Ketika Dua Penyangga Roboh


Belum lagi kering air mata kesedihan atas meninggalnya sang paman, Abu Thalib, kesedihan lain bertubi mendera Rasul. Sang istri, Khadijah berpulang meninggalkan Rasul, menyusul sang paman untuk selamanya. Khadijah, sang istri yang ia sebut sebagai salah seorang perempuan terbaik dunia, selain Maryam binti Imran Sang Perawan Suci yang melahirkan Nabi Isa, Asiyah istri Raja Firaun, dan Fatimah putrinya sendiri.[1]

Khadijah adalah sudagar kaya yang memiliki banyak pegawai. Salah seorang di antaranya adalah pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Rasul. Kebaikan, kejujuran, dan sifat-sifat bajik lain yang tersemat pada pegawainya itu, membuat sang sudagar jatuh hati. Semakin hari berlalu, perasaan terpikat itu semakin dalam tertancap di hati saudagar berumur empatpuluh tahun tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meminang seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.

Pada awalnya, ayah Khadijah enggan menyetujui keinginan putrinya itu. Namun, ia tak kurang akal agar keinginan memiliki Muhammad tercapai. Diadakanlah pesta terselubung. Suatu hari, Khadijah membuat banyak makanan dan minuman. Saat itu, belum ada larangan minuman keras. Diundanglah ayah dan beberapa kerabatnya serta sejumlah orang-orang dari suku Quraisy. Sudah menjadi adat masyarakat Arab kala itu, minuman keras menjadi sajian khas untuk acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Dan sebagai giliran, mabuk-mabukan menjadi hal yang tak bisa terelakkan. Demikian juga yang terjadi pada hajatan laten Khadijah itu. Sebagian besar orang-orang yang hadir pada acara itu telah teler, termasuk ayahnya. Pada kondisi seperti itulah Khadijah melaksanakan niatnya.

“Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.

Pesta pernikahan Khadijah dan Muhammad pun siap dilangsungkan. Persiapan di sana sini dilakukan. Khadijah mendandani ayahnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di situ.

Untuk beberapa lama, pesta pernikahan pun berlangsung. Kebahagian di sana sini terpancar berbaur dengan riuh rendah hadirin yang mabuk. Sampai akhirnya sedikit kericuhan terjadi, saat ayah Khadijah sadar dari mabuknya dan melihat dirinya telah berpakaian rapi, berdandan pula.

“Ada apa ini?! Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!” Ayah Khadijah yang sedari tadi menjadi bagian dari pesta itu, seperti orang yang terjebak pada sebuah mimpi buruk dan tiba-tiba terbangun. Ia terakut kejut. Khadijah didekatinya.

“Ada apa ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini?”

“Ayah baru saja menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah,” jawab Khadijah berusaha tenang.

“Apa?! Aku telah menikahkanmu dengan si yatim asuhan Abu Thalib itu?” Ayah Khadijah semakin terkaget mendengar pernyataan putrinya.

“Iya. Ayah telah melakukan itu. Memangnya kenapa?!”

“Tidak, tidak! Aku tidak setuju!”

Tapi Khadijah bukanlah perempuan lemah yang gampang terpojok.

“Apa engkau tidak malu?! Engkau ingin membuat dirimu tampak bodoh di mata orang-orang Quraisy dengan memberi tahu mereka engkau sedang mabuk dan masih belum waras?! ”<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Hari-hari berlalu melunakkan keadaan. Khadijah dan Muhammad pun hidup bersama. Bersama Khadijah, awal perjuangan Muhammad menyampaikan pesan-pesan ketuhanan dimulai. Ia sering bermimpi tentang kewahyuan. Ia juga lebih sering menyendiri, meninggalkan istri, keluarga dan masyarakatnya. Ia memilih Gua Hira sebagai tempat menyendiri. Ia pulang kepada Khadijah jika perbekalannya sudah habis. Setelah itu kembali lagi ke gua.

Namun, kali ini, Muhammad pulang ke Khadijah bukan untuk mengambil bekal. Ia pulang dengan raut wajah pucat pasi berbalut ketakutan luar biasa. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Khadijah segera memapah tubuh menggigil Muhammad ke ranjang, menyelimutinya, dan mendekapnya erat. Khadijah berusaha menenangkan Muhammad, hingga akhirnya ia menceritakan perihal yang terjadi.

