Ramadhan Diawali Rahmat. Dhaif!!!


Salah satu hadis kondang di bulan Ramadan adalah, Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahanya adalah ampunan, dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.[1] Karena ada tiga keistimewaan tersebut, maka masing-masing menempati sepertiga dari bulan Ramadhan. “Rahmat” menempati sepuluh hari pertama, “ampunan” pada sepuluh hari kedua, dan “pembebasan dari neraka” pada sepuluh hari terakhir. Para “dai artis” kita kerap mengumandangkannya saat Ramadhan datang. Mereka adalah para penyeru dengan penampilan artifisial yang menawan, layaknya artis. Wajah yang rupawan dengan polesan make-up, “wardrobe” yang nyetil, retorika dan artikulasi yang menarik, serta pandai memainkan ekspresi wajah. Singkatnya, sebagai penyeru, dari sisi penampilan dan gaya, mereka cukup menarik dan “mengundang”, sehingga memudahkan dalam penyampaian tema, termasuk peran mereka dalam menyampaikan hadis kondang di atas. Beberapa hari lalu, saya juga mendegar salah satu “dai artis” kita menyampaikan hadis di atas.

Tapi, tahukah Anda, sebenarnya hadis di atas tidak layak disampaikan. Hadis tersebut tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari sisi akademis-ilmiyah, terutama dari sudut pandang ilmu hadis, lebih spesifik lagi dari ilmu takhrij hadis (sub-pembahasan ilmu hadis untuk menemukan sumber otentik suatu hadis, kemudian menentukan status kualitasnya).

Periwayat dan Sanad Hadis (Rangkaian Periwayat)

Hadis di atad diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa, Ibnu ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir. Sementara sanad hadis tersebut adalah: Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin al-Shalth, dari al-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad. Jika digambarkan dalam sekema, maka seperti ini:

Skema periwayat hadis dimaksud. Nama berwarna merah menunjukkan titik lemah hadis tersebut.

Kualitas Hadis

Dalam hasil penelitiannya, Imam Suyuthi menilai hadis di atas dha’if (lemah). Sedangkan menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ahli hadis masa kini, hadis itu munkar. Hadis munkar adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi (periwayat) yang pernah melakukan kesalahan fatal, pelupa, atau terbukti senagai seorang pelaku maksiat (fasiq). Hadis munkar merupakan bagian dari hadis dha’if, bahkan sangat lemah, sehingga sama sekali tidak dapat dijadikan pegangan atau dalil, sekali pun untuk beramal kebajikan (fadhailul a’mal). Sebagai hadis dha’if, ia menempati urutan ketiga setelah matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu).

Titik lemah hadis di atas terletak pada dua orang periwayatnya, masing-masing adalah Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalth (pada skema, nama yang berwarna merah).

Menurut kritikus hadis Ibnu ‘Adiy (w. 365 H), Sallam bin Sawwar (lengkapnya Sallam bin Sulaiman bin Sawwar) masuk dalam kategori munkar al-hadis (dinilai munkar untuk meriwayatkan hadis). Sementara Imam Ibnu Hibban (w. 354) menyatakan, Sallam bin Sulaiman tidak bisa dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan hadisnya.

Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk. Secara kebahasaan artinya “ditinggalkan”. Sedangkan dalam definisi ilmu hadis, matruk adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh sebagai pendusta.

Oleh sebab itu, sekali lagi, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk persoalan apa pun, dan tidak layak pula disebut-sebut dan disampaikan dalam ceramah atau pengajian Ramadhan. Dan jika pun disampaikan, mesti disertai penjelasan tentang kedha’ifan hadis tersebut.

Maka, akan lebih mencerahkan, jika para dai artis kita, dengan segala penampilan artifisialnya yang serba menarik, lebih menambah bobot substansialnya dengan tidak mengesampingkan sisi akademis-ilmiah pada tema ceramah yang disampaikannya. Tidak hanya mengikuti logika televisi untuk performance, tapi juga melandasi tema ceramahnya dengan kedalaman logika akademis.

Tulisan ini disari-sadurkan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Jakarta, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.


[1] أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار.

One thought on “Ramadhan Diawali Rahmat. Dhaif!!!

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s