Kontradiksi Berpikir Abu Bakar Ba’asyir


Oleh Ulil Abhsar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla, 2004

Baru-baru ini, kita membaca berita di sejumlah media tentang mundurnya Abu Bakar Ba’ayir dari organisasi di mana selama ini dia menjabat sebagai amir atau komandannya, yaitu Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Alasan mundurnya Ba’asyir menarik sekali. Dia berpandangan bahwa sistem kepemimpinan yang dianut oleh MMI makin melenceng dari sunnah atau teladan Nabi Muhammad.

Dia mengatakan bahwa MMI selama ini memakai sistem kepemimpinan kolektif dan demokratis. Sistem itu, di mata Ba’ayir, tidak Islami. Orang-orang seperti Ba’asyir memandang demokrasi sebagai kafir, tidak Islami, tidak sesuai dengan sunnah Nabi.

Ba’asyir berencana mendirikan jama’ah atau organisasi baru yang di mata dia lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam organisasi baru itu, Ba’asyir akan memakai system kepemimpinan yang lebih Islami, bukan sistem kepemimpinan demokratis yang pelan-pelan mulai diadopsi oleh MMI akhir-akhir ini.

Ada beberapa alternatif nama untuk organisasi baru yang hendak ia dirikan itu, misalnya: Jamaah Ansharussunah, Jamaah Ansharullah, Jamaah Muslimin Ansharullah, dan Jamaah Ansharuttauhid. Kalau kita jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, bahkan fanatik sekali.

Saya menulis esei pendek ini bukan karena saya menganggap fenomena MMI atau Ba’asyir sebagai fenomena yang penting. Esei ini ingin menjukkan kontradiksi dalam cara berpikir dan “mindset” orang-orang seperti Abu Bakar Ba’ayir itu. Saya berpendapat, metode gerakan yang dipakai oleh orang-orang Ba’asyir itu mengandung kontradiksi yang akut. Kalau mereka tidak bersikap apologetik dan pura-pura tak tahu, mereka mestinya menyadari sejumlah kontradiksi yang akan saya tunjukkan di bawah ini.

Metode gerakan seperi dipakai Ba’asyir itu juga rapuh dari dasarnya, sehingga cepat atau lambat, gerakan itu akan rontok sendiri. Ba’asyir hidup dengan sebuah “delusi” yang tak dia sadari.

Ba’asyir mengkleim bahwa ingin mendirikan organiasi baru yang lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Betulkah kleim semacam itu? Apakah mungkin mendirikan organisasi baru dalam era modern ini tanpa melanggar prinsip mengikuti sunnah Nabi?

Organisasi baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, di mata saya,sudah pasti tidak akan sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab pada zaman Nabi, tidak kenal sebuah entitas bernama organisasi-organisa si seperti yang akan dia dirikan itu. Pada zaman Nabi semua masyarakat hidup sebagai komunitas tunggal tanpa organisasi atau pengelompokan apapun. Begitu Ba’asyir mendirikan jamaah atau organisasi baru, persis pada saat itu dia meninggalkan sunnah Nabi.

Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun -yakni pesantren yang didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba’asyir itu—tidak sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab pada masa Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktekkan oleh pesantren dan madrasah di Ngruki itu. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem ujian, tidak ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti kita saksikan dalam semua praktek sekolah modern saat ini.

Orang-orang seperti Ba’asyir ini memakai logika dan cara berpikir yang aneh dan nyaris tak masuk akal.

Terhadap kritik ini, Ba’asyir boleh jadi menjawab: bahwa system pendidikan ala madrasah yang mengenai kelas-kelas itu tidak bias dikatakan bertentangan dengan sunnah Nabi, sebab sistem itu menyangkut urusan duniawi, bukan masalah ibadah.

Persis di sini soalnya: bukankah soal pemilihan pemimpin, atau soal kepemimpinan secara umum, adalah masalah duniawi pula? Kenapa dia keluar dari MMI karena menganggap bahwa sistem kepemimpinan dalam organisasi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi? Kenapa dia tak membubarkan pesantren Ngruki saja, sebab pesantren itu juga memakai sistem yang tak ada pada atau dicontohkan oleh Nabi.