“Suamiku, tenangkanlah dirimu. Aku percaya, apa yang terjadi padamu bukanlah pertanda buruk. Aku yakin, sekali-kali Allah tidak akan menyusahkanmu. Kau orang baik yang selalu menjalin hubungan baik dengan orang-orang. Kau selalu membantu orang-orang tak mampu, orang-orang yang terkena musibah, dan mau menanggung kebutuhan mereka. Kau selalu menghormati tamu…”

Komentar sejuk Khadijah tersebut memancarkan energi kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Muhammad yang masih erat dalam dekapan isterinya itu.

Keesokan harinya, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, seorang renta mantan penyembah berhala yang terpesona dengan agama Nasrani hingga kemudian memeluknya, untuk menanyakan apa yang terjadi pada Muhammad dari sudut pandang Injil. Waraqah sangat menguasai Injil. Dia pula yang menyalin Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

“Saudaraku,” kata Waraqah kepada Muhammad, “yang mendatangimu di Gua Hira adalah malaikat Jibril yang juga pernah mendatangi Nabi Musa. Andai saja, saat ini, aku masih muda, niscaya kelak aku dapat melihat Engkau diusir oleh masyarakatmu…”

“Aku akan diusir oleh masyarakatku sendiri?!” Tanya Muhammad menyela, kaget dengan yang terakhir dikatakan Waraqah.

“Benar. Tidak ada orang sepertimu, yang membawa pesan-pesan ketuhanan, yang tidak dimusuhi. Jika pada saatnya itu terjadi, dan aku masih hidup, niscaya aku akan menolongmu.”

Namun, tak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia membawa serta angannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Ya, Khadijah telah meninggalkan Rasul untuk selamanya. Seorang isteri yang menjadi selimut hangat bagi suami, menjadi tongkat tangguh bagi sandaran rapuh suami, orang yang pertama kali merespon positif risalah ketuhanan yang dibawa sang suami, dan orang yang mencurahkan jiwa, raga, harta, dan apa pun yang dimilikinya untuk perjuangan sang suami.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Tahun itu, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, menjadi masa-masa paling berkabung bagi Rasul. Sebelum kematian sang istri, Rasul telah ditinggal terlebih dahulu oleh sang paman. Genap sudah kesedihan Sang Rasul. Detik-detik menjelang kematian Abu Thalib, dan bahkan sepeninggalnya, adalah masa-masa dramatis bagi Sang Rasul…

Abu Thalib, orang yang sangat mencintai Rasul dan ia pun begitu, sedang tertatih-tatih menapaki sisa hidupnya. Ia sedang berada di ujung jurang kehidupan dunia. Sedikit saja Israil menjentikkan jarinya, ia akan terlempar ke dunia lain.

Saat Rasul yang menjenguk Abu Thalib, di situ telah ada sanak saudaranya dan sejumlah orang dari suku Quraisy, di antaranya adalah Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang telah datang lebih dulu.

Orang-orang yang hadir menjenguk Abu Thalib terbelah menjadi dua kubu, mereka yang telah memeluk agama Rasul Muhammad dan mereka yang masih menggenggam erat agama Abdul Muthalib (kepercayaan jahiliyah). Dua kubu itu mempertaruhkan sisa hidup Abu Thalib untuk mau mengikuti ajakan masing-masing, antara ajakan Rasul terhadap Islam dan peneguhan Abu Jahal terhadap kepercayaan jahiliyah yang telah dianut Abu Thalib.

Di akhir masa hidup Abu Thalib, situasi panas justru menghinggapi orang-orang yang datang menjenguknya. Abu Jahal berulah dengan menghalangi Rasul yang hendak mendekati Abu Thalib untuk menyampaikan sesuatu.

“Kemenakanku, ada apa?” Tanya Abu Thalib kepada Rasul, melihat kemenakannya itu punya maksud.

Rasul yang pada awalnya ingin mengutarakan maksudnya lebih dekat dengan Abu Thalib, terpaksa menyampaikan dengan agak jauh darinya.

“Paman, jika Allah menentukan saat ini adalah perjumpaan terakhirku denganmu, hanya satu yang kuminta darimu, ucapkanlah la ilaha illallah. Dan aku akan menjadi saksi di hadapan Allah atas ucapanmu itu,”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> tak sampai hati Rasul menyaksikan orang yang sudah seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih dari itu, di akhir hayatnya masih menganut kepercayaan jahiliyah.

