Tidak Ada “Cinta Pada Pandangan Pertama”!


Kata-kata romantis diumbar sedemikian rupa. Kunjungan-kunjungan berbalut kepentingan romantis intensif dilakukan. Pemberian dan permintaan berhias romantis silih berganti begitu mudah. Kesanggupan menanggung beban, berkorban dan melayani sebesar dan jika perlu melebihi kepentingan sendiri, walaupun berat tapi coba dilakukan sebatas daya atas nama cinta. Cukuplah semua itu sebagai pengejawantahan rasa cinta sekaligus sebagai pemantik untuk menjaring keintiman cinta. Sungguh, ekspresi cinta yang manusiawi. Cinta yang begitu abstrak seolah nampak berupa.

Pada saat seperti itulah, kerap kali, cinta dianggap sebagai sosok berwajah manis yang diagungkan karena dianggap menguntungkan. Dan dalam sekejap bisa saja menjadi terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis. Nyatalah, romantisme dan cinta yang diagungkan, ketulusan yang dirasakan, dan pengorbanan yang diberikan selama ini hanyalah klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan.

Sebagai mahluk fisik, bolehlah berkata, ketulusan dan cinta hanya dapat diukur dari ekspresi lahiriah (ini bukan tentang “hubungan intim” lho!), tapi percayalah, jangan terlalu yakin dengan itu. Sebab, keduanya adalah “mahluk abstrak” yang tidak terukur oleh fisik dan sangat mungkin tersilap oleh inderawi. Oleh karenanya, saya termasuk yang tak percaya dengan istilah “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Mata bukanlah pengambil keputusan yang baik untuk menyatakan cinta, apalagi ditentukan oleh pandangan pertama. Jangan pula terkesima oleh ekspresi cinta yang keluar dari mulut yang diklaim dari hati yang paling dalam. Sebab, mulut bukanlah obyek yang baik untuk menilai cinta. Cinta terlalu murah dan rendah jika hanya berdasar mata dan mulut saja. Paling banter, mata dan mulut hanya bisa menyatakan dan menyampaikan kesan atas penampilan fisik.

Cinta adalah entitas yang rumit dan kompleks, yang melakukan perjalanan terus menerus dan akan terhenti jika mati telah mengkebiri. Sedangkan kesan hanyalah lirikan mata atau penilaian pikiran yang membentur fisik yang dianggap mengagumkan. Kesan akan berubah, seiring dengan berubahnya fisik, sedangkan cinta tak mengenal semua itu. Jadi, jangan pernah mengambil keputusan berdasarkan kesan. Jadikanlah kesan hanya sebagai salah satu (dan bukan satu-satunya) pertimbangan untuk megambil keputusan.

Jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukan! Jadi? Itu hanya kesan mata atas kekaguman fisik.

Pernikahan puncak ekspresi cinta? Saya kira sangat manusiawi, jika memiliki adalah bagian dari ekspresi cinta. Namun, dengan telah memilik bukan berarti cinta telah sampai pada puncaknya. Sekali lagi, cinta adalah perjalanan tanpa henti yang hanya bisa dikebiri oleh mati. Jika sebuah pacaran didasarkan atas cinta, tak mustahil akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dan jika pernikahan dilandaskan atas cinta, barangkali hanya maut yang mampu memisahkan pasangan suami isteri.

Menurut saya, cinta ideal yang mampu mempertahankan sebuah hubungan adalah kombinasi sempurna hati dan pikiran yang matang. Jika Anda telah memiliki kombinasi sempurna keduanya, nyatakanlah kepada orang yang mengusik hati dan pikiran Anda, bahwa Anda ingin memilikinya. Atau persiapkan hati dan pikiran matang Anda, jika suatu saat ada orang yang menyatakan hasrat kepada Anda. Bukan semata mengikuti emosi, tanpa berpikir ke depan. Bukan semata kesan mata yang kagum atas fisik. Bukan karena mengisi kekosongan. Bukan sebab sakit hati, sehingga untuk mengobatinya, harus kembali jatuh hati. Bukan pula hanya urusan biologis.

Barangkali sebuah dugaan yang tak dapat dipastikan salah, jika sebuah hubungan pacaran kandas sebelum melangkah ke pelaminan, atau biduk rumah tangga yang retak di tengah perjalanan, bisa jadi karena tidak diawali dan tidak ada kombinasi sempurna dua hal tersebut. Romantisme yang pernah menghiasi hari-hari, bisa jadi hanya klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan, yang keluar dari mulut yang kelu.

Dan jika Anda menuduh cinta sebagai terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis, mengertilah, itu bukan tindakan bijak. Merenunglah, apakah Anda telah membangun pondasi cinta atas dasar hati dan pikiran yang matang. Jika iya, namun tetap kandas, merenunglah untuk kali yang kedua, jangan-jangan itu hanya klaim.

Sebab, bagi saya, cinta itu menyatukan, mendekatkan dan hanya maut yang mampu memisahkan.

One thought on “Tidak Ada “Cinta Pada Pandangan Pertama”!

  1. yupz…. saya setuju dg konsep “tdk ada cinta pd pandangan pertama” ^_^.
    Orang yang mengaku jatuh cinta pd pandangan pertama memang seringkali menjadikan ‘fisik’ sebagai parameter utamanya….

    btw, menanggapi 3 paragraf terakhir Anda… saya berpendapat, bisa saja kejadian seperti itu terjadi karena disebabkan oleh cinta…. toh kita mengenal istilah ‘cinta posesif’….

    Ok,,, nice posting… ^_^
    Salam semangat…! ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s