FPI Yahudi


Simpel, padat, dan cukup terang jika dilirik mata. Tulisan warna putih itu tercoret di aspal jl. Ir H. Juanda yang menjalur antara Pasar Jumat dan pasar Ciputat, tepatnya di mulut salah satu gang yang ada di jalur itu.

Saya yakin benar coretan tersebut memang terbaca seperti itu adanya, setelah sekian kali meyakinkan. Dan mungkin bisa dipastikan “FPI” yang dimaksud adalah “Front Pembela Islam”. Barangkali itu mewakili persepsi pencoretnya terhadap organisasi itu. Persepsinya FPI adalah Yahudi itu bisa jadi atas dasar aksi brutral FPI tepat 1 Juni lalu di Monas. Sebab, “opini jalanan” (karena letaknya memang di jalan) itu tiba-tiba saja ada beberapa hari setelah aksi brutal itu. Saya menduga, coretan itu dibikin pada malam hari. Jalur menuju pasar Ciputat dari Pasar Jumat yang selalu padat di selain malam hari, bisa jadi adalah alasanya. Tak mau meninggalkan resiko diketahui siapa pun termasuk anggota FPI sendiri, mungkin jadi alasan lain

Jika harus dicoretkan di jalan raya padat, bukan ditembok, spanduk, atau di media massa, barangkali media-media itu cukup terhormat bagi orang-orang yang enggan menghormati orang lain, pantas diletakkan di bawah dan biarlah para pengguna jalan ramai-ramai menginjaknya. Begitu, kalau boleh “menafsirkan” opini jalanan si pencoret iseng itu.

Yang masih belum jelas, dari jalur mana dia menemukan jalan sehaluan FPI-Yahudi, sendi-sendi apa yang mendasarkan FPI-Yahudi identik, kenapa FPI harus bersanding Yahudi. Jika tidak pula terang alasannya, menduga saja, pencoret mungkin gerah dan geram terhadap ulah FPI, sebagaimana ia pun gerah dan geram pada ulah Israel – yang diidentikkan Yahudi – terhadap Palestina.

Ah, apa pun yang dimaksud si pencoret itu dengan coretannya, bagi saya, ada pertanda baik dalam diri pencoret tersebut. Pertanda baik, dalam arti, ada keinsafan memahami Islam dan atribut keislaman. Dia telah insaf dan tak lagi tersilap oleh jubah, surban, celana gantung atau atribut Islam superfisial lainnya.

Bagaimana tidak dikatakan insaf; sekelompok orang mendirikan sebuah organisasi yang mengkhususkan membela Islam dan tentu saja mereka Islam, tapi karena kelakuannya sendiri, orang tak lagi sungkan, dan barangkali dengan kesal, mengatakan organisasi itu tidak seperti Islam, dan dengan kurang tepat disepertikan Yahudi. Pada titik penyepertian semacam itu saya kurang sependapat, dan bukan itu titik insafnya.

Jika ada sekelompok orang yang beratribut superfisial semacam di atas, kemudian dengan mengatasnamakan bela agama, melakukan tindakan anarkis, mencelakai yang lain atau melanggar aturan kepatuhan bersama, orang tak lagi serta merta silap mata bahwa itu bagian dari ekspresi beragama sesungguhnya. Inilah titik insaf dimaksud yang bisa disarikan dari coretan iseng tersebut. Mungkin saja dalam benaknya ada titik insaf semacam itu, hanya saja ia salah tingkah.

Bagi saya, ironis, jika masih ada yang terkesima oleh manipulasi “baju”. Yang fatal dari terkesima adalah kecenderungan membela dan membenarkan siapa pun yang memakai “baju” itu, meski tindak tanduknya tidak dibenarkan, merugikan dan bahkan mencelakakan.

