Syukur


Suatu ketika, seorang tabi’in berkunjung ke rumah Aisyah, istri Rasulullah. Ia ingin mengetahui tentang perilaku Rasulullah yang paling menakjubkan. Aisyah menjawab, “Adakah yang tidak menakjubkan dari Rasulullah?!”

Suatu malam, beliau menghampiriku. Sangat dekat sekali hingga kulit kami saling bersentuhan. Kemudian beliau berkata, “Wahai putri Abu Bakar, izinkan Aku bermunajat kepada Tuhanku.” Aku menjawab, “Tapi Aku tidak ingin jauh darimu. Aku ingin selalu di sampingmu.” Kemudian beliau berwudlu dan salat. Aku tetap di sampingnya, memperhatikan beliau salat. Selama salat, beliau menangis. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, menetes membasahi dadanya.

Selesai salat, Aku bertanya kepada beliau, “Rasul, kenapa Engkau menangis? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu dan menjaga dirimu dari segala kenistaan?”

Beliau menjawab, “Aku hanya ingin bersyukur kepada Allah. Allah telah menurunkan ayat: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan hembusan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh dalam semua itu terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang mau berpikir (Al-Baqarah: 164).”

“Adakah alasan bagiku untuk tidak bersyukur?!” (HR Ibnu Hibban).

Makna dasar syukur adalah memberikan pujian kepada orang yang telah memberikan kebaikan, dengan menyebut atau mengingat kebaikannya sebagai balasan. Syukur seorang hamba kepada Allah berarti selalu berzikir setiap waktu kepada-Nya dan melakukan ketaatan. Di dalam Alquran, Allah menyifati diri-Nya dengan al-syakur, yang artinya Allah yang selalu membalas kebaikan hambanya, sekecil apapun.

Syukur terbagi dalam tiga kategori, pertama syukur dengan lisan, yaitu dengan mengakui bahwa segala anugerah yang ada di dunia ini hanya dari Allah, dengan mengucapkan tahmid atau kalimat thayibah lainnya. Kedua, syukur dengan badan atau amalan, yaitu dengan mengkhidmatkan semua gerak badan dan amalan untuk beribadah kepada Allah dan meraih rida-Nya. Ketiga, syukur dengan kalbu, yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala anugerah hanya dari dan milik Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi.

Syukur lain yang tak kalah istimewa adalah ketika kita telah mampu bersyukur atas anugerah syukur. Sebab kesediaan kita untuk bersyukur adalah sebuah anugerah tersendiri dari Allah yang patut disyukuri. Jika diteruskan, maka ini akan menjadi mata rantai syukur dan nikmat yang tidak akan putus.

Maka, sesungguhnya syukur harus menjadi bagian dari hidup. Disadari atau tidak, di setiap kedipan mata, di setiap hembusan nafas, di setiap helai rambut yang bergoyang, di setiap keringat yang menetes lewat pori-pori kulit, di setiap sel darah yang mengalir di dalam tubuh adalah bagian dari anugerah dan kebesaran Allah. Adakah alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Allah?!

Allah berfiman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s