Ba’asyir mungkin beranggapan bahwa masalah kepemimpinan bukan soal duniawi, tetapi masalah keagamaan. Pertanyaannya, apakah Nabi memberikan petunjuk yang detil mengenai soal kepemimpinan ini dengan seluruh aspek-aspeknya? Kalau jelas ada petunjuk, kenapa sahabat-sahabat bertengkar hebat saat Nabi wafat, persis untuk memperebutkan kepemimpinan?

Bahkan jenazah Nabi tak sempat dikuburkan selama tiga hari, karena sahabat sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi pengganti Nabi dan bagaimana pula cara memilihnya.

Paradoks lain yang menggelikan adalah bahwa Ba’asyir menolak mentah-mentah sistem demokrasi, tetapi dia menikmatinya sejak pertama kali menginjak bumi Indonesia setelah kembali dari pengasingan di Malaysia selama bertahun-tahun (karena diusir oleh pemerintahan Presiden Suharto yang tak demokratis itu). Demokrasi di Indonesialah yang memungkinkan dia mendirikan organisasi seperti MMI, dan demokrasi itu pulalah yang menjamin hak dia nanti untuk mendirikan organisasi baru yang konon lebih sesuai dengan sunnah Nabi itu.

Kampanye dia selama ini untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia tak pernah diganggu oleh aparat keamanan justru karena di Indonesia ada sistem demokrasi. Dengan demikian, Ba’asyir mengecam demokrasi, seraya diam-diam menikmati “roti” demokrasi setiap saat tanpa memberi kredit apapun. Dalam hal ini, Ba’asyir tidak melaksanakan hadis yang terkenal, “man lam yasykur al-nas lam yasykur al-Lah”, barangsiapa tak mensyukuri manusia (yang terlah berbuat baik pada dia), maka dia sama saja tak mensyukuri Tuhan.

Ba’asyir menikmati roti demokrasi, tetapi dia tak pernah memberi kredit apapun pada sistem yang memberinya kebebasan itu. Dia malah mengencam sistem itu sebagai sistem kafir karena berasal dari Barat. Tindakan dia ini bertentangan dengan sunnah Nabi sebagaimana tercermin dalam hadis di atas.

Kalau konsisten dengan perlawanannya atas demokrasi, kenapa Ba’syir tak pindah ke negara Arab Saudi saja yang sama sekali tak menerapkan demokrasi? Saat dia diusir dari Indonesia pada awal 80an dulu, mestinya pada saat itu dia punya kesempatan untuk pindah ke negeri yang sama sekali tak menerapkan demokrasi. Eh, dia malah menungsi ke Malaysia yang juga, dalam tingkat tertentu, menerapkan demokrasi.

Setelah Indonesia makin demokratis paska tergulingnya Soeharto pada 1998, dia malah dia kembali ke Indonesia? Kenapa dia kembali ke negeri yang justru makin intensif mengalami proses demokratisasi? Apakah diam-diam Ba’asyir mencintai demokrasi, walau di mulut meluapkan kecaman pada sistem itu?

Mungkin Ba’asyir akan menjawab pertanyaan-pertanya an saya ini dengan mengatakan: Saya balik ke Indonesia karena saya mau menegakkan Negara syari’ah! Saya mau mendirikan kekuasaan Tuhan, sistem yang ia sebut dengan istilah yang aneh sekali, yaitu “Allah-krasi”, yakni kekuasaan Allah sebagai lawan dari “demokrasi”, kekuasaan rakyat.

Pertama, sistem yang ia sebut sebagai Allah-krasi itu sendiri tidak pernah ada dalam sunnah atau dikatakan secara tegas oleh Nabi sendiri. Dalam hal ini, dia telah melanggar prinsip yang ia anut dengan gigih itu, yaitu hendak hidup sesuai seluruhnya dengan sunnah. Nabi sendiri tak pernah menyebut kekuasaan yang ia praktekkan di Madinah dulu sebagai Allah-krasi.

