Dendang Kehidupan Biduan Dangdut


Pada suatu malam Minggu, saya ngeluyur. Ah, sekedar iseng ikut kawan-kawan kost. Lagi pula, mau apel kemana dan dengan siapa, toh pacar sudah putus beberapa bulan yang lalu. Raga boleh ngeluyur, tapi nalar dan hati semoga tetap bisa diatur. Akur!

Awalnya, di sore hari, salah seorang kawan tersebut menginformasikan, di daerah Legoso Ciputat akan ada pementasan organ tunggal dangdutan kelas kampung, entah dalam rangka apa. Okelah, malam hari, sekitar jam setengah sepuluhan, kita berempat berangkat dengan dua sepeda motor ke tempat yang dituju. Benar saja informasi seorang kawan tadi.

Ketika kami datang, seorang biduan sedang melantunkan lagunya dengan goyang badan seadanya, dan sesekali melenggak-lenggokkan pinggulnya. Soal kostum, sudah tentulah “standard” para penyanyi dangdut. Celana dan baju ketat menonjolkan lika-liku lekuk tubuh. Jika bukan celana, maka baju terusan hanya sampai beberapa senti di atas lutut. Penampilan artifisial menjadi utama atau sangat utama, meski kemampuan pas-pasan. Pada pentas dangdut itu, bagi kebanyakan penonton, barangkali kualitas suara tak jadi soal, yang penting mereka bisa menikmati keriangan yang dipancarkan pentas itu. Seorang kawan berujar, “Kita lihat saja dulu. Kalau penyanyinya “mantap”, kita bisa berlama-lama di sini.” Bukan “mantap” dalam kualitas suara, pastinya.

Sementara itu, para penonton mengelilingi panggung. Beberapa orang naik ke atas panggung, bergoyang mengikuti irama dangdut, tentunya sambil nyawer dengan gayanya yang khas. Dan yang tidak punya anggaran nyawer, tapi ingin tetap bergoyang, cukup bergoyang di bawah panggung saja. Di sisi yang lain di bawah panggung, anak-anak kecil menatap lugu aksi si penyanyi. Ada juga yang naik ke panggung, bahkan bergoyang meniru orang-orang dewasa. Saya yakin, mereka melakukannya dengan kepolosan, tanpa nalar, tanpa hasrat, tanpa nikmat sebagaimana jika orang-orang dewasa melakukannya. Hanya keriangan khas anak kecil. Tapi, kemana orang tua mereka? Bukankah seharusnya mereka sudah tidur? Ah, mungkin justeru orang tua mereka yang mengajak ke tempat itu.

Di sisi lain, di samping tempat saya berdiri, beberapa orang sepertinya sedang menikmati anggur merah. Aromanya kuat menyengat.

Menonton pentas dangdut kelas kampung itu, saya teringat dawuh Rasul yang menitahkan bahwa perempuan yang berjalan genit melengak-lenggokkan badannya, “berpakaian tapi telanjang” (kasiyah ‘ariyah), tidak akan menyium aroma wangi surgawi (maka apalagi masuk ke dalam surga). Apakah pentas dangdut tersebut salah satu praktek dari titah Rasul itu, apakah para penyanyi dangdut itu kelak tak dapat menikmati surga, apakah mereka para pendosa, apakah kemudian pentas dangdut itu berarti pentas kemungkaran. Saya berguman.

Jika itu adalah pentas kemungkaran oleh para pendosa, apakah kemudian saya harus marah, menegakan amar ma’ruf nahi munkar, karena tidak mampu dengan “tangan” atau “mulut”, ya dengan hati. Jika memang semua itu tak bisa, mbo’ yo hengkang saja dari pentas itu, agar mata ini tak brengsek, telinga ini tak tuli, hati ini tak busuk sebab kemungkaran itu, itung-itung mempraktekkan doa Rasul yang selalu dipanjatkan hampir setiap hari; allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’iy wamin syarri bashariy wamin syarri lisaniy wamin syarri qalbiy wamin syarri maniyyiy. Saya masih berguman.

