Dalam Pencarian


Sejarah kebijaksanaan adalah sejarah kehilangan. Dan sejarah kehilangan adalah sejarah pencarian. Apa yang hilang tak selalu apa yang pernah ada yang menjadi tiada. Tapi juga apa yang belum ada dan diketemukan, yang mesti dicari – mengisyaratkan betapa penting betul ia.

Dan, sejarah pencarian adalah sejarah ketak-pastian. Ada pun Imam al-Ghazali yang berhenti pada “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme, yang ia katakan sebagai “jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan” – seperti ia tuturkan dalam al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), sebuah memoar pengembaraan spiritual dan intelektual – maka sebaiknya dipahami sebagai jalan alternatif di mana ia akhirnya menapak dengan nyaman dan nikmat dalam menghayati Tuhan dan ketuhanan. Di antara sekian alternatif “obat”, pada Thuruq al-Shufiyah ia menjumpai penyembuhannya. Dan yang alternatif selamanya tak pernah absolut.

Sang Imam melakukan pencarian menemukan “ilmu” yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan, yang ia sebut dengan ilmu yaqini. Ia menerjunkan diri dalam proses. Ia memasuki banyak ruang kemungkinan. Ia menjamah kosmos ilmu kalam, menelaah karya para mutakalimun (teolog) dan merefleksikan pandangan-pandangan teologinya dalam beberapa karya. Namun, pada akhirnya, ilmu kalam, katanya, tetap tak mampu mengobati “penyakit” yang ia derita.

Beranjak dari ilmu kalam, Imam al-Ghazali melakukan pencarian dalam filsafat. Lebih dari dua setengah tahun ia sempatkan diri untuk dunia filsafat, bergulat di dalamnya. Sampai akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia jumpai hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”. Ia pun beranjak meninggalkannya.

Ketika yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan – keniscayaan dari sebuah pencarian –, pilihan pada salah satu kemungkinan sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar dan perhitungan rasional, tapi kenyamanan dan ketentraman hati. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Dan Imam al-Ghazali merasakan kenyamanan dan ketentraman hati itu dalam alternatif yang ia pilih selanjutnya: “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme. Sekali lagi, yang alternatif selamanya tak pernah absolut, sebagaimana ia menilai ilmu kalam semata sebagai “obat” yang hanya dibutuhkan saat sakit. Penderita bisa saja berhenti mengkonsumsi obat, jika ia terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain.

Pencarian mengisyaratkan adanya diri yang tak sempurna dan memadai, diri yang gelisah. Ada yang lebih penting dalam pencarian, sebetulnya, ketimbang hasil pencarian itu sendiri – yang sangat mungkin bersifat subyektif dan personal – yaitu proses persentuhan dan perjumpaan dengan orang lain, siapa pun ia, atau bakan dengan apa pun. Maka, berrendah hati – menjadi sosok gelas kosong dan bening yang memungkinkan air masuk dan cahaya merasuk – adalah keharusan dalam proses itu. Sebab, dari proses itulah kebijaksanaan muncul, menunjukkan dan menegaskan adanya kelemahan dan kekurangan: diri yang tak sempurna dan memadai itu. Sekaligus proses mengeliminasinya.

Al-hikmah dhallah al-mu’minin, haitsu wajadaha akhadzaha, dalam ungkapan Arab yang terkenal. Kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman. Di mana pun ia dijumpai, pungutlah.[jr]

One thought on “Dalam Pencarian

  1. Keraguan itu jalan buntu buat saya. Tidak ada jalan keluar dari keraguan. Nalar/filsafat atau hati/sufisme sama-sama bukan jalan keluar yang “pasti” dari keraguan.

    Nice writing.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s