Kenapa dia menciptakan sesuatu yang tak ada dalam agama. Bukankah ini bid’ah, dan setiap bid’ah, sebagaimana ajaran yang diyakini oleh orang-orang semacam Ba’asyir ini akan membawa seseorang masuk neraka (kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fi al-nar). Akankah Ba’asyir masuk neraka karena menciptakan bid’ah Allah-krasi itu? allahu a’lam! Hanya Tuhan yang tahu.

Kedua, agar dia bisa memperjuangkan sistem Allah-krasi di Indonesia, dia tak bisa tidak butuh sebuah lingkungan politik yang memungkinkan perjuangan itu; dan itu, sekali lagi, adalah sistem demokrasi. Sebab, jika dia hidup di negeri yang tidak demokratis, sudah tentu dia tak akan bisa memperjuangkan idenya tersebut.

Jika Ba’asyir misalnya menetap di Saudi, dia sudah ditangkap dari sejak awal dan tak akan pernah keluar dari penjara, sebab dia mengampanyekan sistem yang menentang kekuasaan yang ada di sana. Hanya di negeri demokratis seperti Indonesialah dia bisa bergerak dengan leluasa. Bagaimana dia bisa mengecam sistem demokrasi yang telah memberinya hidup selama ini?

Paradoks yang lebih parah lagi dan mendasar adalah keinginan Ba’asyir mendirikan sebuah negara syari’ah, negara yang berlandaskan system Allah-krasi itu. Konsep negara itu sendiri tak dikenal secara eksplisit pada zaman Nabi. Nabi sendiri tak pernah menyebut komunitas di Madinah sebagai “daulah” atau negara. Dalam Piadam Madinah yang terkenal itu, komunitas di Madinah hanya disebut sebagai “ummah” saja. Kata ummah di sana tidak terbatas pada umat Islam, tetapi juga umat-umat lain di luar Islam, termasuk Yahudi.

Kalau hendak konsisten mengikuti sunnah Nabi, tindakan Ba’asyir untuk menciptakan nama “negara” itu sendiri untuk menyebut sebuah komunitas yang hendak ia dirikan jelas tidak sesuai dengan teladan atau sunnah Nabi.

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka ini cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Pesoalannya sepel: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.

Inilah yang kita lihat pada kasus perpecahan dalam tubuh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sekarang ini. Perpecahan ini juga kita lihat dalam kelompok-kelompok salafi yang lain di sejumlah kota di Indonesia. Pengalaman ini sudah pernah kita saksikan pada Partai Komunis dulu; masing-masing faksi menganggap dirinya paling “ortodoks” dan menuduh yang lain “reformis”.

Ba’asyir keluar dari MMI karena merasa organisasi itu dikelola dengan prinsip yang tak seusai dengan sunnah Nabi. Saya memprediksi, kelompok baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, suatu saat juga akan pecah lagi karena pada gilirannya nanti akan ada kelompok yang merasa lebih konsisten pada sunnah ketimbang yang lain. Begitu seterusnya.

Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang mengkleim paling mengikuti sunnah ini adalah sebuah ayat dalam Quran, tahsabuhum jam’an wa qulubuhum syatta; engkau melihat mereka seolah-olah bersatu (di bawah ide mengikuti sunnah Nabi), tetapi hati mereka seungguhnya saling terpecah-belah. Dengan kata lain, gerakan ini sebenarnya rapuh di dalam, persis karena terlalu menekankan “kesucian” gerakan, purifikasi, dan tidak belajar untuk kompromi dan akomodatif dengan keadaan yang terus berubah.

Watak gerakan puritan di mana-mana selalu mengandung resko perpecahan internal. Jika kita mau belajar lebih jauh lagi, perpecahan dalam tubuh umat Islam selama ini terjadi persis karena dorongan “puritan” itu, yakni masing-masing kelompok merasa paling sesuai dengan Quran dan sunnah. Dengan sikap “sok benar” sendiri itu, mereka dengan mudah menuduh gerakan yang lain kafir, sesat, murtad, syirik, dsb.

