Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan


(Versi urai dari posting sebelumnya yang berujudul “Tuhan Dalam Bingkai Teks”)

Tuhan Dalam Lintasan Teks

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja beberapa teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Secara literal, dari teks-teks di atas, bisa dipahamai (atau sekedar membayangkan) sosok Tuhan yang begitu “manusiawi”, dalam arti, Dia juga melakukan atifitas-aktifitas layaknya manusia. Kata “bersemayam” (yang diterjemahkan dari teks Alquran: istawa), “turun” (dari teks hadis yanzilu), “belari/berjalan cepat” (uharwilu) dan semacamnya adalah kata-kata yang telah lazim digunakan oleh manusia (masyarakat arab) sebelum Alquran turun, dan merupakan kata-kata yang menunjuk pada aktifitas yang juga dilakukan manusia.

Dan Tuhan “meminjam” bahasa manusia itu, karena tentu saja manusialah penerima titah-titah ilahiyah sehingga kehendak-kehendak Tuhan yang terangkum dalam titah-titah itu bisa dipahami olehnya, walaupun sementara ada beberapa teks-teks Alquran yang bukan “bahasa manusia”, dalam arti, tidak pernah digunakan oleh manusia, yang disebut dengan lafdz mutasyabih, seperti kata “alif lam mim”, “alif lam ra”, “ha mim”, “tha ha”, dan sebagainya. Kata-kata itulah yang menjadi perdebatan para pakar tafsir sepanjang sejarah dalam pemaknaannya. Pemahaman atau pemaknaan paling populer terhadap-kata itu adalah “wallahu a’lam bimuridihi” atau “hanya Allah yang tahu maksudnya”.

Tapi, kita lalui saja lafdz mutasyabih itu, dan fokus ke pembahasan teks-teks dan Alquran dan hadis di atas.

Teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, dan teks-teks lain yang menyuratkan Tuhan menempati suatu ruang, jika dipahami secara literal dan apa adanya, akan memunculkan beberapa dugaan,

Pertama, Arsy adalah tempat tinggal Tuhan.

Kedua, sosok Tuhan yang terukur. Sebagaimana benda-benda atau sosok-sosok terukur lain yang menempati ruang tertentu, ukuran sosok Tuhan bisa saja sepadan, lebih besar, atau lebih kecil dari ruang yang ditempati-Nya itu (dalam hal ini Arsy).

Ketiga, sosok Tuhan yang terarah, dalam arti yang sebenarnya, yaitu Dia dikelelingi oleh arah mata angin atau arah-arah tertentu (kanan, kiri, depan, belakang, atas, serong dan seterusnya). Sebab, semua citaan Tuhan, termasuk Arsy, dikelilingi oleh arah mata angin dan arah-arah tertentu. Maka, tak berlebihan, jika Tuhan yang menempati Arsy pun juga demikian.

Keempat, personifikasi Tuhan sebagai fisik yang terdiri atas organ-organ, sebagaimana mahluk-mahluk ciptaan-Nya, termasuk Arsy, yang dalam istilah teologi Islam disebut dengan jism. Jika Tuhan menempati Arsy yang jism, maka Dia merupakan jism pula (la yastaqirru ‘ala jism illa jism mitsluh).

Jika melihat teks Alquran surat Thaha: 5 di atas, dugaan-dugaan seperti itu atau juga dugaan-dugaan lain, mungkin saja bisa terlintas atau terpikirkan oleh sebagian orang. Namun, jika kita sepakat bahwa Tuhan bukanlah manusia dan selamanya manusia tidak akan seperti Tuhan, maka dugaan-dugaan seperti itu menjadi tidak tepat dan menjadi dugaan (baca: pemahaman) yang rancu. Inilah yang saya maksud dengan kerancuan pemahaman intrateks.

