Tentang Ujian Hidup


Ada persepsi yang kurang tepat dipahami tentang ujian hidup. Manusia kerap terjebak pada pemahaman bahwa ujian hidup adalah jika hanya berkaitan dengan kemalangan dan musibah; kemiskinan, bencana alam, kehilangan harta, keluarga, jabatan, dan sebagainya. Persepsi demikian kerap menghantarkan pada keterputus-asaan.

Karakter semacam itu Allah nyatakan dalam firman-Nya, “Dan jika Kami berikan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (Hud: 9). Lalu, mereka berburuk sangka kepada Allah, “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku”. (Al-Fajr: 16).

Persepsi kurang tepat tersebut muncul karena yang menjadi ukuran adalah materi duniawi. Merasa sedang diuji jika materi jauh atau hilang darinya. Sebaliknya, jika materi dan kemudahan duniawi ada dalam genggamannya, ia akan berpikir bahwa Allah sedang memuliakannya. Allah berfirman, “Adapun manusia apabila Tuhan mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. (Al-Fajr: 15).

Padahal kasih sayang dan memuliakannya Allah terhadap hamba-Nya hanya diukur dengan kadar ketakwaan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13).

Sedangkan kemalangan dan kesenangan duniawi hanyalah materi penguji bagi sifat kehambaan manusia, apakah ia menjadi hamba yang lebih dekat atau justeru menjadi semakin jauh dari Allah, menjadi hamba yang bersyukur dan bersabar atau sebaliknya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al-Kahf: 7)

Itulah esensi yang mesti dipahami oleh orang yang beriman, dari apapun yang menimpanya, baik berupa kesenangan atau kemalangan. Kesenangan dunia yang kita dapatkan bukan berarti Allah sedang memuliakan dan mencintai kita, dan kemalangan hidup yang menimpa kita bukan berarti Allah murka dan benci kepada kita.

Bagi seorang mukmin, kesenangan dunia tidak akan membuatnya bangga dan sombong, dan kemalangan hidup tidak akan membuatnya menderita dan menggerutu. Ia mampu melihat esensi dari segala sesuatu yang menimpanya serta arif dalam menyikapinya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Alangkah menakjubkan sikap seorang mukmin. Apapun yang menimpanya dapat bernilai kebaikan baginya. Hal semacam itu tidak dapat diperoleh oleh siapapun kecuali olehnya. Bila dikaruniai kenikmatan, ia bersyukur. Di sinilah letak kebaikan baginya. Dan bila ditimpa musibah, ia bersabar. Di sinilah letak kebaikan baginya.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bis-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s