Paradoks seperti dihadapi oleh Ba’asyir ini semestinya menjadi pelajaran bagi kelompok-kelompok Islam yang lain. Di mata saya, metode perjuangan Islam ala Ba’asyir sudah mentok dan tak akan membawa umat Islam ke mana-mana. Sangat keterlaluan jika ada orang-orang yang masih percaya atau “terkelabui” oleh tokoh dan metode perjuangan seperti ini.

Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika orang-orang semacam Ba’asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis. Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir itu.[]

19 thoughts on “Kontradiksi Berpikir Abu Bakar Ba’asyir

  1. Aduh bung abdala dinahu…
    nalar liberal dan pluralisme itu maksud anda..kuno dan basi. Nalar anda saja tidak jelas, cara pikir anda ngawur, bagaimana anda menawarkan nalar dan cara pikir yg benar. Tuh kepala anda di masukkan ruang ICU dulu..ntar anda baru sadar. Sampe Kiamat saya tidak akan percaya omongan dan tulisan anda..kecuali anda kembali kepada jalan yg benar..sampe ketmu lageeeeee..

    Like

  2. bung celekit,
    sayang sekali, orang se”kritis” Anda hanya bisa memaparkan “emosi kritis” bukan “nalar kritis” atas sebuah pendapat. semestinya, anda bisa mengelaborasi lebih lanajut, apa yang dimaksud dengan nalar ulil yang “ga jelas”, “cara berpikirnya yang ngawur”. tapi apa mau dikata, sepertinya anda memang cenderung orang yang tidak senang dengan daya kerja nalar, dan lebih senang dengan daya kerja emosi.

    “Sampe Kiamat saya tidak akan percaya omongan dan tulisan anda”… saya kira, kalimat ini menunjukkan kecenderungan anda tersebut.

    maaf, saya tanggapin, dengan mengharap, anda ternasuk orang yang dianggap penting dalam berpendapat, meski komentar anda sebenarnya sangat tidak penting…

    Like

  3. wah percuma dua orang itu dialog, yang satu kejebak paham khawarij, yang satu kejebak paham liberalis. Jadi dua – duanya juga berada di tepi jurang api neraka, hanya dengan pertolongan Allah saja mereka aka selamat.

    Like

  4. jika Anda menganggapnya percuma, maka Anda cuma menambah ke-percuma-an itu… maka anda termasuk orang yang percuma

    iya, mas, kita bakal selamat dari neraka, masuk surga, bahkan masuk neraka sekalipun adalah hak perogratif dan rahmat Allah ta’ala. ibadah dan kebaikan kita cukup “murah” untuk “membeli” surga. dan liberalisme dan khawarijisme yang dianut seseorang – jika dianggap “maksiat” – pun bukan harga yang proporsional untuk menjerumuskan seseorang masuk neraka. neraka cukup mahal umtuk dihargai dengan liberalisme dan khawarijisme… berdoalah memohon rahmat Allah, dan tak perlu memastikan siapapun masuk neraka atau surga…

    Like

  5. Apakah saya mengatakan mereka masuk neraka ?? Tidak, coba baca lagi komentarnya.

    Saya katakan, mereka berada di tepi jurang api neraka. Kenapa ?? Karena paham Khawarij dan Liberalis itu mengajak kepada neraka.

    Betul masuk neraka atau surga adalah haknya Allah, tapi bukankah dengan ilmu segala sesuatunya jadi jelas.

    Contoh kebut – kebutan membawa kepada kepada kematian. Apakah langsung dipahami bahwa yang kebut – kebutan itu sudah mati tidak kan?? Tapi dia dekat pada kematian. Soal jadi mati atau enggak itu hak Allah.

    Tujuannya kan nasihat buat kita, jangan terpengaruh oleh dua tokoh diatas, akrena dua – duanya sedang terlena dengan dua paham yang mengajak kepada neraka.

