Aisyah


Kurang lebih, dua tahun sudah Khadijah meninggalkan Rasul,[1] seorang istri yang begitu ia hormati karena kedewasaannya, loyalitasnya sebagai seorang istri yang secara total menyerahkan jiwa raga dan hartanya untuk perjuangan sang suami. Rasa hormat Rasul yang begitu besar terhadap Khadijah membuat ia sungkan berbagi hati selama dalam pelukannya.[2] Ia adalah satu-satunya istri Rasul yang mendapatkan kiriman langsung “salam“ dari Allah, dan salah seorang istri Rasul yang mendapatkan titipan salam dari Malaikat Jibril, selain Aisyah.[3] Tak ada alasan bagi Rasul untuk tidak selalu mengingat dan mengenang putri Khuwailid itu.

Namun ia takkan membiarkan dirinya terbenam kelam dalam alam kenangan dan menutup diri untuk membuka hatinya yang selama ini berselaput awan kabung. Bagaimana pun Khadijah adalah masa lalu, sedangkah ia masih dan akan berjalan menjejaki waktu, mengemban beban-beban risalah di pundaknya. Sepeninggal Khadijah, ia akan tetap membutuhkan dukungan sebuah keluarga.

Di antara rekan-rekan Rasul yang peduli dengan kesendiriannya dan tak segan menganjurkannya kembali menikah adalah seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim.

“Rasul, tidakkah Kau ingin menikah lagi?”

“Tentu saja ingin. Tapi dengan siapa?” Jawab Rasul.

“Aku memiliki pilihan yang mungkin sesuai dengan kecenderunganmu, baik janda atau yang masih gadis,” kata Khaulah memberikan pilihan. “Jika janda, dia adalah Saudah binti Zam’ah. Dia sudah menjadi pengikut ajaranmu.”

“Jika yang masih gadis, dialah Aisyah, putri Abu Bakar, sahabat yang paling Kau cintai itu.”

Rasul memandang pilihan Khaulah bukanlah pilihan yang buruk. Namun demikian, ia tidak serta merta menjatuhkan pilihannya. Ia hendak meneladankan bahwa pernikahan adalah kepentingan dua orang yang saling bercenderung. Pernikahan bukanlah ajang seorang laki-laki menjadi pemilih dan perempuan sebagai objek-objek pilihan. Betapapun Rasul bercenderung kepada salah satu dari dua orang itu, dengan pesona kenabiannya, ia tak hendak memaksakan kecenderungannya itu. Ia meminta Khaulah menjadi penghubung, menyampaikan terlebih dahulu hasratnya kepada orang yang dimaksud.

Atas perintah Rasul, Khaulah mendatangi keluarga Aisyah.

“Bu, aku datang kesini atas perintah Rasul,” kata Khaulah kepada Ummu Ruman, ibunda Aisyah, yang saat itu hanya dia yang ada di rumah.

“Dengan segala hormat, Rasul hendak meminang Aisyah, putri Ibu,” Khaulah memperjelas maksudnya.

“Maaf, aku belum bisa memutuskan. Alangkah lebih baiknya jika menunggu Abu Bakar pulang. Saat ini dia sedang keluar.” Kata Ummu Ruman yang disambut dengan anggukan oleh Khaulah. “O, baiklah, kalau begitu.”

Jeda beberapa saat, Abu bakar datang. Dan kepadanya, Khaulah mengulang apa yang tadi ia sampaikan kepada Ummu Ruman.

“Maaf, sebelumnya. Hmm…, bukankah aku saudara Rasul? Apakah pernikahan itu diperbolehkan?” Jawab Abu Bakar sembari menyampaikan pertanyaan ketidakpahaman. “Tolong, sampaikan itu dulu kepada Rasul.”

Khaulah kembali kepada Rasul dengan membawa pertanyaan dari Abu bakar. Beberapa saat kemudian, ia kembali kepada Abu Bakar dengan membawa jawaban dari Rasul.