“Paman, jika sekalimat itu Paman ucapkan, semenanjung Arab akan mengikuti Paman. Begitu juga dengan orang-orang non-Arab.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Abu Thalib adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling disegani dan dipanuti. Ia sangat setia dengan kepercayaan moyangnya. Sejak umur delapan tahun<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>, Rasul telah berada di bawah asuhan Abu Thalib, setelah beberapa lama di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthallib. Dengan cinta, ia berperan sebagai ayah bagi Rasul. Ia tidak tidur kecuali Muhammad kecil ada di sampingnya. Ia tidak keluar rumah kecuali si yatim Muhammad menyertainya. Ia dan keluarganya tidak akan makan kecuali Muhammad telah datang dan mendapatkan bagian. Ia dan keluarganya tak sayang mendapatkan sedikit jatah makanan, asal Muhammad kenyang.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Ketokohannya menjadi benteng pelindung bagi Rasul dalam menyampaikan risalah ketuhanan, dari aksi kelompok-kelompok yang anti. Kekerabatan, cinta, dan simpati kepada Rasul, telah melebur menjadi satu dalam diri Abu Thalib, menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan paman dan kemenakan itu. Abu Thalib rela mempertaruhkan nyawanya jika sedikit saja ada yang berani menggores kulit Sang Rasul. Abu Thalib telah mempersembahkan separuh hidupnya untuk Rasul.

Orang-orang, utamanya mereka yang menggenggam erat agama Abdul Muthalib, semakin ricuh mendengar ucapan Rasul.

“Abu Thalib, apakah Kau telah membenci kepercayaan moyang kita, kepercayaan Abdul Muthallib?!” Spontan Abu Jahal menyela seraya membantah ucapan Rasul, untuk meneguhkan keyakinan Abu Thalib agar tidak goyah oleh pengaruh Rasul.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

“Heh, Muhammad! Kau ingin menjadikan tuhan-tuhan yang telah ada menjadi satu tuhan?! Hah, itu konyol, Muhammad?!” Yang lain ikut-ikutan menyalak.

Mereka yang tidak ikut menyalak hanya bisa saling berbisik. Sinis menyangsikan maksud Rasul. Namun Rasul tak henti-hentinya menggunakan kesempatan, secuil apa pun itu. Berulang-berulang, berkali-kali, ia menatap Abu Thalib, berulang-berulang, berkali-kali pula menyampaikan harapan kepadanya. Sampai pada akhirnya, Abu Thalib berujar kepada Rasul…

“Kemenakanku, Aku tak ingin, sepeninggalku nanti, orang-orang akan mencacimu, memaki sanak turun ayahmu. Aku khawatir, jika aku memenuhi permintaanmu, orang-orang akan melakukan itu. Mereka (orang-orang Quraisy) akan menyangka, aku memenuhi permintaanmu semata-mata karena terpojok kematian. Aku tak mau itu terjadi.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Kemenakanku, aku minta maaf, aku tak bisa menanggalkan keyakinanku, aku tak dapat meninggalkan kepercayaan moyangku…”

Abu Thalib, sang benteng pelindung Rasul, telah berpulang, menjejakan sebidang kesedihan di hati Rasul. Sedih, telah ditinggal pergi sang pelindung, sedih pula karena sang paman pergi membawa serta keyakinan jahiliyah.

Kepergiannya menyisakan tantangan bagi Rasul. Selama dalam perlindungan Abu Thalib, kelompok-kelompok anti Rasul tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aksi mereka hanya sebatas gerakan urat saraf. Namun, sepeninggal Abu Thalib, gerakan itu telah meningkat menjadi gerakan kekuatan otot. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan kebencian terhadap Rasul. Apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengintimidasi Rasul selama ia berada di bawah perlindungan Abu Thalib, mudah saja mereka lakukan sepeninggalnya, bahkan semakin menjadi-jadi…

Pada peristiwa detik-detik terakhir hidup Abu Thalib itu, tiga ayat turun merespon tiga hal yang terjadi ketika itu. Ayat pertama adalah, “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shaad: 1-2), yang merespon sikap Abu Jahal dan rekan-rekannya saat menghalangi Rasul untuk mendekati Abu Thalib dan saat mereka menyela seraya membantah ucapan Rasul dengan nada pongah.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Ayat kedua dan ketiga yang turun adalah, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (At-taubah: 113), dan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56), yang merespon Rasul, yang sangat berhasrat agar sang paman mau memeluk Islam, dan meminta agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, setelah melihat pilihan akhir sang paman atas keyakinannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Ciputat, 1 Mei 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>HR Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abas

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>Tuhfah Al-Ahwazi bi syarhi Jami’ At-Tirmizi

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123-124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

One thought on “Ketika Dua Penyangga Roboh

  1. “Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.

    o0o begitu ya critanya? baru tau nih ada bagian ini dalam kisah pernikahan beliau Saw.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s