Apakah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?


Oleh Ulil Abshar Abdalla

200px-ulil1
Ulil, 2004

Seorang perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: “Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?”)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, “Dalalat al-Ha’irin” (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: “Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard” (baca “Al-Kitab al-Muqaddas” edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim< ” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara”, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature”, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Isalm, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara umat Islam sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia ini.[]

~ Dicomot dari milist JIL [islamliberal@yahoogroups.com] ~

51 thoughts on “Apakah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?

  1. Udah panjang lebar, gmn hasilnya bro. Pemerintah malaysia msh melarang atau enggak? he3x…, cap cus, berkoar2x

    ^,^

    Like

  2. bagus juga tuh argumennya si ulil, tapi kayaknya dia bukan orang islam yang pemberani. bisanya ngomong doang!

    Like

  3. sdr. Harya dan Ikhwan, jgn hanya bisa bicara seperti itu, tapi coba renungkan apa betul yg di uraikan oleh sdr. Ulil, persoallan bakal ditanggapi oleh pemerintah Malaysia itu urusan mereka, penting kita tahu bahwa tidak semua muslim itu punya pikiran yg sama, hanya agama Islam-nya yg sama, mungkin juga pandangan saya dgn sdr. Ulil tidak sama tapi buat saya ini sebuah tambahan ilmu bahwa Islam dan Muslim adalah berbeda, Islam adalah agama dan muslim adalah manusia yg menganut ajaran Islam dgn ber-macam2 pengertian dan tiap2 kelompok merasa mereka paling mengerti Islam

    Like

  4. Anda betul, memang terkadang seringkali kita (muslim) seringkali menalar sesuai dengan penalaran (atau kemampuan kita dalam menalara sesuatu) sehingga terkesan mengatur agama lain. Hal inilah yang terkadang diumbar oleh orang-orang non islam untuk menjelek-jelekkan Islam. Tidak usah sampai ke negeri tetangga seringkali saya ketika menonton berita di televisi tentang tingkah polah suatu organisasi yang berbenderakan dan bernafaskan islam (katanya) eh ketika ramadhan tiba, malah melakukan sesuatu yang SANGAT TIDAK bernafaskan islam itu sendiri.
    bagaimana mungkin atas nama “penegakan syariat” kita malah melakukan sesuatu yang tidak disarankan oleh Islam itu sendiri?
    Hal-hal ini seringkali membuat saya merenung beginikah cara kita membela dan membesarkan islam?
    Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan terhadap komentar saya, hal ini tidak lain dan tidak bukan karena *masih minimnya* Keislaman saya. Hanya saja saya masih terus berusaha menegakkan islam, dan berusaha selama proses itu berjalan tidak meremehkan atau merendahkan agama lain, karena patokan saya tetap, Lakum Dinukum Waliadin :-)

    Like

  5. Kenapa kata Allah hanya milik orang Islam?
    Ini yang penting diketahui oleh Sdr Ulil.

    Kata ALLAH dalam bahasa Arab terdiri dari empat kata yaitu alif, lam, lam dan ha. Pada lam pertama dan lam kedua terdapat tasydid sebagai tanda idham. Pula dalam bahasa Arab kata ALLAH dinamakan ghairu musytaq yang dimaksud disini tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata kata lain. Karena itu kata ALLAH tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural). Begitu pula kata ALLAH tidak bisa dijadikan sebagai mudhaf, tapi bisa dijadikan sebagai mudhafun ilah misalnya Abdullah, Rasulallah, Habibullah, Nashrullah, Habibullah dll.

    Kata ALLAH dalam bahasa Arab bisa juga disebut sebagai isim murtajal, maksudnya kata ALLAH adalah nama asal bagi dzat yang wajib ada, Yang Maha Suci, Maha Agung dan Yang Berhak Disembah (ma’baud). Tidak ada satupun makhluk yang berhak memakai nama ALLAH.

    Karena itu nama ALLAH tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Maka terjemahan ALLAH menjadi God dalam bahasa Inggris atau Tuhan dalam bahasa Indonesia, adalah tindakan yang “batil” dan menyimpang dari ajaran Islam. Karena God bisa diubah menjadi bentuk jama’ –plural- (Gods), dan Tuhan bisa diubah menjadi bentuk jama’ (Tuhan-Tuhan). Sedangkan ALLAH tidak bisa diubah menjadi bentuk jamak.

