Ketika Kelamin Jadi Ukuran


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s