Harga Mati Bukan Cuma Akidah


Dalam sebuah acara dialog pada salah satu televisi nasional, seorang kyai sebagai narasumber dari perspektif agama mengatakan, bahwa persoalan akidah (keyakinan) adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal itu ia katakan sebagai argumentasi untuk menyuarakan pembubaran Ahmadiyah yang dianggap telah menodai Islam pada sendinya yang paling mendasar, yaitu persoalan akidah, oleh karenanya tepat jika ia difatwa sesat, menyimpang dari Islam dan pantas dibubarkan. Ketika sang kyai ditanya, jika ada ormas Islam yang melakukan aksi kekerasan terhadap kelompok lain, apakah juga pantas diperlakukan sama. Sang kyai tidak menjawab lugas, namun pada intinya ia hendak mengatakan bahwa itu bukanlah persoalan akidah, walaupun ia juga tidak setuju dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok manapun.

Jika menelisik logika sang kyai, berarti ada persoalan atau aspek-aspek agama selain akidah yang bisa ditawar. Benarkah?

Aspek-Aspek Alquran

Secara umum, kandungan Alquran terangkum dalam tiga aspek, yaitu ahkam i’tiqadiyah (akidah/keyakinan), ahkam khuluqiyah (moral), dan ahkam ‘amaliyah (ritual).

Ahkam i’tiqadiyah terkait soal keyakinan-keyakinan yang mesti dipeluk oleh seorang yang dianggap cukup untuk melakukannya, atau yang disebut dengan mukallaf. Keyakinan-keyakinan tersebut, seperti tercatat jelas di dalam Alquran, yaitu percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan mempercayai bahwa kehidupan dunia akan berakhir, berlanjut pada kehidupan akhirat.

Keyakinan-keyakinan itu digenapkan oleh hadis Rasul menjadi enam, yaitu percaya bahwa putaran kehidupan dunia telah direncanakan oleh Allah (qadha), dan apa pun yang terjadi dalam kehidupan dunia adalah atas kuasa-Nya (qadr). Keyakinan-keyakinan itulah yang disebut dengan rukun iman.

Ahkam khuluqiyah terkait soal moralitas dan mentalitas seseorang terhadap pribadinya, dengan sesama manusia, Tuhan dan sebagainya, termasuk soal pengentasan kemiskinan, kesejahteraan sosial, keadilan, anti-kekerasan, anti-korupsi, anti suap dan sebagainya.

Sedangkan ahkamamaliyah terkait soal ritual ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, atau interaksi sosial (mu’amalah) semacam persoalan-persoalan pidana dan perdata, rumah tangga, tata negara, ekonomi dan sebagainya. Aspek inilah yang disebut juga dengan fikih Alquran.

Bukan Cuma Akidah

Ketiga aspek di atas semestinya dipahami sama besar, segaris dan sejajar, sebagai satu kesatuan tak terpisahkan yang membentuk Alquran. “Dihargai” dengan nilai sama, tanpa memahalkan satu dan memurahkan yang lain. Bukan mengharga mati satu aspek, dan tawar menawar pada aspek yang lain.

Jika menganggap syahadat, beriman kepada Allah, para Nabi dan seterusnya sebagai dasar dan pokok, seharusnya shalat, zakat, puasa, menghargai kemanusiaan, anti-kekerasan, anti-korupsi, anti-suap, keadilan, kesejahteraan sosial, cinta damai, dan seterusnya, menjadi konskuensi dasar dan pokok pula, tanpa harus memilah yang ini harga mati, tidak bisa ditawar dan yang itu “harga hidup” dan bisa ditawar.

Sebab, ayat-ayat Alquran dan kandungannya tidak saling mengungguli. Ketiga aspek dalam Alquran di atas tidak mengistimewakan satu di antara yang lain. Jika kita menganggap, satu aspek dalam Alquran lebih unggul (harga mati) dari aspek yang lain, berarti pada saat yang sama kita sedang menganggap ada ayat Alquran yang tidak unggul.

Ironisnya, gembar-gembor ramai para agamawan, lembaga agama milik pemerintah, ormas atau gerakan agama partikelir, lebih fasih bicara, sigap dan tanggap pada ranah akidah dan ritual. Mereka lebih mampu membela “kepentingan” Tuhan (membela Tuhan?) ketimbang kepentingan kemanusiaan.

Ketika busung lapar melanda, ketika pemerintah menaikan harga BBM yang dampaknya paling dirasakan oleh kalangan bawah, suara para agamawan, lembaga, ormas, atau gerakan agama hampir tak terdengar, dan mungkin sambil berpikir bahwa itu adalah urusan pemerintah. Ketika masjid-masjid Ahmadiyah dibakar, komunitas Ahmadiyah diserang, pembela warga Ahmadiyah babak belur oleh aksi kekerasan, mereka barangkali hanya sekedar menyesalkan sambil menggerutu dalam hati bahwa itulah ekses dari lambannya pemerintah menindak Ahmadiyah, dan berpikir itu adalah urusan polisi.

Tidak ada fatwa soal keberpihakan terhadap rakyat miskin, tidak ada fatwa apapun atau sekedar pernyataan resmi dari lembaga agama pemerintah terhadap orang-orang yang membakar masjid atau yang melakukan tindak kekerasan (lagi-lagi, paling-paling sekedar menyesalkan). Jika Ahmadiyah difatwa sesat karena akidahnya yang dianggap menyimpang, kenapa para agamawan dan lembaga agama kita begitu gagap bersikap soal kekerasan yang kerap dilakukan oleh FPI. Para agamawan kita bukan hanya telah menyudutkan Ahmadiyah, tapi sekaligus menindas orang-orang Ahmadiyah. Warga Ahmadiyah tidak hanya tersudut secara akidah, tapi juga tertindas secara kemanusiaan, terusir dan terasing dari negeri sendiri, dan harus menjadi pengungsi di negeri sendiri pula.

Jika para agamawan, lembaga agama milik pemerintah, ormas atau gerakan agama partikelir, berani menyuarakan pembubaran Ahmadiyah karena dianggap merusak Islam dari dalam dan menodai akidah islam, kenapa mereka tidak berpikir bahwa FPI pun sebenarnya merusak Islam dari dalam pula, sebab menodai moralitas islam.

Jika harus ada pernyataan, akidah Islam (ahkam i’tiqadiyah) adalah dasar dan harga mati, maka moralitas Islam (ahkam khuluqiyah) pun demikian. Sebab keduanya menjadi aspek pembangun Alquran, selain ritual Islam (ahkam ‘amaliyah)

Jika Ahmadiyah harus dibubarkan karena penodaan Islam, karena penodaan Islam pula mestinya FPI dibubarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s