    Dalam Al Qur’an, kata ALLAH disebut sebanyak 2153 kali, semuanya dalam bentuk mufradh atau tunggal, karena lafdzul jalalah (lafdz yang agung) ini adalah Esa dan Mutlak, sesuai ayat al Qur’an dalam surat al Ikhlash 1-4 “ Katakanlah; Dia Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seorang pun yang serata dengan Dia”. Dalam ayat lainnya surat Taha,14 “ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

    ALLAH dalam akidah Islam itu berbeda dengan makhluk Nya (laisa kamislihi syaiun), Allah tidak serupa dengan apapun. ALLAH Maha Mendengar, Maha Tahu, Maha Melihat, dan tidak ada yang setara dengan Nya.

    Dan ALLAH Maha Mengetahui
    Hasan Husen Assagaf
    hasan_saggaf@hotmail.com

    Like

  6. Sdr Ulil. Kita semua tahu bahwa kristen tidak mengakui Allah orang islam itu sama dengan tuhan (yhwh) mereka. Lihat buku The Islamic Invasion karangan Robert Moorey. Sekarang, atas dasar kepentingan apa mereka mengganti kata Tuhan (yhwh) menjadi Allah di kitab sucinya? Jika menolaknya kenapa ingin juga memakainya?

    Like

  7. Saya setuju dg sdr. Hasan dan Elhajj..
    Walaupun saya mungkin bukan ahli di bidang agama setidaknya saya pernah belajar…
    Jika Allah mereka sama dengan Allah SWT, maka mereka akan menyembahnya seperti orang Islam (sesuai dg Al Qur’an).
    Kenapa sih kita malah membela orang yang bukan muslim…
    Itulah yang aneh dari orang Muslim sekarang…

    Like

  8. numpang lewat, permisi, kulonuwun, berdebat boleh tapi damai dan menghargai pendapat orang lain ya… Semoga Allah membuka pikiran dan hati kita untuk mengerti tentang Haq yang sebenarnya

    Like

  9. Dan tambahan Allah (o)=Tuhan titik artinya sesuai Syahadat Orang muslim tiada Tuhan Selain Allah dan tambahan dibelakang huruf Allah adalah SWT.
    ada agama yang menyebut Allah (a)=Tuhan=Tuhan Yesus=Tuhan Bapak=Tuhan Ibu (Bunda Maria)= Tuhan Roh Kudus…….

    Tapi dengan kondisi sekarang ada agama lain yang sudah mulai nyaru yang mulai memakai hal berbau Islam untuk mengelabui umat Muslim…ini terbukti dan terjadi dimana-mana…contoh di jakarta..kita tahu adat betawi identik dengan Islam…tiba-tiba banyak orang memakai adat betawi pada pergi ke gereja…ternyata jemaat gereja harus memakai seperti itu…terus dikuningan…memakai adat sunda..perlu diingat 99% orang sunda adalah muslim…dari buku yang pernah saya baca bahwa suku sunda dan padang adalah target pengkristenan….

    jadi dari sini terlihat bahwa yang sebetulnya selalu bikin ulah dan memprovokasi umat muslim adalah agama yang NYARU tersebut…kan ada Butir-butir dalam Pancasila tentang TIDAK MEMAKSAKAN AGAMA KEPADA YANG TELAH BERAGAMA…..REMEMBERLAH……Tak ada Asap kalo tak ada Api….

    Satu yang selalu saya tulis bila mengomentarin blog yang menyangkut masalah perbandingan Kristen vs Islam adalah…

    1. TOLONG PELAJARI DENGAN SEKSAMA 4 INJIL SAAT INI (MARKUS, MATIUS, LUKAS, YAHYA)
    2. BUKA (KALO BERANI) INJIL BARNABA YANG DILARANG OLEH PAUS….DISANA AKAN JELAS DAN DETIL SEPERTI APA SEBENARNYA AJARAN NABI ISA AS

    Like

  10. Kang Ulil terimakasih.
    Komentar Hasan LUAR BIASA, boleh dong saya nanya, saya pengen belajar bahasa Arab yang baik dimana ? biar bisa memahami Al quran nggak pake akal doang!!! terimakasih

    Like

  11. banyak energi terbuang untuk ngurusin agama lain!!!
    mending energinya buat membangun islam dan membantu saudara muslim kita,
    biar mereka gak pindah agama hanya karena se kardus mie instan!!

