Manifestasi Narsisme


Beberapa waktu lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat. Dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut “konvensional” yang hanya mengerti satu model: yang penting pendek, meski harus makan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat di pesantren, rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena keharusan mengikuti sebuah aturan. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi sudah melewati pertimbangan kepatutan, kelayakan, dan kepantasan – tentu saja menurut pribadi. Dan jika kembali berrambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak kepada orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira, pentingnya tahu diri, sadar diri dan cinta diri yang bisa dilakukan dengan berragam ekspresi, salah satunya dengan sering melihat citra diri atau berinteraksi dengan lain diri (inilah masa ketika media berinteraksi begitu luas, bukan hanya dunia nyata tapi juga dunia maya, bukan hanya di bumi tapi juga di langit). Saya yakin, orang yang sadar dan tahu diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, ia akan lebih rendah hati, pandai menempatkan diri, tahu bagaimana memperlakukan dan merawat diri, sadar akan yang pantas dan tak pantas bagi diri, mengerti kebutuhan yang layak dan yang tak layak dimiliki (paling tidak, tahu di mana harus potong rambut). Saya yakin, orang yang tahu dan sadar akan cintanya pada diri sendiri, akan memungkinkan ia paham cinta dari dan untuk orang lain.

Cintailah diri sampean sendiri. Siapa lagi yang paling pertama yang mau tahu, mau menyadari, dan mau mencintai diri kita, jika bukan diri kita sendiri. Siapakah yang cintanya kepada diri kita mutlak tanpa syarat, selain diri kita sendiri. Jika cinta sampean kepada diri sampean sendiri sudah bersyarat dan perhitungan, bagaimana sampean mau mencintai orang lain dengan tulus.

“Narsisme” dalam Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, artinya “sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan”. Apakah arti “berlebihan”? Dari sudut pandang siapa “berlebihan” ditentukan?

So what, gitu loooch?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s