Kiai Duladi & Hal-Hal Tak Terduga


Sepulang ngelmu dari Universitas King Saud, Saudi Arabia, tahun 1985, Kiai Duladi, selain membawa “oleh-oleh” gelar master, juga memiliki angan-angan, dirinya akan terjun ke suatu pulau terpelosok atau daerah terpencil, membangun rumah di sana, mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan di saat tidak sedang mengajar, waktunya dihabiskan dengan bercocok tanam, berdagang, atau “profesi kampung” lainnya. Angan-angan yang terdengar “aneh”, setidaknya jika diperdengarkan saat ini. Bukankah dengan gengsi “master”nya, dari luar negeri pula, bisa saja ia mendapatkan pekerjaan yang layak atau setidaknya meramaikan wacana intelektual tingkat nasional dengan keilmuan yang dimilikinya. Tapi tidak. Pilihan “kiai kampung” rasanya lebih menarik baginya.

Kyai Duladi saat memberikan sambutan pada Wisuda Pesantren Darus Sunnah 2006

Pada awalnya, saat ini, dan mungkin pada akhirnya, Kiai Duladi tetap seorang “santri” yang terbenam dalam dirinya “nilai-nilai utama pesantren”, begitu Gus Dur menyebutnya (Abdurrahman Wahid, Menggerakan Tradisi, 2007). Nilai-nilai utama pesantren tersebut terlampau kuat mengakar dalam dirinya. Sepuluh tahun di pesantren Tebuireng (tiga tahun pertama di Pesantren Seblak, yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Tebuireng), di bawah asuhan para kiai sepuh (yang semuanya telah almarhum), semisal KH Idris Kamali, KH Adlan Ali, KH Shobari, dan KH Syansuri Badawi, barangkali sejak saat itulah akar nilai-nilai itu menjalar dalam jiwanya.

Sebagaimana pernah ditulis Gus Dur, setidaknya ada tiga nilai-nilai utama pesantren. Pertama, cara memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai ibadah. Semenjak pertama kali memasuki pesantren, seorang santri sudah diperkenalkan pada dunia tersendiri, di mana peribadatan menempati kedudukan tertinggi.

Kedua, dari sudut perlakuan pada kehidupan sebagai ibadah inilah baru dapat dimengerti bagaimana kecintaan pada ilmu-ilmu pengetahuan agama dapat tertanam begitu kuat di pesantren. Ilmu-ilmu agama, sebagaimana dimengerti di lingkungan pesantren, merupakan landasan yang membenarkan pandangan beribadah di atas. Sebaliknya, dengan landasan pandangan beribadah inilah, supremasi ilmu-ilmu agama secara mutlak ditegakkan. Jalan untuk mengerjakan ibadah secara sempurna, menurut pandangan ini adalah melalui suatu upaya menuntut ilmu-ilmu agama secara tidak berkeputusan, dan kemudian menyebarkannya. Ilmu dan ibadah kemudian menjadi identik, dengan sendirinya muncul kecintaan yang mendalam pada ilmu-ilmu agama, sebagai nilai utama lainnya yang berkembang di pesantren. Kecintaan pada ilmu-ilmu agama, mampu membuat seorang kiai mengajar berjam-jam, meski hanya kepada beberapa gelintir santri, setiap hari. Ketiga, nilai-nilai utama pesantren lainnya adalah ketulusan.

Ketiga nilai-nilai di atas telah mengakar kuat dalam jiwa Kiai Duladi. Kendati, setelah dari Tebuireng, ia melanjutkan sembilan tahun menuntut ilmu di “negeri wahabi”, tak lantas nilai-nilai itu luntur, dan tak latah pula ia menjadi wahabi. Maka, begitu kembali ke tanah air, yang terangan dalam pikirannya adalah menjadi “kiai kampung”, menyebarkan ilmu-ilmu agama di pulau terpelosok atau daerah terpencil sebagai manifistesi kecintaannya terhadap ilmu-ilmu agama, dengan niat ibadah. Tak apa, berkiprah di pelosok jauh dari hiruk pikuk manusia, tak peduli dengan gengsi “master”nya, memanifestasikan ketulusan.

