Menakar Keikhlasan


Nilai suatu ibadah tidak semata terletak pada aspek ritual. Artinya, kecukupun dan kesempurnaan ibadah tidak hanya karena telah terpenuhinya syarat dan rukun semata, tetapi juga karena aspek spiritual, yaitu keikhlasan. Kedua aspek tersebut hendaknya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan pada setiap ibadah kita.

Jika aspek ritual hanya menggugurkan kewajiban kepada Allah, maka aspek spiritual atau keikhlasan menjadikan suatu ibadah bernilai di hadapan Allah. Jika faktor ritual hanya untuk kita, maka faktor spiritual akan menghantarkan kita berjumpa dengan Allah SWT.

Allah SWT sendiri telah menjanjikan hal ini, dalam firman-Nya, “Siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahf: 110).

Dalam karya tafsirnya, Imam al-Qurtubi menuliskan bahwa kata “mempersekutukan” oleh mayoritas ulama diartikan dengan “memperlihatkan” atau riya, antonim dari ikhlas. Dengan redaksi lain, ayat tersebut menyatakan bahwa hendaklah beramal saleh dengan ikhlas, jika mengharap berjumpa dengan Allah SWT.

Namun, sebagai amalan bathin, ikhlas bukanlah perkara mudah. Ia adalah rahasia Allah. Kita tidak bisa memastikan, terhadap diri kita sekalipun, bahwa ibadah yang kita lakukan berhias keikhlasan atau tidak. Seorang sufi bernama Abu Ya’qub bin al-Susiy pernah mengatakan, “Jika seorang telah mampu melihat dirinya telah ikhlas dalam beribadah, maka sesungguhnya keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”

Oleh karena itu, sesungguhnya ikhlas tidaklah terucap, tidak pula dirasakan, sekalipun bisa didefinisikan. Begitu lembut ikhlas itu, hanya Allah SWT yang berhak memastikan nilai keikhlasan, dan kita sebatas berusaha memahami dan berusaha menghiasi ibadah yang kita kerjakan dengan keikhlasan.

Sebab itulah Dzun Nun Al-Mishri, seorang tokoh sufi, memaparkan tiga ciri orang yang melakukan ibadah atau perbuatan dengan ikhlas, yaitu, pertama, pujian dan celaan baginya sama saja. Artinya, dipuja tidak bangga, dicaci tidak rendah diri. Kedua, tidak hirau dan tidak pula melihat-lihat pada apa yang dilakukannya. Baginya, apa yang telah dilakukannya ibarat nafas yang ia tarik dan keluarkan tanpa beban, dan tidak menghiraukan bahwa ia telah, sedang, dan akan menarik dan mengeluarkan nafas. Ketiga, tidak mengharap dan menghitung-hitung pahala akhirat. Ibadah yang dilakukan semata karena kesadaran akan Allah SWT.

Allah SWT telah menjanjikan pertemuan dengan orang-orang ikhlas semasa di dunia, dan merekalah orang-orang yang mendapat ridha Allah SWT saat menghadap-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang meninggal dalam keadaan ikhlas kepada Allah dan ikhlas dengan ibadahnya saat masih hidup, tidak mempersekutukannya, melaksanakan shalat dan membayar zakat, maka dia meninggal dalam keadaan Allah SWT telah meridhainya.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s