Infak, Yuk!


“Perumpamaan harta yang diinfakkan di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, yang pada setiap bulirnya berisi seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS Al-Baqarah [2]: 261)

Infak secara bahasa berarti mempergunakan harta untuk keperluan apapun. Namun yang bernilai ibadah adalah jika harta yang digunakan tersebut semata untuk mengharap ridha Allah SWT dan memiliki unsur maslahat, dalam hal ini untuk orang lain. Perintah berinfak Allah SWT tujukan kepada siapapun yang dalam genggamannya terdapat rezeki, sesuai dengan kadar rezeki yang dimilikinya.

Allah SWT berfirman, “Orang yang diberi kelapangan rezeki hendaklah memberi infak menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi infak dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS Aththalaq [65]: 7).

Mengapa Allah SWT begitu besar meliapatgandakan pahala infak? Sebab dalam infak ada unsur berbagi kenikmatan, kebahagiaan, dan perhatian terhadap kondisi orang lain. Inilah yang menjadikan infak begitu bernilai di sisi Allah SWT. Dalam kaidah fikih dikatakan bahwa ibadah sosial (ibadah muta’addiyah) lebih utama dari ibadah individual (ibadah qashirah). Karena dalam ibadah sosial terdapat unsur berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Itulah semangat dan nilai terbesar di dalam infak.

Karena semangat itulah Allah SWT melarang berbagi materi, namun disertai dengan menyakiti perasaan si penerima. Sebab, hal itu dapat merusak nilai ibadah tersebut di sisi Allah SWT.

Dengan jelas, Allah SWT menekankan hal tersebut, “Orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, dengan tidak menyebut-nyebut pemberiannya dan tidak pula menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 262).

Walaupun harta yang kita infakkan berkurang secara kuantitas, namun sesungguhnya pada saat itu, kita sedang meningkatkan kualitasnya. Sebab, nilai suatu harta bagi Allah SWT bukanlah kuantitas, tapi kualitas, yaitu saat hak serta kewajiban dalam harta tersebut dipenuhi, dan memberikan manfaat kepada yang lain.

Dan pengurangan kuantitas harta untuk infak tidak akan membuat kita kekurangan harta, sebab Allah SWT telah menjaminnya. “Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah Pemberi rezeki terbaik.” (QS Saba [34]: 39).

One thought on “Infak, Yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s