Kwitansi


Jika ada yang paling aku tunggu saat ini, itulah adzan maghrib. Bolak-balik aku lirik jam. Ah, tapi baru jam empat. Jika “baru” berarti waktu yang dinantikan masih begitu jauh. Sepertinya lelet betul waktu berjalan. Aku tak sabar bercampur gelisah menunggu waktu di mana hari baru dalam kalender hijriyah akan bermula. Maklum, hari ini aku sedang puasa.

Elho, hari Minggu, kok, puasa?

Ssst…! Dengarkan, ini puasa sebab keadaan darurat. Tapi, ini sungguh-sungguh puasa. Ritualnya, syarat dan rukunnya aku penuhi. Jadi, secara fikih, puasaku itu sudah betul, hanya saja sedikit aku politisir: ada kepentingan ekonomi laten di sana. Jadi, puasaku itu mencakup dua bidang sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang ekonomi. Aku tidak hanya sedang beribadah tapi sekaligus sedang melakukan upaya penataan ekonomi untuk menghadapi krisis yang sedang menderaku. Intinya, aku lagi bokek. Sial! Dan duit yang aku punya saat ini adalah selembar sepuluh ribu perak yang sudah dianggarkan untuk berbuka nanti. Betapa berharganya duit sejumlah itu jika berada di tempat dan waktu yang tepat. Aku timang-timang duit semata wayang itu dengan penuh kasih sayang seperti anak tunggal yang cerdas dan menjadi harapan masa depan.

Memang, minggu-minggu ini kehidupanku ibarat pensil yang meruncing pada ujungnya. Semakin hari, semakin cekak saja duitku, semakin harus irit pula aku mengeluarkannya. Dan hari ini adalah ujung paling ujung dari pensil, ketika aku harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh ribu rupiah itu. Bahkan, adegan bertahan itu telah dimulai sejak tadi malam. Dan syukurlah, sampai sore ini aku masih bisa makan, bahkan mungkin sampai besok. Aku tidak mungkin akan menghabiskan sepuluh ribu itu untuk sekali makan saat berbuka nanti. Subsidi anggaran makan harus dikurangi. Ingat, ini masih krisis. Setiap rupiah yang keluar harus atas azas fungsi dan manfaat pokok. Pengeluaran-pengeluaran sekunder biar dihentikan dulu jika ingin tetap bertahan sampai pada saatnya nanti aku kembali berlimpah duit. Entah kapan.

Seperti siang tadi, aku menolak dengan halus pengemis yang mendatangi rumahku, maksudnya, rumah kontrakanku, dengan modus infak pembangunan masjid. Ya, bagaimana lagi, duit sepuluh ribu itu adalah pertahanan pangan terakhirku. Bagaimana aku bisa berbelas kasih kepada orang lain sementara aku sendiri butuh dikasihani. Tapi, keluhan semacam ini hanya ada dalam hatiku. Tidak mungkin, keadaan tak ideal itu aku umbar kemana-mana, ke kawan-kawanku, misalnya, apalagi demi mendapatkan belas kasihan.

Maaf, aku memang tidak mau dibelaskasihani. Ditawari pun aku pantang (tentu aku akan menolaknya dengan sehalus-halusnya agar tak menyinggung perasaan orang yang bermaksud baik), apalagi meminta belas kasihan. Ini soal prinsip. Bagiku, orang yang memberi belas kasihan adalah seorang hipokrit yang narsis. Orang yang berbelas kasih kepada orang lain sesungguhnya ia sedang memanifestasikan cintanya kepada diri sendiri, bukan karena cintanya kepada sesama, bukan karena altruistis atau al-itsar dalam bahasa Arab, bukan karena kesediaan ingin membantu yang lahir dari sifat kedermawanan. Setelah memberikan belas kasihan, ia akan melihat dirinya sendiri sambil bergumam syukur semu, “Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan. Ternyata, aku masih beruntung”. Maka, konteks yang terjadi adalah hubungan antara “si beruntung” dengan “si buntung” yang tak beruntung. “Si beruntung” yang sedang memanfaatkan ketak-beruntungan “si buntung” untuk bersyukur. Ya, mungkin juga belas kasihannya adalah ekspresi ketakutan dan ketidak-mampuan menanggung beban jika dirinya yang berada pada posisi “si buntung” itu. Ah, narsis!

