berita rupa
Tuhan di tengah umat manusia,
turun temurun kepada umat selanjutnya,
selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini kita ada.
Maka, tidakkah kau kasihan kepada orang buta?!

Hati:
Syukur, semua itu tak terjadi.
Tuhan Maha Suci.
Ia menolak hasrat Musa dan memilih niskala diri
Tuhan hadir dalam bayang-bayang misteri,
melampaui sekat-sekat nalar, melintas-batasi inderawi,
tak terpaku kaku pada simbol yang pasti,
memungkinkan siapa pun untuk menghayati
sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan hati.
Maka, kasihanilah orang yang hatinya telah mati.

Ciputat, 7 Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s