“Abu, Rasul bilang, Kau dan Rasul adalah saudara dalam bingkai Islam, bukan dalam ikatan nasab. Jadi pernikahannya dengan putrimu diperbolehkan.”

“O, begitu…” Kata Abu Bakar sembari mengangguk-angguk paham.

Kepada Khaulah, untuk disampaikah kepada Rasul, Abu meminta waktu untuk berpikir.

Abu Bakar dan Ummu Ruman sebenarnya berada dalam dilema. Ia menyambut bahagia jika Rasul menjadi bagian dari keluarga besarnya, di sisi lain, sebenarnya ia dan istrinya telah terlebih dahulu melakukan pertemuan dangan keluarga Muth’im bin ‘Adiy, soal anak masing-masing. Abu Bakar merasa berat menolak Rasul sebagai mantunya, sekaligus merasa tidak enak hati jika harus menghentikan pembicaraan bersama kelauarga Muth’im. Ia terjepit di antara dua posisi yang sama-sama tidak ideal. Namun, ia harus memutuskan dan memilih satu dengan berusaha tidak menyakiti satu pihak yang lain.[4] Dan Abu Bakar memilih Rasul.

Akhirnya, Rasul dan Aisyah melangsungkan akad nikah di Makkah kurang lebih satu tahun sebelum Rasul hijrah ke Madinah. Saat itu, Aisyah berusia enam tahun.[5]

Sebelum menikah dengan Aisyah, Rasul telah beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpi itu, Rasul melihat dirinya didatangi malaikat yang membawa wanita bercadar, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah calon istrinya. Sang malaikat meminta Rasul membuka cadar wanita itu. Ketika dibuka, nampak jelas, paras yang ia lihat adalah wajah Aisyah. Ketika bangun, Rasul hanya berdoa, jika itu adalah petunjuk Allah, maka jadikan mimpi itu nyata.[6]

Aisyah menjadi istri pertama Rasul, setelah Khadijah wafat. Kelak, di antara para istri Rasul, ia adalah satu-satunya yang gadis.[7] Bersama Rasul, ia tumbuh menjadi perempuan paling cerdas pada waktu itu. Ia tidak pernah menyerah pada ketidaktahuan.[8] Gaya bicaranya lugas, tutur bahasanya fasih, dengan retorika yang argumentatif.[9] Selain sebagai istri, Aisyah adalah teman diskusi Rasul. Setelah Rasul wafat, ia menjadi tempat bertanya dan sumber ilmu bagi orang-orang.

Suatu kewajaran jika kemudian Aisyah menjadi istri Rasul yang paling ia cintai. Rasul bukanlah petualang cinta. Sebab itulah ia tak bisa berbagi cinta lebih, kecuali terhadap Aisyah. Ia hanyalah seorang pengasih yang sama sekali takkan tega melihat penderitaan seorang janda beranak enam, bernama Saudah binti Zam’ah. Demi menanggung beban Saudah beserta keenam anaknya itu, Rasul merelakan seonggok raganya untuk dimiliki juga oleh Saudah. Awalnya Saudah menolak.

“Apa yang membuatmu tidak menerimaku?” Tanya Rasul lembut kepada Saudah.

“Sungguh, Rasul, dengan segala hormat, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menerimamu. Kau adalah orang yang paling aku cintai. Namun, semata aku khawatir, aku beserta anak-anakku hanya akan merepotkanmu, di sela-sela beban berat di pundakmu,” kata Saudah beralasan.

“Adakah alasan lain yang lebih dari itu?”[10] Kata Rasul tidak berasalan, tapi meyakinkan bahwa keputusannya menikahi Saudah adalah justru untuk membantu meringankan beban tanggungannya, termasuk yang terakhir disebut Khaulah.