Entahlah. Saya tak juga hengkang, masih tegak berdiri, “bertafakur” tentang ragam dinamika mahluk Tuhan di area pentas dangdut itu. Berharap saja, siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan terserak yang dibisa dipungut dari keriangan di malam itu.

Entahlah. Saya seperti tak berhasrat mengelaborasi guman perspektif agama tersebut, lalu mengambil keputusan. Barangkali karena saya termasuk orang yang tak terlalu relijius, maksudnya tidak memiliki kecenderungan serba agama sebagai satu-satunya perspektif dalam melihat kehidupan. Bukankah kehidupan ini terlalu kompleks untuk dipahami hanya dengan perspektif agama?! Oleh karena itu, semestinya agama tidak menjadi satu-satunya perspektif untuk “menghakimi”nya.

Entahlah. Di tengah keriangan pentas dangdut, di antara guman perspektif agama, ada guman lain coba memahami; perempuan-perempuan itu hanya berusaha mencari nafkah, mandiri menghidupi diri sendiri, dengan cara mereka sendiri yang secara kebetulan atau mungkin pilihan – atau mungkin juga karena tak ada pilihan selain – sebagai biduan dangdut dengan segenap konskuensi dan logika umum dangdut. Denyut nadi kehidupannya berdetak di antara alunan musik dangdut. Narasi kehidupannya terbaris pada bait-bait lagu dangdut. Bagi mereka, barangkali dangdut adalah dendang kehidupan.

Jika kaum moralis dan agamawan menasihati mereka dengan anggapan ekses-ekses negatif yang potensial terjadi dari profesi mereka, atau bahkan ditakut-takuti tidak akan masuk surga, barangkali mereka acuh tak acuh. Bukan tak percaya, tapi dikarenakan nasihat semacam itu kurang strategis dan kongkrit bagi dendang kehidupan mereka. Dari pada mencerna nasihat yang tidak strategis, ya mending fokus saja dengan kerjaan sendiri yang lebih kongkrit bagi kehidupan mereka.

Seorang biduan dihadirkan dalam acara dialog di sebuah televisi swasta. Wajah si biduan itu dipakaikan topeng, agar tidak diketahui identitasnya, sehingga ia tidak malu, seolah hendak dicitrakan, profesi biduan dangdut adalah hina. Ketika ditanya, apakah Anda tidak merasa risih dengan dandanan yang Anda kenakan saat tampil, apakah Anda menyadari ekses-ekses kurang baik yang bisa ditimbulkan dari profesi Anda, khususnya bagi anak-anak, apakah Anda bla, bla, bla… si biduan menjawab, “Ya, gimana lagi, wong kerjaan emang gini.”

4 thoughts on “Dendang Kehidupan Biduan Dangdut

  1. Salam Alaikum
    Tulisannya sederhana, tapi “nonjok” banget, mau gimana lagi, peace ah, salam kenal, yuk mari HAIL

    Like

  2. salam kenal juga semuanya…
    melihat persoalan kehidupan dari sisi agama & moral memang “gampang”, karena persoalan “hitam-putih”. tapi, persoalan kehidupan ini kompleks. ketika coba dilihat dari sisi-sisi yang lain, karena “susah”, ya jawab aja “mau gimana lagi”. seolah susah sesusah susahnya. ini yang kadang tidak disadarai oleh para kelompok-kelompok “garis keras”, fundamental”, “radikal” dan ajektif-ajektif lainnya. mungkin, kehidupan mereka terlalu miring ke sisi “agamis”. harus hitam atau putih. jika tidak, “bak, bik, buk”, gua gebuk loe! sesat loe! kafir loe!
    oke, deh, salam pis juga…

    Like

  3. saya hanya ingin mengomentari pernyataan mas, bahwa kehidupan terlalu komplek kalo hanya dilihat dari perspektif agama. mungkin lebih tepat kalo menurut saya Agama terlalu komplek untuk dilihat dari perspektif ‘hitam putih’. bagaimanapun agama harus bisa masuk diseluruh kehidupan bahkan disudut paling kecil sekalipun. hanya saja pemahaman agama yang perlu diperluas perspektifnya. masalah kebenaran kembali ke nurani masing2, dengan berangkat dari nilai2 agama.
    salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s