Menjaga Hati


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setan dan malaikat selalu membisiki hati manusia. Jika seseorang terbisik dalam dirinya untuk melakukan kejahatan dan mengingkari kebenaran, maka itu adalah bisikan setan. Dan jika terbisik untuk melakukan kebaikan dan membenarkan yang benar, maka itu adalah bisikan malaikat.”

Nabi melanjutkan, “Jika seseorang merasakan dalam hatinya bisikan kebaikan, maka pujilah Allah. Jika merasakan bisikan kejahatan, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Pendek kata, hadis tersebut menjelaskan bahwa hati adalah pintu masuk yang terbuka bagi perbuatan baik dan buruk.

Dalam hadis yang lain, Nabi menjelaskan bahwa hati menjadi semacam pemimpin bagi jasad secara kesuluruhan dan menjadi tolak ukur darinya. Beliau bersbada, “Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh manusia. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati (­al-qalb).” (HR Bukhari).

Penjelasan Nabi tersebut menjadi peringatan bahwa hati memiliki pengaruh luar biasa dalam membentuk perilaku manusia. Baik atau buruk perilaku seorang manusia sangat bergantung dari bagaimana ia menjaga hati. Oleh karena itu, Allah mengajarkan manusia agar selalu menenteramkan hati dengan memusatkan kesadaran akan Allah. Dinyatakan dalam Alquran, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28).

Sebab, ketika hati tenteram saja, bisikan kebaikan mudah masuk. Dan akan mudah dirasuki oleh bisikan kejahatan, pada saat ia sedang gundah dan kosong dari kesadaran akan Allah.

Hati memiliki karakter yang mudah terombang ambing. Terkadang merasa lapang, terkadang sempit. Terkadang menerima, terkadang menolak. Terkadang condong kepada kebaikan, terkadang kepada kejahatan. Maka tidak berlebihan jika doa yang paling sering dibaca oleh Nabi adalah, “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.”

Salah seorang sahabatnya bertanya, “Wahai Nabi Allah, kenapa engkau begitu sering memanjatkan doa itu?” Nabi menjawab, “Wahai Sahabat, tidak ada seorang pun kecuali hatinya ada dalam genggaman Allah. Jika berkehendak, dia bisa saja meneguhkan hatimu pada agamamu atau memalingkannya.” (HR Tirmizi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s