Lebih ironis lagi, juga naif, justru jualan “baju” menjadi niaga yang kerap diminati, dan agama adalah “model baju” terlaris dan termenarik untuk mengikat emosi dan mendulang simpati, atensi, atau bahkan provokasi. Barangkali itu bisa dipahami, sebab legitimasi agama adalah Tuhan. Agama, setitik pun tak boleh dinodai. Menodai agama berarti mencemarkan nama baik Tuhan. Karakter Tuhan yang serbamaha, justru sang manusia sendiri yang acapkali sensitif dan mudah tersinggung dengan apa pun yang dianggap menodai ke-maha-anNya, walau setitik, sehingga perlu dibela, lahir dan batin.

Kurang lebih kondisi semacam ini yang menjadi keberangan Sarjana X – karakter dalam “Tuhan Tidak Perlu Dibela” yang pernah ditulis Gus Dur, 26 tahun lalu di majalah Tempo – yang seolah mendapatkan pencerahan setelah bertemu dan mendapat wejangan dari guru tarekat.

“Allah itu Mahabesar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Mahabesar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud dan kekauasaan-Nya. Allah tidak perlu disesali jika “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Barangkali wejangan semacam itu menjadi nilai bagi sebagian orang, dan berhenti sekedar menjadi bacaan, bagi sebagian yang lain. Jika Sarjana X, pada 26 tahun lalu, telah mendapatkan pencerahan atas keberangannya, maka keberangan-keberangan yang sama akan tetap menghinggapi sebagian orang – contohnya, ya, si pencoret iseng itu – seiring dengan tetap adanya para pembela Tuhan yang siap melakukan apa saja, dengan cara apa saja, dan kepada siapa saja.

Jika Sarjana X telah mendapatkan jawaban memuaskan atas keberangannya, maka pencoret iseng telah melek bagaimana mengidentifikasi “baju Islam” yang tepat, meski dengan ekspresi yang masih perlu dikoreksi.

NB: “FPI Yahudi” sudah tidak ada lagi, terlindas aspal baru. Jl. Ir H. Juanda itu telah diperbaiki, bukan karena ada tulisan itu. Tapi karena jalur tersebut yang memang bregajulan.

14 thoughts on “FPI Yahudi

  1. akh kekerasan adalah sesuatu yang di larang, namun yang harus di pahami adalah ketika pemahaman kenegaraannya tidak bagus tapi pemahaman agamanya melebihi pemehanan terhadap hidu bernegara maka mereka mengalami luapan girah (cemburu) ketika agama di lecehkan dan yang terjadi adalah emosional yang tak terbendung.

    Like

  2. salam kenal.
    semoga keresahan-keresahan membawa pencerahan.

    seorang muslim setiap harinya selalu syahadat, yang hakikatnya adalah penghambaan penuh pada Allah dengan mengikuti apa yang diteladankan Rasulullah.

    Like

  3. Gak ada yang salah dengan FPI, Alloh Maha Besar? Udah jelas tuh, masa numpas kemaksiatan didepan mata nungguin Azab dari Alloh? Di alam kelak udah pasti ada azab bagi yang bermaksiat ( apapun bentuknya ), didunia kita wajib memeranginya ( caranya? anda lebih tahu…gak Tahu? tanya ama yang tahu ). Salam kenal aja…

    Like

  4. Islam kok dibela, justru Islam yang harus membela umat manusia. Islam itu Rahmatan Lil Alamin !! Islam itu rahmat bagi semua umat manusia. Bukan hanya rahmat bagi pemeluk Islam, tapi non muslim juga. Ini kok malah mempertegas kesan “terorisme”. Bahlul ente bieb….