    Like

  12. ulil, madah mulia dkk sami mawon. antek2 kafirun. gak usah didengerin. mending dengerin kentut daripada omongan mereka. kentut bisa membawa kita bersyukur kepada Allah yg telah memberi kentut pd kita. ndengerin orang itu, malah jadi marah aja bawaannya.

    Like

  13. Buat sdr ULiL & para pengikutnya : Islam itu bukan agama buatan manusia yang diciptakan dari otak manusia sehingga bisa diOTAK – ATIK dengan otak manusia lagi, ISLAM adalah DIEN yang diciptakan oleh ALLAH SWT sang pembuat otak manusia juga OTAK ANDA….masa kita berani ngotak – ngatik yang bikin Otak kita…atau jangan – jangan kita udah gak punya OTAK atau OTAK kita udah Di Otak – atik sama barat…sadar dech mas ULIL mumpung masih hidup dan bernafas…ente kan gak tau kapan di panggil sama yang bikin OTAK ente dan saya yakin OTAK ente akan minta pertanggung jawaban nanti di akhirat karena Udah di OTAK – ATIK sama ente…Ajak juga temen – temen ente…tuh si Musdah Mulia sama yang lainnya

    Like

  14. Setelah baca komentar2 di atas kok semakin memperburuk citra Islam sendiri ya…
    Allah dari jaman Ibrahim tidak pernah membeda-bedakan umatNya bukan?
    Siapa Allah yang sebenarnya dan apakah allah orang umat muslim adalah allah yang sama bagi umat kristiani? Jawabannya akan terkuak ketika hari penghukuman / akhir jaman tiba.

    Silakan kita kembali menjadi umat yang benar di hadapan-Nya.

    wassalam

    Like

  15. halah pada ngomong apa …!
    Allah bukan milik kita, tapi kita adalah milik Allah jadi mestinya nurut sama Allah.

    Halah saya juga ngomong apa ini …!

    Like

  16. @ hasan:
    “Allah” hanya sebuah bahasa, bukan esensi Tuhan sendiri. dan saya kira betul, jika ada yang mengatakan: “bahasa tidak akan selalu memadai untuk menjelaskan sebuah esensi”. apakah dengan kata “Allah” berarti kita telah memahmai sebuah esensi ketuhanan, atau “ke-Allah-an”, jika Anda tidak mau menyebut “Tuhan”? saya kira tidak. Allah (sebagai Tuhan) terlalu luas untuk hanya dijelaskan hanya dengan “Allah” (sebagai bahasa).

    makanya, Allah menjelaskan dirinya dalam sebuah bahasa yang lebih spesifik, dengan apa yang disebut dengan asma al-husna, yang kita kenal ada 99 itu, yang sebagiannya telah anda sebutkan.

    jadi, saya kira terlalu berlebihan, jika menyebut, “god”, “tuhan”, “gusti”, “pangeran”, dan kata2 lain untuk menyebut esensi ke-Allah-an, kok disebut batil apalagi menyimpang dari islam.

    kita sebut Allah dengan (ajektif) “Ar-Rahim” yang kita terjemahkan menjadi “Yang Maha Penyayang”. kurang lebih sama, dalam tradisi jawa, yang menyebut Allah dengan “gusti” atau “pangeran”. Allah juga menyebut dirinya “rabb”. apakah kemudian kita telah melakukan kebatilan dan menyimpang dari islam dengan menerjemahkan demikian, hanya karena kata itu bisa dibuat ganda (tastniyah) plural (jamak)?!

    mas, komentar sampean mengingatkan saya dengan pelajaran nahwu dan sharaf, saat masih nyentren…

    Like

  17. Setuju banget dengan Bp.Hasan Husen Assegaf.Penjelasan anda sangat lugas,jelas,detail dan komprehensif.Salam kenal dari saya.
    Wassalamualaikum……

