Cukup Sadar Diri Untuk Berambut Panjang


Beberapa tempo lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat, dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut ‘konvensional” yang hanya mengerti satu model; yang penting dipotong, meski harus menahan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Dari sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat aliyah (SMA), rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena aturannya memang seperti itu. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi memang saya lebih layak, cocok, dan pantas, mungkin juga lebih “cute” dengan itu. Dan jika saat ini berambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira pentingnya “sadar diri”, atau “narsis” jika Anda melihatnya dengan kesinisan, atau mungkin juga “pede”.

Tapi, memang, garis perbedaan ketiga hal itu adalah semu. Seorang kawan enggan menampilkan foto diri pada friendster-nya, alasannya dia bukan tipe narsis (bisa juga karena argumentasi “beraroma teologis” soal “larangan gambar”, atau dalih “bercita rasa moral”; menjaga “harga diri”, atau mungkin juga karena alasan emosional; malu alias ga pede!), sehingga ditampilkanlah citra abstrak yang “dihalalkan”. Apa berarti saya yang menampilkan foto saya sendiri di friendster, termasuk narsis? Bagaimana jika saya katakan, saya cukup sadar diri, cukup pede, atau bahkan terlalu pede untuk menampilkan gambar saya itu. Semu bukan?!

Barangkali, kita mengetahui sosok diri kita masing-masing, namun belum tentu sadar diri. Saya pernah mempunyai kawan yang, katakanlah, “korban mode”. Dia ingin tampil sesuai dengan citra lain yang menurutnya bagus atau tren berpakaian masa kini yang ia lihat. Bila perlu dicari, kemudian dibeli. Setelah dikenakan, barulah sadar bahwa pakaian itu tak cocok untuknya. Jika saja ia sadar diri sedari awal dan pede dengan kesadarannya, barangkali ia tak harus mengeluarkan duit untuk hal yang akhirnya sia-sia. Tapi, paling tidak ia telah memperdebatkan “trial dan eror” untuk menyepakati yang pantas bagi dirinya.

“Ketidaksadaran diri” atau “ketidak-pede-an” agaknya juga melanda sebagian warga negara di negeri bernama Indonesia. Tak henti-hentinya sebagian kalangan menggembar-gemborkan khilafah sebagai “model baju” untuk digunakan Indonesia di tengah-tengah kondisinya yang sedemikian rupa, sebagian yang lain hendak mengenakan model lain sebagai antitesisnya.

Citra ideal soal “baju timur” lebih mempesona bagi sebagian kalangan, dan “baju barat” pun tak kalah pula mempesonanya bagi sebagian yang lain, (seolah meneyampingkan citra pribumi keindonesiaan sendiri), meski citra-citra itu belum tentu cocok teruji dan sesuai dengan kebutuhan – sebagian yang lain mengganggapnya utopia belaka, apalagi menggantikan citra pribumi yang telah melekat selama berabad-abad, dan nyaman-nyaman saja dikenakan, sampai datang citra-citra baru itu. Biarlah Indonesia tumbuh berkembang dengan keindonesiaannya, bukan dengan syariatnya (khilafah), bukan pula dengan ke-liberal-annya. Ketidakjelasan semacam ini justeru menjadi kejelasan karakter Indonesia.

Ekses dari ketidaksadaran diri atas citra sendiri dan silau dengan citra lain adalah tercerabutnya budaya kita sendiri, maka jadilah ia “korban mode”.

One thought on “Cukup Sadar Diri Untuk Berambut Panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s