Asketisme Alamiah Pesantren Dusun


Beberapa tempo lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Banten, atas ajakan seorang kawan yang tak lain adalah mantu kyai pemilik pesantren tersebut. Dari Jakarta (Ciputat), kurang lebih empat jam perjalanan mesti ditempuh, meski sebenarnya bisa lebih singkat jika menggunakan sepeda motor. Namun atas beberapa pertimbangan, diputuskan untuk menggunakan kendaraan umum. Ya, itung-itung sekalian menyaksikan ragam manusia dan fenomena kemanusiaan yang bisa dijumpai, terutama di kereta api. Siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan tercecer yang dibisa dipulung dari ragam dan fenomena itu. Bukankah “hikmah” adalah “barang hilang” seorang beriman, di mana pun dan pada apa pun ia terlihat, petiklah?!

Soal pesantren, ingatan saya merujuk ke almamater, Pesantren Tebuireng Jombang. Sebagai pesantren besar (secara kuantitas) dan berada di lokasi yang sangat mudah berakses ke tempat-tempat pelayanan publik, mudah dipahami jika pesantren ini, secara infrastruktur, bagai penjara, dalam arti dikelilingi tembok tinggi, dan memberlakukan aturan ketat, sebagai istrumen untuk menekankan asketisme yang menjadi kultur khas dunia pesantren, yang kontras dengan dunia di luarnya.

Maka, bagi sebagian santri, adalah anugerah agung jika bisa menyelip dari tembok besar dan menikmati dunia luar, menyairkan saturasi akibat tekanan pola hidup asketisme, apalagi pada jam-jam di mana aturan-aturan “dilarang keluar” berlaku, seolah ada kenikmatan tersendiri. Dinamika pesantren yang bagai “penjara” tersebut, dengan sangat dibatasinya mengakses segala sesuatu yang bukan bagian dari pola hidup asketis, menjadikan hal itu teristimewa, sehingga menggoda untuk dicari kemudian dinikmati.

Adalah suatu kenikmatan tersendiri, bisa nongkrong di warung-warung yang tersebar di sekeliling pesantren, sekedar mencari “waktu dan tempat” yang tepat untuk bisa merokok, sekedar minum kopi, nonton tv atau mencari (mencuri) waktu untuk melepaskan diri dari basa basi lainnya yang jarang bisa dilakukan di lingkunan dalam pesantren. Atau, yang sedikit ekstrim, “kluyuran” malam di daerah kota, mencari tempat penyewaan “home theater”, nonton seharian, dan sebagainya. Sungguh, “aktifitas sampingan” semacam itu terasa istimewa dilakukan dan menggoda, meski dengan segenap resiko.

Budaya asketisme yang mengharuskan tidak melekat pada “kelezatan duniawi”, yang diagungkan pesantren sekaligus sebagai ciri khasnya, mesti dipertahankan dan ditanamkan kepada setiap santri, sedangkan dunia di luarnya terus berkembang dengan alur dan aturannya sendiri tanpa kompromi. Dalam keadaan demikian, “kesadaran moral” seorang “santri remaja” yang masih labil dan rentan dari godaan dunia di luar pesantren, tidak bisa diandalkan. Maka, tembok tinggi tebal yang mengelilingi pesantren, dan dengan segala aturan di dalamnya, adalah sekat pekat yang mengawal praktik pola hidup asketisme tersebut, dari pengaruh pola hidup yang kontras di luarnya.

“Penembokan” semacam itu lazim di pesantren besar, dus berada di lokasi (kota) yang secara geografis mudah diakses (atau mengakses) sarana publik (yang kerap menjadi godaan budaya asketisme). Penekanan budaya asketisme yang membuat jenuh pada satu sisi, dan perkembangan “dunia luar” yang menggoda pada sisi yang lain, kerap menimbulkan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan pesantren dari santri yang jenuh dengan budaya itu (katakan saja; mereka hanya butuh penyegaran atas kejenuhan).