    Jadi tidak salah saya anggap percuma, karena siapapun yang di ikuti tetap tidak mengubah posisi mereka yang ada di tepi jurang api neraka ??

    wallahu’alam

    Like

  6. menurut saya, sampean terlalu simpel untuk berkesimpulan “mereka berdua” berpaham “mengajak kepada neraka”, tanpa sama sekali meberikan elaborasi yang proporsional… jauh berbeda seekali dengan yang dilakukan ulil dengan artikelnya di atas. meski sampean dengan ulil sebenarya tak layak dibandingkan, namun jika terpaksa dibandingkan, seperti langit dan bumi.

    sebab bagi saya, dan tradisi yang selama ini saya jalani, “pendapat” dan “pernyataan” tidak penting, yang terpenting adalah argumentasi, dalil,. hujjah yang menlandasi pendapat dan penyataan.

    coba, pendapat sampean soal “mengajak kepada neraka” lebih dielaborasi, mungkin akan “mengerikan” sebagai pendapat. sebagaimana ulil berpendapat bahwa cara berpikir ustad abu bakar ba’asyir penih kontradiksi, dengan argumentasinya… bakal top deh…

    (ha..ha.. jika neraka adalah sebuah ketakutan, yo wis ga popo. wong masih di tepinya aja kok. paling “anget-anget” dikit lah).

    Like

  7. Saya tidak akan menunjukkan “error” nya ustadz Ba’asyir, karena sudah diceritakan oleh tulisan diatas. Tapi bapak Ulil sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentang ustadz Ba’asyir, tapi itu bukan urusan saya.

    Yang jadi masalah kata – katanya,

    “Kalau kita jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, bahkan fanatik sekali.”

    dan

    “Orang-orang seperti Ba’asyir ini memakai logika dan cara berpikir yang aneh dan nyaris tak masuk akal.”

    Pertama, Ustadz Ba’asyir tidak seperti orang – orang yang bapak Ulil maksud, yaitu “kelompok” Salafi, karena Ustadz Ba’asyir pernah mengatakan berlepas diri darinya.

    Yang kedua, menurut saya bapak Ulil ini yang aneh, karena memang salasatu tugas seorang muslim adalah harus “dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten”.

    Jadi dua orang jelas “error” kan, yang satu yaitu Ustadz Ba’asyir berlepas diri dari “kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten”, yang satunya lagi yaitu bapak Ulil malah mengatakan aneh pada manhaj (jalan hidup) seperti itu.

    Maka, sebenarnya kalau memang antum membaca artikel itu sendiri seharusnya kata – kata saya pada komentar sebelumnya gak usah dijelaskan panjang lebar seperti ini.

    Tapi, saya sendiri tidak tahu, apakah pemilik blog ini membaca tulisan yang ada diblognya atau tidak, wallahu’alam.

    Like

  8. he..he… bodoh kali ya, kalo saya nulis tapi saya ga mikir, atau mengkliping tulisan orang lain, tapi ga baca dulu…

    “nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi,”… menurut saya ulil tidak sedang menganggap ustad abu termasuk salafi… hanya dia melihat, nama-nama alternatif untuk organiasai barunya, “sangat khas” dengan yang digunakan oleh kelompok2 salafi… (tapi ustad abu termasuk salafi or bukan, bukanb urusan saya)

    kalo sampean bilang, bahwa ustad abu terlepas dari kelompok salafi, itu menunjukkan bahwa “salafi” sangat terbuka untuk diinterpretasikan (memang definisi “salafi” itu interpretatif)… dan menurut saya ga aneh, jika beliau demikian…

    jika dianggap panjang lebar, secara substansial, dari awal, saya hanya ingin tahu penjelasan sampean, bahwa liberalis dan khawarij mengajak ke neraka (syukurlah, ga masuk neraka)…. sebab, dari sampean, saya hanya dapet pernyataan itu, tanpa landasannya… sebab, saya sendiri selalu berhati-hati bicara dosa, pahala, neraka, surga…

    Like

  9. Ya, memang saya yakin tidak mungkin antum melakukan itu, memasukan tulisan tapi tidak tahu isinya.

    Tapi sebenarnya begini yang harus digarisbawahi kan bukan istilah salafi, tapi pernyataan ini lho, bukti pemikiran Ulil yang “error”.