Di sisi lain, teks-teks agama yang mengindikasikan keberadaan posisi Tuhan bukan hanya surat Thaha: 5 di atas. Jika dalam sura Thaha: 5 menyuratkan posisi Tuhan ada di Arsy, surat Al-Hadid: 4 menyuratkan keberadaan posisi Tuhan di tempat lain, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4). Di lain teks, “Dia ada di langit”.

Jadi, di mana Tuhan? Di Arsy? Selalu bersama kita? Atau di langit? Atau, sosok Tuhan itu lebih dari satu, sehingga Dia ada di mana-mana? Atau teks-teks itu sebenarnya bermasalah karena memberikan informasi yang kontradiktif (kontradiksi interteks)?

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

Ada beberapa teori untuk mengurai teks-teks semacam di atas. Namun bagi saya, takwil (ta’wil) adalah teori yang lebih bisa melakukan uraian itu. Takwil bisa diartikan sebagai pengalihan arti literal dari sebuah teks, untuk menemukan arti lain demi menghindari dua hal, pertama, menghindari kerancuan pemahaman intrateks. Kedua, menghindari (kesan) kontradiksi interteks.

Saya segaris dengan pendapat yang menyatakan bahwa, pada teks-teks Alquran dan hadis shahih, tidak akan mungkin terjadi kontradiksi interteks (Alquran dengan Alquran, hadis dengan hadis, atau Alquran dengan hadis) atau kerancuan pemahaman intratreks. Sebab, tidak mungkin pula, Tuhan menurunkan satu teks, pada saat yang sama menurunkan kontrateks-nya. Pun jika terjadi kontradiksi interteks, bisa jadi itu hanya kesan yang ditangkap nalar pembaca teks itu. Takwil barangkali bisa mencairkan kontradiksi interteks dan kerancuan pemahaman intrateks semacam itu.

Seperti disebutkan di atas, teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, jika dipahami literal dan apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan seperti tersebut di atas, di samping itu akan terkesan kontradiktif dengan beberapa teks, antara lain “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4) dan “Dia ada di langit” (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Maka, dengan teori takwil, surat Thaha: 5 di atas bisa diartikan dan dipahami sebagai “Tuhan Yang Berkuasa atas Arsy”. Kata istawa (bersemayam) diterjemahkan dengan “berkuasa”. Arti itu bisa dipahami sebagai simbol kedigdayaan dan kekuasaan Tuhan yang tak terhingga dan tak terbatas atas segala sesuatu, bahkan terhadap Arsy yang merupakan simbol mahluk paling besar (a’dzam al-makhluqat).

Itu adalah pilihan termungkin di antara beberapa pilihan arti yang kurang sesuai dengan karakter-karkter (sifat-sifat) Tuhan. Jika teks itu tetap dipahami apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan, seperti “Arsy adalah tempat tinggal Tuhan”, “sosok Tuhan yang terukur”, dan “sosok Tuhan yang terarah”, yang semua itu mempersonifikasikan Tuhan layaknya mahluk atau benda. Dan itu sama sekali bertentangan dengan sifat-Nya yang mukhalafah lil hawadits (tidak sama dengan mahluknya).

Sama seperti “perlakuan” terhadap surat Thaha: 5, demikian juga terhadap surat Al-Hadid: 4, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.”. Teks ini tidak semestinya dibiarkan dan dipahami apa adanya. Jika tidak, selain akan bertentangan dengan surat Thaha di atas, juga akan memendar pemahaman dan dugaan yang rancu. Mungkinkah, jika Dia ada di Arsy, dan pada saat yang sama Dia ada di bumi bersenyawa dengan manusia? Apakah Tuhan memiliki “sosok” lebih dari satu, tersebar di antara para manusia, dan selalu mengikuti di mana pun manusia berada? Dan “sosok” Tuhan itu tumbuh dan hilang bersama tumbuh dan matinya manusia?