Rasul menikahi Saudah binti Zam’ah, janda dari Sakran bin Amr, beberapa waktu setelah menikahi Aisyah, juga sebelum ia hijrah ke Madinah. Ia menjadi istri kedua Rasul, setelah Aisyah. Binti Zam’ahlah yang pada masa-masa tuanya menyerahkan hari gilirannya untuk Aisyah.[11] Di tengah keterbatasannya, Saudah memang dikenal sebagai istri Rasul yang paling senang bersedekah.[12] Rasul mengakui dan memuji hal itu. Dan hari gilirannya diberikan kepada Aisyah, semata karena ia tahu Aisyahlah istri yang paling dicintai Rasul.

Pun betapa adil Rasul berperan sebagai seorang suami dari beberapa orang istri, hati tetap bukanlah raga yang bisa menjadi milik bersama. Jiwanya yang lembut membuatnya mudah saja berbagi kasih secara adil kepada semua, termasuk kepada istri-istrinya, tetapi tidak dengan berbagi cinta. Cinta Rasul hanya untuk Aisyah, walaupun kasihnya ia tebarkan kepada istri-istrinya.

Dan pun betapa besar cinta Rasul kepada Aisyah, ia seperti tak bisa menghindar dari bayang-bayang Khadijah. Bagi Rasul, Khadijah bagai udara yang ia hela dan selalu ada, walaupun tak terindra. Sejejak hatinya terisi oleh sejarah Khadijah. Pada setiap kesempatan, ia tak jarang memuji semenjulang langit seluas angkasa istri pertamanya yang pernah mendapat kabar surga dari Allah itu,[13] Hingga tak jarang hal itu membarakan cemburu di benak Aisyah.

“Rasul, tak bisakah Kau sebentar saja tak menyebut Khadijah?!”[14] naluri alamiah Aisyah meronta, tak bisa menahan perasaan, setiap kali Rasul menyebut Khadijah. Di antara para istri Rasul, hanya Khadijah binti Khuwilid yang bisa membuat Aisyah cemburu, walaupun hanya sekedar kata tentangnya yang keluar dari lisan Rasul. Rasan-rasan di hati Aisyah membisikkan, seperti sudah tidak ada wanita saja di muka bumi ini, selain Khadijah yang sudah mangkat itu.[15]

“Rasul, bukankah kini telah ada orang yang lebih baik darinya di sisimu?!”[16]

Mendengar curahan bara cemburu dari tutur Aisyah, seketika raut wajah Rasul berubah merah. Raut itu hanya nampak saat ia menerima titah ilahiyah atau ketika sedang terselubung amarah. Dan, raut wajah merah di paras Rasul saat itu adalah jelas tanda amarah.[17] Rasul menghadapkan tubuh dan mukanya ke Aisyah.

“Aisyah, perlu Kau tahu, Allah tidak akan mendatangkan untukku pengganti sebaik atau yang lebih dari Khadijah! Tidak akan ada lagi perempuan seperti dia!” Jelas Rasul sedang marah. Mungkin karena tersinggung oleh ucapan Aisyah.

“Tahukah Kau, Aisyah, dia telah terjaga akan kenabianku, ketika orang lain masih terlelap parah berselimut jahiliyah. Dia memastikan ucapanku sebagai kebenaran, saat orang lain mengaggapnya bualan. Dia tak segan mengeluarkan hartanya untuk kebutuhanku, tatkala orang lain enggan melakukannya. Kau perlu tahu semua itu, Aisyah!”[18]

Aisyah memang agak pencemburu ketimbang istri-istri Rasul yang lain. Barangkali karena usianya yang masih remaja. Masih sering muncul sifat kolokannya. Misal saja ketika Rasul menjuluki semua istrinya, Aisyah pun minta agar dirinya juga diberi julukan. Dan Rasul memberikan julukan kepadanya dengan “Ummu Abdillah” (ibu dari seorang hamba Allah). Walaupun sampai akhir hayatnya, darinya Rasul tidak dikarunia anak.[19]

Ah, keluarga yang dinamis. Cinta, kasih, amarah, cemburu, dengan sedikit konflik, datang dan pergi, berputar dan berlalu bersama waktu. Satu kebiasaan jika Aisyah sebal terhadap Rasul adalah ia tak mau bersumpah yang mengandung unsur namanya. Cukuplah bagi Rasul tahu Aisyah sedang sebal jika ia mengatakan “la, wa rabbi ibrahim”, bukan “la, wa rabbi muhammad”, seperti biasa jika ia sedang bahagia atau berbunga-bunga karena cinta.