    “nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, bahkan fanatik sekali

    Artinya, Ulil sendiri kan yang mendefinisikan istilah Salafi. Padahal dengan gigih ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, bahkan fanatik sekali adalah suatu yang diperintahkan kita sebagai orang Islam.

    Yang kedua, malah Ulil sendiri yang menyimpulkan Ustadz Ba’asyir ini bagian dari salafi dengan kata – kata, “nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi”

    Artinya, seseorang yang menamai organisasi, yayasan atau kelompok dengan nama – nama seperti itu, maka pasti beraffiliasi dengan salafi.

    Makanya di paragraf berikutnya Ulil mengatakan, “orang-orang seperti Abu Bakar Ba’ayir itu”, kata “seperti” menunjukkan arti kata mempunyai kesamaan.

    Jadi, tidak salah kalau saya bilang Ulil tidak tahu juga soal Ustadz Ba’asyir, karena sang Ustadz pasti menyanggah bahwa dia “tidak seperti” orang – orang itu.

    Lihat, Ulil sendiri yang menyimpulkan istilah Salafy itu seperti apa, makanya ini “error”nya karena kenapa malah jadi “masalah” kalau “seperti” Salafy.

    Begitu mas.

    Like

  10. Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika orang-orang semacam Ba’asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis. Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir itu

    wah…wah…wah si Ulil ini, jelas-jelas salah lah dia bilang seperti ini, penangkal paling manjur, untuk kita yg percaya kpd Allah SWT dan agamaNya yg sempurna ini adalah nalar yang sehat dan kritis tapi bukan Al Quran dan Al Hadits , kethuilah hai Ulil cs (termasuk yg punya blog), akal manusia sangat terbatas, sesuatu yg terbatas itu tidaklah sempurna, kesempurnaan hanya milikNya, Al Qur’an adalah pedoman hidup yang sempurna dan tidak ada kesalahan di dalamnya (semua muslim/orang-orang yang lurus setuju akan hal ini, termasuk JIL, soale ada Islamnya juga dalam kata J”I”L, tapi klo JIL membantah berarti JIL bukan islam donk, iyah gak),

    hai ulil dan cs, gak usah mengatakan bahwa menurut saya, eh hemat saya, dll, itu menurut anda, dan anda merasa yang paing benar(ingat bahwa manusia terbatas)…..sbg muslim sejati kita akan berpatok pada 2 sumber (Al Qur’an dan Al Hadits), jaadi sebaiknya ulil cs ganti kata menurut saya yah menjadi menurut Al Qur’an dan dikuatkan oleh Al Hadits

    bagaimana mungkin orang yang notabene tdk mengikuti pedoman islam (Al Qur’an) ingin membahas tentang islam……. kalo gak percaya Al Qur’an sebagai pedoman gak usah bawa2 nama islam lha sodara. buat agama lain sana yang liberal (liberal? liberal ini bebas kan?? ckckckck ntar lama2 seks udah bebas dan idak tabu lagi, bukan hanya seks, mencuri, memperkosa, membunuh, homo/lesbi udah di halalin lg.)

    naudzu billah min dzalik, tanda2 datangnya kiamat dgn munculnya berbagai dajjal2 di dunia, jgn biarkan fitnah dajjal masuk ke Indonesia,,,ALLAHU AKBAR

    Like

  11. oh iyah aq liad2 ada referernsi keren mengenai kebohongan si Ulil ini (BOS JIL, baca : Bos Jaringan Iblis Liberal)

    klik sini

    silahkan bagi saudara-saudara yg ingin mencari kebenaran, gak usah baca bagi orang tolol yg tidak mengamalkan Al Quran dan Al hadits sebagai pedoman. cuz di situs tsb di dalamnya terdapat ayat-ayat suci Al Qur’an

    Like

  12. aduh JIL Y???ya ampun udah jelas mah g usah dperdebatkan!!!!tu mah paham diluar Islam…paham para ahli neraka,,,,paham yg justru bertentangn dengan Islam….saya sudah skitar 5 tahun berada didalamnya,,,jd sedikit banyak saya mengerti tentang organisasi ini…organisasi ini jelas kesesatannya,,,maka kembalilah kita semua berpegang kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist!!!!