Dan jika kini Kiai Duladi telah mendirikan pesantren, mengajarkan ilmu-ilmu agama, tapi bukan di pulau terpelosok atau daerah terpencil, namun di Ciputat, oleh karenanya ia harus menetap di sana, adalah hal yang tak pernah ia duga sebelumnya dan bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya. Yang barangkali ia duga dari dirinya adalah ia mencintai ilmu-ilmu agama dan menyebarkannya.

Bukan bagian dari “rencana besar”, pada mulanya pesantren itu adalah kombinasi seorang “guru” dan “murid” yang sama-sama mencintai ilmu-ilmu agama. Satu murid, sang guru menerimanya tanpa sungkan. Satu, dua murid, sang guru mengajarinya dengan ringan. Satu, dua, tiga, dua puluh sampai empat puluh murid, sang guru melayaninya tanpa beban, cuma rumahnya yang tak begitu luas jadi kewalahan menampung para murid yang antusias mengikuti pengajiannya, hingga mengharuskan dipindahkan ke masjid yang tak jauh di belakang rumahnya. Begitulah, sampai pada akhirnya, berdirilah (bangunan) pesantren, “Darus Sunnah” namanya, atas dasar semangat dan komitmen mencintai ilmu-ilmu agama dan menyebarkannya.

Pesantrennya lumayan mungil, dan tentu santrinya sedikit, meski yang berhasrat lumayan banyak. Oleh karenanya, setiap tahun ajaran baru, kurang lebih hanya menerima dua puluh santri, sekaligus meluluskan kurang lebih (juga) dua puluh santrinya. Biarlah keadaannya seperti ini. Alasan lain, Kiai Duladi kerap mengatakan, lebih baik punya beberapa mobil tapi semuanya berfungsi, bisa memberikan manfaat, ketimbang punya banyak mobil, tapi yang mogok juga tak kalah banyaknya, hanya bikin repot. Artinya dengan sedikit santri akan lebih mudah mengontrol satu per satu santrinya, termasuk perkembangan intelektualnya. Dengan sedikit santri, akan mudah baginya mendeteksi siapa di antara santrinya yang perlu lebih banyak disuruh “baca” dan “ditanya”. Ada relasi batin yang dekat kiai-santri pada kondisi semacam ini.

Meskipun selalu ada saja percikan “keluhan”; seandainya semua yang berhasrat masuk ke pesantrennya bisa diterima. Tapi, apa mau dikata, pesantrennya terlampau mungil dengan peminat terlampau besar.

Namun, selalu ada saja hal yang tak terduga pada diri Kiai Duladi. Sebagaimana menetap di Ciputat dan pengajian rumahannya berkembang menjadi pesantren, yang bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya, dalam beberapa tahun ke depan, pesantrennya tak akan lagi mungil (tanah cukup luas telah dipersiapkan), sehingga memungkinkan menerima lebih banyak santri dan tentunya dengan segenap “konskuensi alamiah” dari berbagai sisi, mungkin juga bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya (kelak, jika santrinya banyak, barangkali Kiai Duladi tak akan lagi beranalogi santri dan mobil, atau akan sulit mendeteksi satu per satu santrinya. Ah, siapa duga, selalu ada hal yang tak terduga).

Pola hidupnya seperti tidak berjalan berdasarkan obsesi atau rencana besar, tapi hanya mengolah sedemikan rupa “pemberian Tuhan” yang ada dalam genggamannya, yang semakin lama semakin berkembang dan terus berkembang. Mungkin tidak ia duga sebelumnya.

Salam maaf dan hormat saya untuk Njenengan, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub…

2 thoughts on “Kiai Duladi & Hal-Hal Tak Terduga

  1. Bagus kalau banyak ulama yang mau bertauladan demikian, sambil mempraktekkan kehidupan yang benar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s