AIDS Dalam Perspektif Tauhid


Wabah flu burung pernah (atau mungkin masih) menjadi berita hangat dan banyak diperbincangkan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Masyarakat dibikin sibuk dan sebagian dibikin resah, karena khawatir terjangkit wabah mematikan ini. Unggas yang menjadi sumber wabah ini banyak yang dimusnahkan. Penyakit ini pun dianggap menular. Untunglah, orang-orang yang terjangkit wabah ini tidak banyak mendapat perlakuan diskriminatif.

Berbeda dengan wabah flu burung, para pengidap virus HIV dan orang-orang yang positif terkena AIDS banyak yang mendapatkan perlakukan diskrimitaif dan pengucilan, karena kekhawatiran akan menularnya virus yang juga mematikan tersebut.

Sah-sah saja melakukan tindakan antisipatif agar tidak terjangkit suatu penyakit. Karena, sangat manusiawi jika setiap orang lebih memilih hidup sehat tanpa penyakit. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah meminta para sahabat untuk melakukan antisipasi terhadap pengidap penyakit lepra (majdzum), “Jauhilah pengidap penyakit lepra, seperti kalian lari menjauh dari macan.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Namun demikian, Nabi tidak memerintahkan mereka untuk mengucilkan para pengidap penyakit lepra tersebut. Tetap bergaul seperti biasa, namun waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di atas adalah dalam konteks tersebut, bukan dalam rangka mengukuhkan opini masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa menular secara alamiah.

Jika kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada penyakit menular dari atau melalui apapun secara alamiah. Jelas-jelas Nabi pernah menyatakan, “Tidak ada penyakit menular (‘adwa).” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi pernah menemani makan salah seorang sahabat penderita lepra bernama Mu’aiqib bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

Sebab, jika tetap meyakini bahwa suatu penyakit bisa menular dari satu orang ke orang lain, maka bagaimana dengan pengidap pertama pernyakit tersebut?! Dari manakah ia terkena penyakit itu?! Dalam perspektif tauhid, orang kedua dan seterusnya yang “seolah” tertular penyakit, sesungguhnya sama prosesnya dengan orang pertama yang terkena penyakit. Artinya, penyakit yang menjangkiti orang kedua dan seterusnya bukan karena tertular oleh orang pertama. Tidak ada penyakit yang menular secara alamiah. Semuanya terjadi dalam lingkaran kuasa Allah.

Dan hadis Nabi di atas adalah dalam konteks membatalkan opini masyarakat jahiliah kala itu yang sangat kental nuansa syirik, yang meyakini bahwa wabah penyakit yang mejangkit saat itu menjalar secara alamiah tanpa adanya campur tangan kuasa Allah.

Maka, dengan tetap waspada dan antisipatif, seharusnya kita tetap bergaul secara wajar dengan para pengidap penyakit apapun, tanpa melakukan pengucilan dan kekhawatiran yang berlebihan. Justeru orang yang mengidap suatu penyakit tertentu lebih membuntuhkan pendampingan dan perhatian dari kita yang sehat.

One thought on “AIDS Dalam Perspektif Tauhid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s