Aisyah tersipu malu, Rasul mengetahui kebiasaanya itu.

“Kau benar, Rasul. Itu kebiasaanku. Tapi sungguh, pun betapa sebalnya aku kepadamu, itu sama sekali tak menggoyahkan cintaku kepadamu. Aku memang bisa memalingkan bibirku untuk tak menyebut namamu, tapi sama sekali aku tak mampu memalingkan hatiku dari cintamu.”[20]

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Aisyah dan tidak dimiliki oleh istri-istri Rasul yang lain adalah, Aisyah menjadi istri Rasul tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak.[21] Sungguh, apresiasi besar dan istimewa dari Allah untuk seorang Aisyah, gadis belia yang selama bersama Rasul, Allah berkenan menurunkan tidak sedikit risalah atas peristiwa yang berkenaan dengannya. Seorang gadis, yang dengan kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang saat itu, dia adalah seorang wirai yang tak mau dipuji, lebih senang untuk tak dikenang.

Ketika Aisyah dalam keadaan paling payah karena tua dan mendekati sekarat, Ibnu Abas datang menjenguknya. Awalnya, kedatangan Ibnu Abas ia tolak, khawatir hanya akan mengumbar pujian. Namun, atas bujukan saudara-saudaranya yang saat itu juga menjenguk, akhirnya Ibnu Abas bisa menemui orang yang paling dicintai Rasul itu, mungkin untuk terakhir kalinya.

“Ummul Muminin, Kau adalah istri yang paling dicintai Rasul. Dan tidak ada yang dicintai Rasul kecuali ia adalah baik…,” benar saja, Ibnu Abas datang untuk memberikan pujian.

“Hanya Kau perempuan masih gadis yang dinikahinya… Kau belia terfitnah, namun Allah sendiri yang menampik fitnah itu, sehingga siang dan malam masjid-masjid sesak penuh orang-orang yang mendaras Alquran, menyambut pembebasanmu dari fitnah… Sebab Kau, turun risalah rukhshah tayamum sebagai pengganti wudu… Kau perempuan pembawa berkah bagi umat… “

“Ibnu Abas, cukup! Sudahi omonganmu!” Aisyah yang terbaring lemah memotong serentetan pujian yang meluncur deras dari mulut Ibnu Abas.

“Aku lebih nyaman tanpa pujian… Aku lebih senang untuk tak dikenang…”[22]

14 Mei 2008


[1] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.

[2] HR Muslim dari Aisyah. Lihat juga Al-Bidahay wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir, 3/129.

[3] Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar , 7/139

[4] HR Ahmad

[5] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.

[6] HR Bukhari dari Aisyah.

[7] HR Bukhari dari Ibnu Abas.

[8] HR Bukhari dari Aisyah.

[9] HR Tirmizi dari Aisyah.

[10] HR Ahmad dari Ibnu Abas.

[11] HR Bukhari dari Aisyah.

[12] HR Nasa’i dari Aisyah.

[13] HR Bukhari dari Aisyah.

[14] HR Ahmad dari Aisyah.

[15] HR Bukhari dari Aisyah.

[16] HR Bukhari dari Aisyah.

[17] HR Ahmad dari Aisyah.

[18] HR Ahmad dari Aisyah.

[19] HR Ahmad dari Aisyah.

[20] HR Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah.

[21] HR Tirmizi dari Aisyah.

[22] HR Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abas.

3 thoughts on “Aisyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s