    Like

  18. @ omiyan:
    ketika ada sebuah entitas mayoritas bersandar pada islam, apakah kemudian entitas itu adalah otomatis esensi Islam sendiri? ketika orang arab dengan tradisi surban dan jubahnya adalah mayoritas islam, apakah kemudian surban dan jubah itu adlah identitas esensial islam? ketika orang indonesia dengan “peci”nya mayoritas adalah islam, apakah kemduian “peci” itu adalah identitas esensial islam? ketika orang betawi dengan tradisi dan adat betawinya mayoritas adalah islam, apakah kemudian, tradisi dan adat itu adalah identitas esensal islam, sehingga orang betawi yang bukan islam tidak boleh mengenakan adatnya? betapa dangkalnya logika berpikir seperti ini…

    Like

  19. aneh juga sih, sikap malaysia itu,
    tapi ada hal lain yang bisa saya tangkap dari artikel tersebut,

    “pemerintah malaysia, nggak mau kecolongan dalam hal pluralisme”.

    semua2 bisa jadi “sama koq”
    ente dan ane “sama koq”

    Like

  20. @jum

    kurang lebih saya sepakat dengan anda
    islam itu identitas dalam, atau bisa jadi jati diri, bukan yang melekat.
    make it simple all.

    Like

  21. @sufimuda:
    saya juga heran, kok, ya pada rebutan Allah. tanpa kita rebut Allah, tanpa kita cari Allah, bahkan saat kita membenci Allah, saat kita kutuk Allah, kita akan selalu milik Allah, sekalipun kita tak mau memiliki-Nya. Allah saja tidak pernah membatasi hak milik-Nya (dari ujung dunia sampai ujung akhirat semuanya milik Allah), kok ada orang yang mau membatasi, Allah hanya milik sebagian kalangan saja…

    Like

  22. Nih ada yg lebih ganas lagi dari ucapan Ulil dalam salah satu bukunya “Islam Liberal & Fundamental” hal 8 & 248 :
    “jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa, terjadi di Kristen selama berabad-abad. Tida ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 Masehi, Gereja Katolik di Vatikan merevisi pemahaman ini. Sedangkan Islam yang berusia 1,423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti Katolik”

    Tuh perhatikan! dia bilang Islam bukan yg paling benar dan gak lebih dewasa daripada Kristen/ Katolik??? Omongan macam mana pula ini!! Ney logika bantahannya :”Kalo orang awam diajari bahwa semua agama sama, akan tetapi ada yang lebih dewasa, yaitu Kristen atau Katolik, tentu proses kristenisasi akan mudah, semudah keluarnya air dari mulut guci” Tapi bantahan paling top adalah dari Al Quran surat Al baqoroh 120 “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang hingga kamu mengikuti agama mereka”.

    Yawdah…kalo Ulil dan konco2nya bilang Islam gak lebih dewasa dari agama lain, ya gak usah ngaku Islam dunk! Daripada kayak nusuk kaum muslimin dari belakang aja!

    Like

  23. Kayanya Ulil musti belajar bahasa Arab ke Pak Hasan tuch!. Biar nggak ngaco nerjemahin al-Qur’an seenak otaknya yg udah dicuci ama Amerika. Belajar Islam ko ke orang2 kafir dan orientalis. Dasar guendeng! Saking miskin ya pak sampe jual agama demi dunia? Cucian de lo… :lol:

    Like

  24. ikutan aaaah……, menurut saya Tuhan itu hanya satu (Esa) ya Alloh SWT itu, tidak ada tuhan selain Dia, jika orang menganggap ada tuhan selain Alloh itu hanya nama2 kosong belaka: “Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Yusuf/40). Buktinya lagi, produk tuhan yang paling utama, manusia yang pinter dan cerdas ternyata sama, sama-sama hidup dengan menghirup udara (Co2), meski makanannya terkadang berbeda, ada yang makan nasi dan sambal ada yang makan aspal dan semen. Jika ada tuhan selain Alloh SWT, mengapa produk tuhan yang paling sempurna itu sama…?
    Namun demikian, jika diantara manusia itu ternyata ada yang beriman dan kafir, itu semata-mata menunjukkan kebenaran firmanNya, karena Alloh telah membangun mega proyek untuk tempat tinggal yang abadi bagi manusia, yaitu Neraka dan Surga.
    Di dunia ini kita bisa memilih sesuka hati, rumah masa depan mana yang akan kita huni nanti. Selamat ber-adu argumentasi dan berdebat, yang pasti kita akan sampai diantara dua rumah masa depan tersebut.
    http://www.alfithrahgp.com

