Aib


Setiap hari, dari mulai pagi sampai sore, kita disuguhi banyak berita tentang kalangan tertentu yang tanpa risih mengumbar aib dirinya, mempertontonkan perselingkuhan, perceraian, ketidakharmonisan keluarga, perseteruan antara anak dan orang tua, atau pihak-pihak tertentu yang menjelek-jelekan pihak lain, (mungkin) demi mendongkrak popularitas semu atau kepentingan-kepentingan lain. Seolah-olah, bagi mereka hal-hal semacam itu bukanlah aib. Parahnya, fenomena semacam itu didukung dan dijadikan ladang bisnis oleh media penyembah ratting. Padahal, sekecil-kecil dan sebenar-benar apapun aib, seharusnya selalu ditutup dan dijaga.

Dalam Islam, menjaga harga diri atau kehormatan (hifz al-‘irdh) merupakan salah satu dari lima prinsip dasar syariat yang harus dipertahankan oleh setiap muslim. Empat lainnya adalah menjaga agama (hifz ad-din), menjaga jiwa (hifz an-nafs), menjaga akal (hifz al-’aql), dan menjaga harta (hifz al-mal). Setiap muslim harus menjaga dan mempertahankan lima hal itu dari apapun yang bisa mengganggu atau merusaknya. Dan menutup aib merupakan bagian dari menjaga harga diri (hifz al-‘irdh) yang menjadi hak setiap muslim, baik untuk dirinya atau orang lain.

Dan suatu larangan, mengumbar aib diri sendiri, maka apalagi mengorek-ngorek aib orang lain. Kita dituntut untuk menutup aib. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang menutupi kejelekan orang lain, Allah akan menutupi kejelekannya di akhirat kelak.” (HR Bukharid dari Ibnu Umar).

Maka, Nabi pernah mengajarkan sebuah doa, berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar di atas, “Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan dan perlindungan dalam kehidupan beragamaku, kehidupan duniaku, kehidupan keluargaku, dan harta bendaku. Ya Allah, tutup dan jagalah kejelekanku (aibku).” (HR Abu Daud dari Ibnu Umar). Ibnu Umar menceritakan, bahwa Nabi membaca doa tersebut setiap hari dan tidak pernah meninggalkannya.

Begitulah seharusnya kita melihat aib diri sendiri dan kejelekan orang lain. Kita sama sekali tidak diperkenankan mempertontonkan aib sendiri apalagi aib orang lain. Bahkan untuk sekedar tahu urusan orang lain tanpa alasan maslahat pun tidak diperkenankan.

Orang-orang yang mempertontonan aib maksiatnya, dosa maksiat tersebut tidak akan diampuni oleh Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan diampuni dosanya (mu’afan), kecuali mujahirin.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Nabi menjelaskan, bahwa mujahirin adalah orang-orang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari tanpa tanpa diketahui oleh orang lain. Pada saat itu, Allah SWT sedang menutup aib (perbuatan dosa) orang tersebut, dari penglihatan orang lain. Namun, pada pagi harinya, pelaku dosa itu justeru membuka aibnya sendiri, yang telah Allah tutup, membeberkan kepada orang-orang apa yang ia kerjakan pada malam hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

2 thoughts on “Aib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s