    Like

  5. @Ali;
    saya sepenuhnya setuju, bahwa Islam sebagai bagian dari kehidupan publik, sudah semestinya memberikan kontribusi konstruktif untuk publik pula. tidak sepatutnya (plus tidak proporsional), demi membela “kepentingan sendiri”, dengan membabi buta menebarkan keresahan publik.

    tapi soal, “habib bahlul”, saya ga ikut-ikutan deh… cukup Anda saja yang bilang… he…he…

    Like

  6. klo yang bilang tau islam itu orang bodoh !! apa islam itu sesungguhnya apalagi fpi . fpi pemimpinya mantan pejahat semua .klo menurut saya .orang fpi itu bangkai yang berjalan tapi ngak tau tujuan dan arah walaupun sholat,puasa,dzikir dll. itu cuma luarnya aja padahal maksiatnya tiap hari.trs berbuat kemungkaran trs. palagi yang mimpin ngaji aja lom bisa udah mau jadi ulama .. tai kucing lu semua fpi.. beda dengan leluhur saya terutama eyang sunan kalijaga banyak sekali manfaatnya utk bangsa ini.. fpi apa manfaatnya??
    al habib jack al kalijaga

    Like

  7. wah, sampean turunannya sunan kalijaga ya… wah, semoga sampean bisa mewarisi kearifan sunan kalijaga, termasuk untuk tak memaki dengan nada kasar terhadap orang paling kita benci sekalipun…

    Like

  8. FPI jangan dijadikan biang kerok bung…dari dulu kalo ada kasus yang pelakunya kaum muslimin dibesar2kan, tp kalo pelakunya non-islam dan munafik didiamin aja..jangan2 termasuk orang2 munafik.Waliyadzu billah. Kalo anda seorg muslim pelajarilah agama anda dengan benar. Apa anda rela Nabi anda dihinakan dan dilecehkan? Umat mana yg rela? Kecuali mereka yg ngaku2 islam saja. Kalo Nabinya dihina dia tidak pernah marah, tp kalo ortunya dihina2 atau bendera negaranya diinjak2 dia marah2. Mana yg lbh kalian hargai Nabi anda atau bendera anda? Berpikirlah dengan jernih. Negara ini telah kehilangan moralitas yg besar dan rasa malu yg mandullllll.

    Like

  9. Wew..rame ya, ada yang ngaku turunan sunan kalijaga, lengkap dengan kata – kata mutiaranya, hehe..
    salam aja mas jumanrofarif EQ anda lumayan juga nih, hehe..

    Like

  10. sekitar lebih 10 tahun yang lalu (di ruang dapur) Habib Luthfi (Pekalongan) memberi warning : sekarang mulai banyak orang berpakaian seperti wali-wali jaman walisongo .. memakai serban dan jubah… yang masuk ke indonesia. tapi OJO PODHO KAPUSAN !!!! !!!!! …………….. Hehehe, nggak tau maksudnya apa ? ? ?

    Like

  11. ali (04:26:35) :

    Islam kok dibela, justru Islam yang harus membela umat manusia. Islam itu Rahmatan Lil Alamin !! Islam itu rahmat bagi semua umat manusia. Bukan hanya rahmat bagi pemeluk Islam, tapi non muslim juga. Ini kok malah mempertegas kesan “terorisme”. Bahlul ente bieb….

    Setuju banget,,

    FPI ga mampu memakai otak nya utk nyebarin Islam.

    Like

  12. FPI Yahudi? Dalam al-Qur’an dijelaskan sematan yahudi adalah al-Maghdhub. Yahudi di sini adalah yahudi pada zaman Rasulullah. Dikatan al-Maghdhub diantaranya karena sifat mereka yang munafiq, suka membuat perpecahan, dan suka melanggar. Al-Qur’an itu universal seperti adanya Islam. Jadi Yahudi dalam al-Qur’an bukan berarti kaum, tetapi sifat. Sifat orang Yahudi dalam zaman nabi. Jadi tidak bisa digeneralisir Yahudi yang ada sekarang adalah al-Maghdhub seperti yang dikatakan al-Qur’an. Menurut saya, setiap orang yang berperilaku seperti Yahudi al-Maghdhub yang diterangkan dalam al-Qur’an, berarti dia termasuk yahudi. Apakah FPI itu juga yahudi al-Maghdhub? Silahkan simpulkan sendiri.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s