Mujahirin


Kata mujahirin adalah bentuk plural dari kata mujahir, yang meruapakan derifasi dari kata mujaharah. Mujaharah memiliki makna dzuhur (terlihat) dan idzhar (memperlihatkan). Dalam terminologi agama mujahirin memiliki arti khusus, yaitu seperti penjelasan Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah. Suatu ketika Abu Hurairah mendengar Nabi SAW bersabda, “Setiap umatku akan diampuni dosanya (mu’afan), kecuali mujahirin.”

Kemudian Nabi menjelaskan, bahwa mujahirin adalah orang-orang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari tanpa seorang pun melihatnya. Pada saat itu, Allah SWT telah menutup dan merahasiakan aib (perbuatan dosa) orang tersebut. Namun, pada pagi harinya, pelaku dosa itu juteru membuka aibnya sendiri, yang telah Allah tutup, dengan memberitahukan kepada orang-orang perbuatan dosa yang telah dikerjakannya pada malam hari.

Pendek kata, mujahirin adalah orang-orang yang bangga atas dosa yang dilakukannya, tanpa terbesit sedikit pun penyesalan di hatinya.

Perilaku muhajirin ini begitu tercela. Orang yang berperilaku demikian sama artinya telah melakukan dosa berlipat. Sebab, perbuatan dosa itu sendiri adalah suatu dosa. Maka, dosa itu menjadi berlipat tatkala, dengan bangga, perbuatannya itu dipamerkan kepada orang-orang. Di balik perilaku muhajirin itu tersirat, bahwa pelakuknya telah berbuat sombong, bahkan meremehkan (istikhfaf) Allah SWT, karena menantang dan menghalalkan perbuatan yang telah diharamkan-Nya. Inilah perbuatan yang menurut Nabi SAW tidak akan terampuni.

Bukankah Allah Maha Pengampun? Benar demikian. Allah SWT akan mengampuni perbuatan dosa yang dilakukan hambanya, selama hamba tersebut mau bertaubat, menyesal, dan menyudahi perbuatan dosanya.

Namun, tidak bagi mujahir. Allah SWT tidak mengampuni mujahir bukan karena Dia tidak berkenan mengampuninya, tapi karena mujahir sendiri yang tidak mengharapkan ampunan Allah SWT. Karena, tentu saja orang yang bangga memperlihatkan perbuatan dosanya kepada orang lain, tidak akan terbesit sedikit pun keinginan bertaubat dan menyesal di hatinya, apalagi menyudahi perbuatan dosanya, sehingga ia akan terus lestari dengan bergelimang dosa.

Manusia secara kesuluruhan tak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Dan seburuk-buruk manusia yang bersalah adalah mereka yang tahu akan kesalahannya, tapi justeru bangga dengannya. Inilah yang disebut mujahir, yang tak akan diampuni kesalahannya oleh Allah SWT.

Sebaliknya, sebaik-sebaik manusia yang bersalah adalah mereka yang tahu dan sadar atas kesalahannya, kemudia bertaubat, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Ibnu Majah, dari sahabat Anas bin Malik, Nabi SAW bersabda, “Setiap anak cucu Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat (at-tawwabun).” Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s