    Like

  25. Kata Allah memang dari Allah langsung. sedangkan kata Tuhan berasal dari kepercayaan kepada Tuh dan Yang. Kemudian kata Tuh berubah menjadi Tuhan. Sehingga bila kita artikan Allah dengan Tuhan sebenarnya tidak tepat karena Tuh adalah yang disembah oleh penganut kepercayaan pada Tuh dan Yang. Dari kepercayaan kepada Tuh dan Yang inilah lahir pula kata sembahyang, yang artinya menyembah Yang. Jadi shalat juga sebenarnya tidak bisa disamakan dengan sembahyang karena pengertiannya sudah berbeda (untuk lebih jelas tentang sejarah kata ini bisa dibaca di buku Parasit Aqidah karangan Ust. el-Marzdedeq penerbit Asy-Syaamil). Penelaahan ini menjadi sangat penting karena konsep tauhid bisa menjadi rusak hanya karena kita salah dalam penggunaan bahasa. Saya kira orang yang mengerti bahasa Arab sangat hafal tentang penggunaan bahasa yang tepat ini.
    Sedangkan kata Allah yang sering digunakan oleh umat Kristiani (dengan aksen allah tetap a semua) adalah upaya untuk pengelabuan kepada Islam dan penganut mereka sendiri karena kesulitan dalam pembedaan konsep Trinitas.
    Jadi menurut saya, benar kalau kata Allah hanya diperuntukkan bagi Islam karena istilah untuk sesembahan yang lain sudah diciptakan oleh para penganutnya sendiri

    Like

  26. wehh.. tak kirain blog ni punyane Ulil Abshar Abdalla, begitu buka halaman ni ada potone Ulil Abshar Abdalla.
    kalo ada Ulil Abshar Abdalla, kemungkinan ada gus mus….

    Like

  27. YA…benar apakah ALLAH itu hanya milik agama Islam,pada hal semua umat manusia tidak memandang agama ataupun status karena semua itu adalah ciptaan ALLAH.
    By.JENI.N.M

    Like

  28. Hehehe… baca komentarnya kok saya jadi merasa “aneh”.

    Apa ada yang tahu kata “Allah” itu berasal dari mana? Turun dari langit atau sudah pernah dipakai dalam tradisi sejarah Arab pra-Islam ? Lalu apa ada yang tahu apa transliterasi kata “Allah” dalam bahasa Arab dengan bahasa-bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab, yaitu Bahasa Aram dan Bahasa Ibrani ? Apa ada padanannya atau memang benar-benar tidak ada sebelumnya dan tiba-tiba jatuh begitu saja ?

    Yang saya lihat adalah kesombongan teologis daripada pemahaman filologis. Bahasa sebagai bahasa harus bisa dipisah dan dipilah dari pemahaman teologis dan keimanan akan suatu kata. Kalau begitu, kenapa orang-orang Islam dan Kristen masih menggunakan kata-kata seperti : Dosa, Sorga, Karunia, Manusia, dll dalam pemahaman keagamaannya, sementara kata-kata itu adalah berasal dari tradisi Hindu Kuno dan berbahasa Sanksekerta ? Kenapa nggak pakai kata-kata berdasarkan ajaran agamanya saja ? :)

    Apa ada yang tahu kalau bahasa Arab itu masuk dalam rumpun bahasa Semitik, sama dengan bahasa Aram (Suryani) yang dipakai di Iran, Irak, Suriah, Lebanon, dll dan juga dengan bahasa Ibrani yang dipakai di Israel, Yordania, SInai, dll ? Coba pahami kembali pemakaian, pemaknaan, transliterasi kata “Allah” dalam sejarah pemakaiannya, bahkan jauh sebelum agama-agama Abrahamaic (Yahudi, Kristen, Islam) itu ada ? Anda bisa terkejut sendiri.