Di pesantren kecil (kuantitas santri sedikit), tentu mudah saja untuk mengidentifikasi satu per satu santrinya. Sehingga para santri mesti berpikir matang untuk “menyairkan kejenuhan” di luar pesantren.

Dan pesantren yang terletak di dusun, dengan akses transportasi yang cukup “menekankan kesabaran”, sehingga meyulitkan akses ke sarana-sarana pelayan publik yang memungkinkan santri bisa meyairkan kejenuhannya (atau, karena letaknya yang di dusun, sehingga sedikit sekali tersentuh “budaya” terbaru. Saya yakin di sekeliling pesantren semacam ini, tidak ada rental PS), barangkali tak (belum) memerlukan tembok tinggi mengelilingi area pesantren, untuk mengawal praktik pola hidup asketisme, sebagaimana di pesantren besar di kota atau pinggiran kota.

Dengan kata lain, pola hidup asketisme di pesantren dusun lebih berjalan alamiah, tidak memerlukan penekanan aturan-aturan ketat yang menjenuhkan. Pesantren dusun yang mayoritas santrinya berasal dari warga sekitar, dusun sekitar, kecamatan sekitar, atau kabupaten sekitar, dan satu, dua tiga santri yang berasal dari luar daerah, yang memiliki kultur kesahajaan relatif sama, bisa menjadi faktor. Artinya, pesantren tidak merasa perlu memberlakukan instrumen aturan pola hidup asketisme yang ketat, toh mereka telah terbiasa dengan pola semacam itu di lingkungannya masing-masing. Tidak merasa perlu memberlakukan aturan, misalnya, santri dilarang membawa HP. Tanpa ada aturan itu pun, mereka tidak akan membawanya. Kesahajaan hidup mereka bisa diandalkan. Atau pemberlakukan aturan “tutup gerbang” atau “jam malam”, untuk mengantisipasi santri yang “kluyuran”. Tanpa memberlakukan aturan semacam itu pun, tidak akan ada santri yang berhasrat melakukannya. Sebab, hendak kemana dan ngapain mereka. Toh, tidak ada tempat menarik di luar sana, apalagi menggoda. Yang ada hanya kegelapan malam. Pada akhirnya, pesantren dusun tak memerlukan tembok tinggi tebal mengelilingi pesantren.

Berkunjung ke sebuah pesantren di Banten milik kyai mertua dari seorang kawan, seperti itulah yang saya lihat. Terbayang dalam pikiran saya, barangkali Tebuireng pada usia mudanya, belum berkeliling tembok seperti saat ini, karena “dunia luarnya” belum begitu menggoda, sebagaimana pesantren milik kyai tadi, kini. Mungkin saja, jika pesantren milik kyai itu telah tua kelak, setua Tebuireng saat ini (Tebuireng berdiri tahun 1899), akan juga dibangun tembok di sekelingnya, sebagaimana Tebuireng, kini. Sebab, barangkali dusun itu kelak akan ramai, seiring dengan perkembangan budaya yang kian menggoda, sementara budaya asketisme dunia pesantren mesti dipertahankan.

2 thoughts on “Asketisme Alamiah Pesantren Dusun

  1. mungkin ada benernya bung. Dulu Pesantren tempatku mengaji juga berada di sudut dusun, padahal dari jarak ke kota deket. Tepatnya PP. At Thohiriyah Canga’an Bangil. Pondokannya masih sangat sederhana, tanpa tembok pembatas. Tapi sekarang sepertinya telah dikelilingi tembok, dan ada beberapa bangunan baru untuk madrasah. Mungkin kita bisa bersyukur bahwa pesantren makin lengkap fasilitasnya dan lebih modern. Asal ilmu yang diajarkan selalu membawa barokah tanpa terlindas modernisasi. * :) jadi inget pas ngliwet nasi di tengah pekarangan belakang gutekan *

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s