Puasa-Puasa Selain Ramadhan


Berbicara tentang puasa, galibnya dikaitkan dengan bulan Ramadan. Ini wajar, karena pada bulan ini umat Islam berkewajiban menjalankan rukun Islam keempat, yaitu puasa sebulan penuh. Padahal, semestinya tidak selalu demikian. Sebab, Allah lewat Rasul Muhamamad sendiri menyariatkan banyak puasa selain puasa wajib Ramadan, sebagai tindak lanjut dari spirit yang dibangun dalam Ramadan.

Ini bisa dilihat dengan disyariatkannya puasa sunah enam hari di bulan syawal. Bahkan Nabi memberikan “iming-iming”, puasa Ramadan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari setelahnya, pahala yang diperoleh seperti puasa satu tahun. (HR Ad-Darimi). Lagi-lagi, “iming-iming” pahala “seperti puasa satu tahun” adalah semata simbol. Itu adalah idiom Allah, logika Allah yang disampaikan dengan logika manusiawi melalui kalkulasi matematis agar mudah dipahami oleh manusia. Sebab, “pahala” adalah abstrak, yang menungkinkan dipahami oleh nalar manusia dengan hal-hal yang kongkrit, contonya dengan kalkulasi matematis semacam itu. Intinya, wallahu’alam, orang yang berpuasa wajib Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, memiliki peluang investasi kebaikan yang tak terhingga banyaknya, untuk dirinya sendiri, sebagai bekal kehidupan abadi kelak.

Maka, “pahala satu tahun” tidak perlu lantas dirasionaliasikan; pahala puasa Ramadhan tiga puluh hari digandakan seperti pahala tiga ratus hari (pahala satu hari puasa digandakan sepuluh sepadannya, atas petunjuk man ja a bi al-khasanah falahu ‘asyru amtsaliha; siapa yang membawa amal kebaikan, maka ia berhak mendapatkan pahala sepuluh kali lipat). Jika pahala Ramadhan ditambah pahala enam hari puasa Syawal (pahalanya digandakan menjadi enam puluh kali lipat), atau tiga ratus ditambah eman puluh, maka total jendral sama dengan tiga ratus enam puluh, atau setara dengan jumlah hari dalam satu tahun. Pun, secara kalkulasi matematis mendekati tepat, tidak lantas dipahami hakikatnya semacam itu.

Kalkulasi pahala secara matematis atau disimbolkan dengan benda-benda duniawi tertentu (seperti pahala akan dibangunkan masjid di surga), sudah menjadi “kebiasan” Allah setiap kali menyariatkan amalan-amalan tertentu, sebagai testimoni, sebagaimana anak kecil yang mesti diberi hadiah untuk mau melaksanakan perintah orang tuanya, atau seperti para pedagang yang selalu mengharap untung dari barang dagangannya. Yang demikian tidaklah salah. Namun, seiring dengan perkembangan kedewasaan keberagamaan, sudah sepatutnya penghayatan keberagamaan tidak didasarkan pada logika kekanak-kanakan atau logika untung rugi ala pedagang. Tapi penghayatan yang muncul dari kesadaran sebagai mahluk atas segala kebijaksanaan dan kemurahan Sang Khalik yang tak terhingga dan terbatas.

Terkait soal puasa, Imam Ghazali memberikan tiga kategori laku puasa seorang muslim. Pertama, puasa awam (shaum al-‘umum), yaitu puasa yang dikerjakan sekedar menggugurkan kewajiban, hanya menahan lapar dan haus sepanjang siang serta menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Barangkali bisa disebut puasa model “fikih”.

Kedua, satu tingkat di atasnya adalah “puasa khusus” (shaum al-khusus). Imam Ghazali memperkenalkan nomenklatur ini untuk mendeskripsikan puasa yang memiliki jiwa sehingga mampu menjadi kontrol bagi pelakunya untuk menggerakan seluruh anggota badannya ke arah positif dan maslahat. Tidak ada yang meluncur dari mulut kecuali ucapan kebaikan. Tidak ada yang terdengar dari telinga kecuali suara kebaikan. Tidak ada yang terlihat dari mata kecuali pandangan kebaikan. Tidak ada langkah kecuali menuju kebaikan. Tidak ada gerakan tangan kecuali memberikan manfaat kepada sesama.

Ketiga, lebih tinggi dari semua itu adalah puasa hati, pikiran, dan tindakan. Artinya mengarahkan semua hal hanya untuk Allah dan memalingkannya dari kecenderungan-kecenderungan duniawai yang menunggangi dan melekat, sehingga tidak terjebak menjadi budak dunia. Kecenderungan ini bukan berarti mengajarkan kebencian terhadap duniawi yang belaka benda mati (oleh karenanya tak patut dibenci). Tapi mengatur jiwa justru agar menjadi tuan bagi dunianya untuk kemsalahatan bersama. Imam Ghazali menyebutnya dengan shaum khusus al-khusus.

Allah menyebut, puasa Ramadhan disyariatkan sebagai pengasah bagi umat agar memiliki ketakawaan. Bagi saya, ketakwaan adalah proses spiritual yang tak henti-henti sampai mati, yang pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu-waktu tertentu, atau dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Diperlukan sikap istikamah, berkesinambungan. Di sinilah, menurut saya, hikmah disyariatkannya puasa-puasa sunnah, sebagai tindak lanjut spirit dan tujuan takwa yang hendak dicapai dalam Ramadhan. Meski Ramdhan datang berkala, namun spiritnya tetap bisa dibangun pada bulan-bulan selainnya, dengan puasa sunnah. Sehingga jalan ketakwaan lewat puasa tidak hanya ditempuh melulu pada Ramadhan, tapi di sepanjang tahun.

Allah lewat Rasul-Nya sendiri begitu banyak menyariatkan puasa-puasa sunnah. Di sepanjang tahun selalu ada puasa yang dikerjakan pada saat-saat tertentu. Di antaranya ada yang dikerjakan secara berkala setiap tahun, seperti puasa enam hari setelah Ramadan, puasa hari Arafah, hari tarwiyyah. Nabi juga memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dan puasa yang dikerjakan setiap bulan antara lain puasa tiga hari di pertengahan bulan (hijriah), yang disebut dengan puasa al-ayyam al-bidl (hari-hari putih). Adapun puasa yang kerjakan dalam kala mingguan adalah puasa hari senin dan kamis, atau muasani hari kelahiran kita sebagaimana Rasul berpuasa hari senin yang merupakan hari kelahirannya.

Dari puasa-puasa sunnah tersebut, yang paling utama adalah puasa yang menjadi amalan Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari buka. Nabi bersabda, “Puasa yang paling utama adalah puasa yang dikerjakan saudaraku, Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari berbuka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s