    Jadi kalau pemahaman keimanan yang sempit terus digeneralisasikan pada pemahaman bahasa (filologis) maka yang muncul adalah pemahaman bahasa yang amburadul. :|

    Like

  29. Mas, kalo mau belajar Agama ke timur, belajar teknologi ke barat. JANGAN belajar Agama ke barat, teknologi ke timur … mundur anda!

    Apa? islam minjam istilah? bung, semua istilah yang anda sebutkan itu, sudah disusun untuk Islam, semuanya bertransformasi menuju ISLAM, agama yang sempurna. Allah sendiri yang menyebutkan bahwa yahudi, kristen itu memang ada [zaman dulu], nah Islam lah Penyempurnanya. Jadi, Please, jangan ikut2an melogikakan islam gaya sesat. JIL. Bisa Mati anda gara2 logika sendiri yang gak habis2.

    Jika memang esensi kata Allah yang anda bilang hanya sekedar penyebutan, ITU BUKAN YANG MENJADIKAN ANDA BERHAK MENGINJAK2 LAFADZ ALLAH? dengan alasan itu esensinya cuma tulisan? begitu?

    Ahh, saya bisa aja bilang saya nyantri, saya tau koq tentang balghah, Ushul Fiqh, [padahal saya tahu dari teman yg nyantri..] Mas Ulil, kembalilah ….
    salut buat husin hasan assagaf yang insya Allah lurus di atas ! uhibbuka fillah !

    Like

  30. @ XXX bilang: “Jika memang esensi kata Allah yang anda bilang hanya sekedar penyebutan, ITU BUKAN YANG MENJADIKAN ANDA BERHAK MENGINJAK2 LAFADZ ALLAH? dengan alasan itu esensinya cuma tulisan? begitu?”

    mas XXX: kayaknya itu logika Anda sendiri, yang menjerumuskan dan mengantarkan Anda pada kesimpulan demikian itu, deh.

    Like

  31. @Hasan Husen Assagaf..
    eZzz..
    cape gua bc komen lu..

    @aLL
    lucu2 banget dah komennya..

    @Ulil
    thx buat postnya
    gara2 loe, mereka jd kLuar giginya..

    CARILAH JALAN KEBENARAN PADA DIRI KALIAN MASING-MASING.
    KEBENARAN TIDAK TERLETAK PADA DIA, ATAU MEREKA.
    KEBENARAN TERLETAK PADA HATIMU.
    GUNAKANLAH MATA HATIMU UNTUK MELIHAT KEBENARAN.
    GUNAKANLAH MATA KENINGMU UNTUK MENUNJUKKAN KEBENARAN.
    KEBENARAN SEJATI ADALAH DARI HIDAYAH ILLAHI ROBBI.

    “LAKUM DINUKUM, WALIYADIN”

    Like

  32. @ gold friend.
    tuh itu memang turunan dari “yang”. tapi “yang” adalah sang hyang “taya”. taya artinya tak terdefinisikan. yang tak terdefinisikan adalah allah, tuhan seluruh ummat manusia. orang indonesia jaman dulu sebelum datangnya islam mengartikan kata sang hyang taya sebagai panggilan akrab untuk tuhan mereka. kalo islam datangnya di indonesia maka mungkin istilah allah adalah tuhan (sang hyang taya). adi persoalan nama tidak perlu lagi diperdebatkan. klo dipesantren dulu, terserah menyebut tuhan dengan apa yang penting pas sholat “allahu akbar”. soalnya sudah ada dalam syariat. nah kenapa sholat pakenya sembahyang, soum jadi puasa… jawabannya, masuk pmii… islam indonesia… hahaha…

    salut buat kang juman…

    Like

  33. WAH GAK NYANGKA NI JUMANROFARIF TERNYATA PENGIKUT PEMIKIRAN ULIL JUGA,APA ENTE LUPA TUH PELAJARAN SETIAP MALAM TTG PEMBAHASAN AQIDAH TOHAWIYYAH, WAH BERAT PA YAI TAHU ENTE MENGIKUTI PEMIKIRAN ULIL….ISTIGHFAR KANG

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s