Saya kira, dugaan-dugaan seperti itu tak tak benar ditujukan kepada Tuhan. Oleh karenanya, perlu ada pengalihan arti surat Al-Hadid: 4 tersebut ke arti lain, demi menghindari kerancuan pemahaman. Dan arti yang lebih mungkin (lebih pantas) adalah “Dia (Tuhan) akan selalu tahu di mana pun kalian berada, apapun yang kalian kerjakan, apa pun yang kalian pikirkan, dan apa pun yang kalian rasakan.” Katakanlah, teks itu berbicara tentang sifat Tuhan Yang Maha Tahu, dan bukan tentang keberadaan posisi-Nya. Saya kira, makna ini lebih positif dan mentahzihkan Tuhan dari personifikasi apapun.

Takwil juga semestinya diberlakukan untuk memahami hadis Nabi, “Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dari perspektif takwil, arti yang layak dari hadis itu adalah Allah akan menaburkan segenap rahmat kepada orang-orang yang mau menyisihkan sebagian malamnya untuk beribadah, tatkala sebagian orang terlelap dalam kegelapan malam. Waktu malam menjadi penekanan, karena bagi kebanyakan orang, saat itu adalah waktu tersulit untuk sekedar bangun, apalagi digunakan untuk beribadah.

Juga terhadap hadis Nabi, “Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Arti termungkin dari hadis itu adalah, sesungguhnya rahmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dan telah dinikmati manusia, lebih besar dan lebih banyak ketimbang amal ibadah dan pengabdian manusia kepada-Nya.

Tuhan dan Simbol

Jika diperhatikan, beberapa teks Alquran (dan hadis), terutama yang berbicara tentang pribadi (dzat) Tuhan, lebih banyak berbentuk simbol, dalam arti tidak bisa langsung dipahami begitu saja apa adanya. Dikatakan simbol, sebab Dia menyampaikan titah-titah itu menggunakan “bahasa manusia”, tapi tidak layak disebut telah melakukan “aktifitas manusiawi”. Karena, jika Dia menggunakan “bahasa manusia” dan diklaim telah melakukan “aktifitas manusiawi”, maka Dia pun berhak diklaim sebagai mahluk, sebagimana manusia.

Barangkali itu bisa dipahami. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu tentang “jati diri” Tuhan yang sebenarnya. Bahkan tahu, untuk sekedar terkelibat di pikiran atau terbesit di hati saja, Tuhan tidak akan pernah seperti yang diketahui, terpikirkan atau terbesit oleh manusia. Di dalam Alquran, disebutkan, “Tidak ada apapun yang serupa dengan-Nya. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat.” (As-Syura: 11). Dan benarlah adagium “Jangan pernah berpikir tentang pribadi Tuhan, tapi berpikirlah tentang ciptaan Tuhan”. Adagium itu bukan soal larangan berpikir tentang Tuhan, tapi bicara tentang ke-Maha-an Tuhan yang tak tersentuh oleh pikiran manusia, sehebat apapun itu. Pikiran manusia hanya mampu menalar sebatas ciptaan-Nya.

Sebab itu, saat Tuhan hendak menjelaskan diri-Nya kepada manusia, Dia menggunakan “bahasa manusia”, agar mudah dipahami oleh manusia sendiri, namun tidak dengan “pemahaman manusiawi”. Ketika Tuhan menjelaskan diri-Nya “bersemayam”, “turun”, “melangkah” dan sebagainya, bahasa-bahasa itu tak layak dipahami sebagaimana memahami jika manusia yang melakukan itu. Dan bahasa takwil merupakan salah satu cara yang mungkin untuk memahaminya.

Takwil menjadi cara yang absah untuk memahami teks-teks agama, dan Tuhan sendiri yang mengabsahkannya. Perhatikan hadis qudsi di bawah ini…

Pada hari kiamat kelak, dikisahkan Tuhan berdialog dengan hamba-Nya. “Hai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjenguk-Ku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberi-Ku makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberi-Ku minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemui-Mu dan menjenguk-Mu, memberi-Mu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Tuhan menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscara Kau akan menjumpai-Ku di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

One thought on “Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s