Wajah Tuhan


Musa begitu berhasrat memandang wajah Tuhan – setelah terhanyut nikmat oleh merdu suara-Nya. Laisa al-khabar ka al-mu’ayanah. Mendengar merdu suara Tuhan adalah kenikmatan, Musa membayangkan; maka apalagi sambil memandang wajah pemilik suara itu. Rindu rasa membuat Musa rindu rupa. Raga memang selalu butuh pemuasannya.

Namun, Tuhan tak berkenan. Ia menolak permohonan Musa untuk mewujud diri dalam rupa yang terang, dan memilih hadir dalam kebijaksanaan. Ia menjadikan diri-Nya tetap sebagai kerinduan, senantiasa menjadi bayang-bayang ketak-pastian, menjadi Yang Tak Terang, untuk Musa dan semua manusia, selamanya.

Justru dengan itu orang beriman dan tak pernah jera untuk itu. Subhanaka tubtu ilaika wa ana awwal al-mu’minin. “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku orang yang pertama-tama beriman,” kata Musa. Sebab, dalam terang, tak lagi disebut iman. Dalam terang, kenikmatan iman tak dapat dirasa, dan yang diimani kehilangan kesakralannya. Iman tak butuh pencarian bukti fisik, wajah yang terang. Al-iman kafin la yahtaj ma’ahu ila tanqir wa bahts, dalam kata-kata Alqurtubi. Dalam iman, wajah yang terang adalah ketak-sempurnaan dan keterbatasan. Dan Tuhan Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas.

Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terpermanai, yang selalu menggetarkan hati dalam kerinduan, Yang Tak Terang di mana iman tak pernah jera, yang menjadi bayang-bayang ketak-pastian yang justru karena itu hati memiliki kebebasan melakukan penghayatan yang paling pribadi, hanya dapat dinikmati di dunia ini.

Pada dunia yang lain, bagai bulat purnama yang benderangnya bersih dari balutan awan paling tipis sekali pun, wajah Tuhan teramat terang oleh setiap mata telanjang. Pada saat itu, setiap wajah akan berseri-seri terpesona memandang wajah elok Tuhan. Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nadzirah, persis dalam kata-kata Kitab Suci. Mungkin juga ada wajah yang tertawa sebab memandang wajah Tuhan yang lucu. Atau wajah ketakutan karena memandang wajah Tuhan yang seram. Mungkin juga akan banyak ekspresi-ekspresi wajah yang lain. Masing-masing wajah akan menjadi penilai wajah Tuhan. Di dunia lain itu, Tuhan telah takluk. Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai yang tak terbatas, tak lagi jadi yang tak terpermanai, tak ada hati yang bergetar dalam kerinduan sebab mata telah menemui pemuasannya. Mungkin, di sana, kelak, tidak ada iman…

Mungkin juga tidak seperti semua itu.[jr]

3 thoughts on “Wajah Tuhan

  1. waduhh ini koncoku dulu……
    aku bisa ketemu maning…
    hehehe…..
    tulisannya nyleneh2 kayak orangnya,
    tapi asyik…..
    go go Juman!!!….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s