    Like

  13. ULIL,ULIL.ORANG KOK KAYAK GAK PUNYA AKAL SEHAT!!! SOAL SISTEM SEKOLAH DI NGRUKI EMANG SEPERTI SEKOLAH2 LAIN,ROSUL SAW GAK MELARANG.YANG DILARANG PEMIKIRAN ENTE YANG RADA GILA TAPI KAYANYA GILA BENERAN. USTADZ ABU BUKAN SALAFI,TAPI MUSUHNYA ORANG2 SALAFI ! GK PERNAH BACA BERITA YA? MENDING KE KEBON BINATANG.TINGGAL SAMA BINATANG2 YANG SAMA KAYA ANDA! DAN ALLAH SUDAH MELAKNATI KAMU GARA2 PERNYATAANMU ULIL!

    Like

  14. ULIL,ULIL.ORANG KOK KAYAK GAK PUNYA AKAL SEHAT!!! SOAL SISTEM SEKOLAH DI NGRUKI EMANG SEPERTI SEKOLAH2 LAIN,ROSUL SAW GAK MELARANG.YANG DILARANG PEMIKIRAN ENTE YANG RADA GILA TAPI KAYANYA GILA BENERAN. USTADZ ABU BUKAN SALAFI,TAPI MUSUHNYA ORANG2 SALAFI ! GK PERNAH BACA BERITA YA? MENDING KE KEBON BINATANG.TINGGAL SAMA BINATANG2 YANG SAMA KAYA ANDA! DAN ALLAH SUDAH MELAKNATI KAMU GARA2 PERNYATAANMU ULIL!

    sejak kapan anda tahu kalo Ulil di laknat Alloh…saya curiga anda ini ingin mencoba menjadi Tuhan….tp apa daya anda ini tak sanggup…

    Like

  15. Kata Uli: “Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun -yakni pesantren yang didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba’asyir itu—tidak sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab pada masa Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktekkan oleh pesantren dan madrasah di Ngruki itu. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem ujian, tidak ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti kita saksikan dalam semua praktek sekolah modern saat ini.”

    Pernyataan Anda sangat kontroversial. Sebab, Anda sendiri, katanya, lulusan pesantren. Sudah lazim diketahui bahwa Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (wakil Rois Am PBNU periode 1994‑1999dan Rois Am PBNU 2004-2010). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Bahkan dia nyaris mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syari’ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam) dan Lalu lembaga pendidikan Islam yang dikelola oleh mertuamu sendiri, KH. Mustofa Bisri, yakni Pesantren Raudlatut Talibin, Rembang, Jawa Tengah.

    Kalau Anda mengatakan Al Mukmin, Ngruki, Solo, pesantren yang dikelola Ustad Abu tidak sesuai, berarti pesantren mertuamu sendiri salah juga? Dan bagaimana dengan pesantren-pesantren yang pernah Anda masuki? Beranikah Anda mengeritik pesantren-pesantren itu salah? Dengan risiko dipecat sebagai mantu? Dengan risiko bakal dianggap murtad oleh mantan ketua pesantrennya sendiri? Beranikah? Wallahu alambishhawab

    Like

  16. @ Hakim: Duh Kang, logika Anda itu kebalik-balik. Ulil tidak sedang mensesat-sesatkan sistem pondok pesantren. Yg dia lakukan adalah mengikuti alur logika Ba’asyir yg ingin segala sesuatunya persis “plek” seperti jaman Nabi. Merunut logika Ba’asyir ini, maka pondok pesantren dan segala pernak-pernik didalamnya adalah “bid’ah” yg tidak ada di jaman Nabi. Tapi, apa dengan begitu pesantren jadi sesat? Ya tidak dong! karena metode, sistem adalah urusan duniwai yg bisa berubah-ubah sementara yg urusan duniwai adalah menjaga agama dengan menjaga keberlansungan pengajaran ilmu2 syari’ah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s