Zaid Pukul Amr


Anda yang pernah nyantren, khususnya di pesantren yang melesatrikan tradisi pengajaran kitab kuning, pasti tahu “Zaid” dan “Amr”. Ya, keduanya adalah sosok fiktif paling dikenal karena paling banyak disebut, utamanya dalam kitab-kitab gramatikal Arab atau nahwu, sebagai obyek permisalan.

Siapa Zaid?

Zaid adalah satu-satunya nama sahabat Rasul yang disebut secara langsung oleh Alquran sebagai orang yang mendapat anugerah, tepatnya dalam surat al-Ahzab ayat 37: …falamma qadha “zaid” minha wathara…“Maka, ketika ‘Zaid’ telah menceraikan istrinya…” (dst.). “Zaid” yang dimaksud adalah “Zaid bin Haritsah”, salah seorang sahabat Rasul, yang dalam kisahnya, adalah orang yang menceraikan istrinya, bernama Zainab binti Jahsy, untuk kemudian dinikahi oleh Rasul, atas titah Allah. Zaid ini begitu mencintai Rasul, hingga ia disebut “al-hubb” (cinta).

Nah, konon, nama “Zaid” yang kerap dijadikan permisalan dalam ilmu nahwu itu, terinspirasi dari sosok Zaid yang diceritakan Alquran itu. Tabarrukan dengan Alquran. Meski nama “Zaid” dalam ilmu nahwu terinspirasi dari Zaid sahabat Rasul yang baik sehingga namanya diukir Alquran, namun, dalam kitab Matn al-Jurmiyah – sebuah kitab gramatikal Arab dasar – “Zaid” mesti dipukul, entah karena alasan apa, ketika pengarang kitab itu membuat permisalan: “dharabtu zaid”, “Aku Pukul Zaid”, sebagai permisalan bab “maf’ul bih” (obyek penderita). Penulis al-Jurmiyah menjadikan si Zaid menderita oleh pukulan.

Amr Curi “Wawu”

Selain si Zaid, si Amr juga sering disebut sebagai obyek permisalan dalam ilmu nahwu. Saya ceritakan sedikit desas-desus tentang si Amr.

Kata “amr”, dalam bahasa aslinya, bahasa Arab, mesti ditulis dengan empat huruf hijaiyah: “ain”, “mim”, “ra”, “wawu”. Khusus “wawu”, ia hanya huruf tambahan yang tak memiliki fungsi fundamental, selain penting sebagai penanda agar rangkaian huruf-huruf itu terbaca “amr”, bukan “umar”. Sebab, pembacaan “umar” telah menjadi “hak paten” nama Umar bin Khatab, salah seorang “Khalifah Empat”.

Dari manakah huruf “wawu” tambahan itu berasal?

Qila wa qala, konon, “wawu” yang disandang si Amr adalah hasil curian! Si Amr mencurinya dari “Dawud”!

Kata “dawud”, dalam bahasa aslinya ditulis dengan huruf Arab atau hijaiyah, yaitu “dal”, “alif”, “wawu”, “dal”. Dalam bacaan Alquran, sesuai dengan ilmu tajwid, “wawu” berharakat “dhammah” dalam kata “daud” itu mesti dibaca panjang satu “alif” atau tiga “harakat” atau yang disebut dengan hukum “mad thabi’i”. Dalam teorinya, hukum “mad thabi’i” berlaku jika dalam satu kata, ada harakat “fathah” bertemu sesudahnya dengan huruf “alif”, atau harakat “kasrah” dengan huruf “ya”, atau harakat dhammah dengan huruf “wawu”.

Nah, pada kata “dawud” (dal, alif, wawu, dal), huruf “wawu” yang berharakat “dhammah” di situ mesti dibaca panjang satu “alif” atau satu “harakat” sebagai “mad thabi’i”, meski sesudahnya tak terlihat ada huruf “wawu” – sebagaimana disyaratkan hukum mad itu. “Wawu” di sana telah hilang dicuri si Amr.

(Maka, pada setiap kata “dawud” di dalam Alquran, setidaknya yang dengan “rasm utsmani”, selalu ditambahkan “wawu” kecil sesudah huruf “wawu” pokok, sebagai penanda agar “wawu” pokok itu dibaca panjang. Siapakah “wawu” kecil itu? Mungkin anak “wawu” pokok itu, yang selamat dari aksi pencurian atau penculikan si Amr.)

One thought on “Zaid Pukul Amr

  1. mah kurang menerik….. tapi udah lumayan … tambahi lagi ttg nahwu sorof nya biar tambah berguna ….(beri keterangan ttg nahwu sorof)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s