Nah, tapi itu orang lain. Aku tidak seperti itu. Kalau aku, sih, apa yang aku berikan, aku hutangkan, aku sedekahkan, tentu saja atas dasar kedermawananku. Aku tidak punya rasa belas kasihan, yang aku punya adalah kedermawanan. Pemberian seorang dermawan biasanya didasarkan pada kebutuhan faktual orang yang diberi, bukan semata-mata “menggugurkan kewajiban”, maka asal saja memberi. Kepada pengemis, misalkan, aku selalu mengestimasikan kebutuhan makan mereka, minimal dalam satu hari, atau paling tidak sekali makan. Maka, nominal minimal yang mampu aku berikan kepada pengemis adalah sepuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk makan dua kali sehari dengan porsi yang memadai atau untuk sekali makan dengan lauk agak mewah, bagi ukuran mereka tentu. Dan, sekali lagi, itu atas dasar kedermawananku, bukan karena kasihan.

Berdasarkan kedermawananku itu, lantas aku punya prinsip selanjutnya: tidak akan melibatkan orang lain pada setiap masalahku. Termasuk soal krisis ini. Aku lebih memilih menyunat subsidi anggaran makanku dengan berpuasa atau mengurangi jatah makan ketimbang berhutang kepada kawan. Aku tak mau merepotkan orang lain atas masalahku. Juga demi harga diri. Gengsi, seorang aku berhutang. Hendak kutaruh di mana mukaku dan apa kata dunia, jika aku yang dermawan, terbiasa menjadi tumpuan kawan-kawan dalam berhutang, kok ya, ikut-ikutan berhutang. Tidak! Itu tidak akan terjadi. Jangankan berhutang yang tentu akan menurunkan derajat kedermawananku, bahkan, untuk sekedar tahu keadaanku yang sedang cetek duit ini pun, mereka tak akan kubiarkan. Lebih baik lapar mempertahankan harga diri ketimbang kenyang dengan merendahkan diri mengemis dikasihani.

Aku tidak mau harga diriku dekaden karena masalah duit, meski dengan duit pula aku mendapatkan harga dan citra diri yang pantas di antara kawan-kawanku. Di antara mereka, citraku adalah seorang dermawan. Berhutang kepadaku tak sulit. Bahkan aku sering tak menagih hutang-hutang itu. Jika dibayar, syukur. Jika tidak, entah sengaja karena tahu aku dermawan atau karena lupa, juga tak masalah. Perlakuan yang baik, hubungan yang harmonis, dan penghargaan yang layak, sudah cukup bagiku.

Hah, adakah yang lebih nikmat dari seorang yang lapar selain bermalas-malasan sambil berkhayal?!

Kembali aku lirik jam. Asem! Baru jam lima kurang seperempat. Kok, ya, dunia ini lambat betul berputarnya. Aku jadi semakin sebal saja dengan putaran menit dan detik dari jam dinding laknat itu. Berkali-kali dilirik sepertinya semakin malas saja berputar. Tidak tahu apa, cacing-cacing pada bergeliat menari keroncongan sambil menusuk-nusuk dinding perutku!

Duit semata wayang sepuluh ribu perak yang sudah lusuh bin kumal binti kucel itu, yang dalam waktu kurang dari satu jam akan segera berkurang untuk menjadi sebungkus nasi warteg tanpa es teh manis sebagai menu berbuka puasa, aku tatap dengan rasa haru seperti pandangan seorang pengasih terhadap kekasihnya yang hendak berlalu. Aku pandangi duit itu sambil glelengan malas di depan televisi seperti orang lumpuh. Televisi menyala tapi tak aku tonton-perhatikan.

Sementara itu, di hadapanku terhampar bayang-bayang samar tak jelas yang mencitrakan hari-hari esokku. Seketika aku pecahkan, aku gecek, aku idek-idek bayang-bayang sialan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuyarkan segala macam pikiran yang berputar-putar di otakku.

“Assalamu’alakum…”

Siapa lagi itu. Ah, semoga keberuntungan. Dengan malas karena lemas kubuka pintu.

“Wa’alaikum salam…”

“Permisi, Mas Tris. Maaf, kalau mengganggu.”

“O, tidak. Lagi santai, kok.”

“Ini, Mas, seperti biasa.” Seseorang yang sudah akrab di lingkunganku itu menyerahkan selembar kertas yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, bertuliskan:

No: 15. Telah diterima dari: TRISNO ARTHO. Uang sejumlah: SEPULUH RIBU RUPIAH. Untuk pembayaran: KEBERSIHAN DAN KEAMANAN RT 05/RW 08.

Glek!!!

Ciputat, 9 November 2008

One thought on “Kwitansi

  1. Yqa Alloh tuuur..Tur,, kok yo sakke men hidupmu,,, hehe….
    Ku bantu do’a aja meski telat ea….
    cek..ck…ck, hidupmu terlalu sengsara..
    (* dan taukah? kita sama sengsaranya,,*)hikz

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s