Mba Qonita


Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.

Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.

Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.

Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.

Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.

Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.

Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.

“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.

“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”

Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.

Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?

“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”

“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.

“Kenapa memangnya, Patua?”

Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…

“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”

Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.

Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.

“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.

“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”

“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”

Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.

“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”

“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”

“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”

“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”

Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.

Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.

“Terus?”

“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.

“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”

“Kyai Mualimin setuju?”

“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.

“Terus?”

“Kamu tahu, Nang?”

“Apa itu?”

“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”

” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’

” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’

” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’

” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’

” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’

” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’

” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’

” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’

” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’

” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’

” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’

Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.

“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”

Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]

Ciputat, 17 Desember 2008

…….

* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s