Pendekar Madura


Banjir

Guru: “Kemarin kamu terlambat, alasanmu hujan. Pagi ini terlambat lagi. Apa alasanmu?”

Murid: “Hujan, Bu. Betul, saya ga bohong, Bu!”

Guru: “Yang benar Kamu, ya. Hujan lagi, hujan lagi! Lha, kalau tiap hari hujan, bagaimana?!”

Murid: “Kalau tiap hari hujan, ya, banjir, Bu!

Pendekar Madura

Pendekar 1: “Lihat, lalat sedang terbang saya sabet pakai rencong, dua sayapnya putus!”

Tepuk tangan para penonton membahana.

Pendekar 2: “Lihat, lalat saya sabet pakai badik, badanya terbelah!”

Tepuk tangan para penonton kembali membahana.

Pendekar Madura: “Lihat nyamuk yang sedang terbang saya sabet pakai clurit.”

Sayap Nyamuk masih utuh, badannya juga tidak terbelah. Nyamuk masih terbang berputar-putar.Penonton sepi-sepi saja.

Pendekar 1 & 2: “Ha…ha…ha… Para penonton lihatlah, ternyata Pendekar Madura bukan tandingan kita. Sabetan cluritnya meleset.”

Hu… hu… hu… Terdengar cemoohan dari para penonton.

Pendekar Madura: “Eit, jangan salah. Saya memang tidak berniat membunuh nyamuk itu. Saya cuma mau menyunatnya saja. Coba, deh tangkap nyamuk itu, terus lihat “titit”nya. Pasti sudah tidak ada lagi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s