Perempuan Terfitnah


(Diadaptasi dari hadis riwayat Imam Bukhari berjudul Hadits al-Ifki, dalam karyanya, Shahih al-Bukhari)

Rasul menjengukku dengan sikap yang tak biasa. Paras tampannya bak digelayuti awan mendung. Kelam, hampir tanpa ekspresi. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti biasa terpancar setiap kali menjenguk sakitku, kali itu tak tampak sama sekali. Ia masuk dan hanya menanyakan kondisiku. Hanya itu. Sekadar duduk pun tidak. Lantas langsung berlalu dengan awan mendung masih menggelayut di wajahnya. Aku tak punya prasangka buruk soal itu. Namun, tetap saja menjejakan misteri.

Hari-hari berlalu, aku merasakan kondisi tubuhku telah membaik. Bersama Ummu Misthah, saudari jauhku, aku berniat keluar rumah untuk suatu keperluan. Ummu adalah seorang ibu dari seorang anak bernama Misthah. Oleh karenanya orang-orang memangilnya “Ummu Mistah”, artinya, ibunya Misthah.

Dalam perjalanan pulang, Ummu bercerita tentang isu yang sedang santer di masyarakat. Sedihnya, isu itu tentang aku. Darinya aku tahu, isu aku telah berbuat nista dengan salah seorang pasukan penyisir, saat aku tertinggal rombongan dalam bepergian, telah menyebar dari mulut ke mulut di kota ini, bagai tiupan angin yang menerpa apa saja yang dilaluinya tanpa ada yang mampu mengendalikan. Ternyata, selama aku sakit, isu tentangku jauh lebih populer ketimbang kabar sakitku.

Aku yang baru sebentar merasakan nikmatnya sehat, ternyata masih belum siap mendengarkan cerita Ummu. Aku kembali terbaring sakit. Kembali pula Rasul menjengukku. Sikapnya masih sama. Aku menduga, barangkali isu itulah yang menyebabkan sikapnya berubah. Hatiku bergemuruh oleh dugaanku sendiri.

Tidak ada percakapan antara aku dan Rasul. Aku juga tidak meminta penjelasan atas sikapnya itu. Aku hanya minta agar ia mengizinkanku menemui orangtuaku. Aku harap ada kejelasan di sana.

“Bunda, orang-orang membicarakan apa tentangku?” Tanyaku bukan untuk mencari jawaban, tapi mendapatkan kepastian.

“Sayangku…,” sapanya lembut. “Tenangkanlah hatimu. Sedikit sekali, seorang suami yang memiliki isteri cantik lagi ia cintai, tega membeberkan aib isterinya tersebut.” Jawaban ibu tidak lugas, barangkali karena ingin menjaga perasaanku, namun semakin menguatkan dugaan, bahwa isu tentangku memang telah benar-benar menyebar di masyarakat.

“Benarkah orang-orang membicarakan hal itu?!” Bukan mencari jawaban, bukan pula untuk mendapatkan kepastian, tapi justeru reaksi atas kepastian. Gemuruh hatiku telah berubah menjadi isak tangis.

Tubuhku lunglai. Jiwa dan pikiranku terukir perih. Malam semakin tebal berselimut gulita, tak peduli dengan derai air mataku yang terus mengalir, tak memberikan kesempatan bagiku untuk memejamkan mata, sampai pagi menjelang.

Berharap menemukan titik terang prahara rumah tangganya, seiring dengan tersendatnya komunikasi wahyu saat itu, Rasul tak segan meminta masukan dan komentar dari rekan-rekan teredekatnya.

“Rasul, yang aku ketahui, keluarga Anda tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu tentang keluarga Anda kecuali mereka adalah orang-orang baik.”

“Isteri Anda? Dia hanyalah gadis belia yang ketika tidur sering belepotan oleh adonan makanan. Jika ada yang pantas dianggap aib darinya, ya, cuma itu. Tidak ada yang lain,” kata seorang perempuan berpendapat tentang isteri Rasul

Ada juga yang berkomentar, “Sudah, Rasul. Allah tidak akan menyulitkan Anda. Toh, masih banyak perempuan lain selain dia.”

Cukuplah baginya komentar-komentar itu. Aku, sebagai terdakwa, hanya bisa berdiam pilu, membiarkan orang-orang berkomentar tentangku. Aku memang tidak bisa menyodorkan bukti-bukti jika aku benar-benar tidak senista yang dituduhkan. Namun isu itu telah kadung merata bagai pasir gurun di penjuru kota, seolah telah menjadi kebenaran, walaupun validitasnya tidak teruji. Tidak ada bukti, tidak pula diketahui kepada siapa isu itu berpangkal. Pada yang terakhir itulah Rasul sedang fokus.

Suatu kesempatan Rasul manfaatkan untuk memberikan pernyataan terbuka sekaligus mengambil sikap untuk kasus yang menimpa keluarganya, saat masyarakat sedang berkumpul.

Rasul berdiri di mimbar, sementara orang-orang yang hadir di forum itu menunggu apa yang akan disampaikannya.

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakitiku?” Kata Rasul, melemparkan pertanyaan kepada salah seorang yang hadir di tempat itu yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Rasul kembali mengulangi pertanyaan, kali ini ditujukkan kepada semua yang hadir…

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang keluargaku, kecuali mereka adalah-orang baik. Mereka telah menyebut-nyebut nama satu orang yang aku ketahui baik. Dia tidak pernah berkunjung ke rumahku, kecuali bersamaku.”

“Aku bersedia, Rasul!” Sela Sa’d bin Mu’azd sambil berdiri penuh semangat. “Jika orang itu dari kelompok Aus, aku siap membubuhnya! Jika dia saudara kita dari kelompok Khazraj, aku siap melakukan apa saja yang Anda perintahkan.”

“Sa’d bin Mua’dz, Kau pembohong!” Sa’d bin Ubadah, salah seorang tetua dari Khazraj,tiba-tiba berdiri, memotong perkataan Bin Mu’adz. Ia merasa tersinggung, kelompoknya ikut-ikut disebut dalam kasus itu. “Kau tidak akan membunuhnya! Kau tidak akan mampu melakukan itu!”

“Kau yang pembohong, Sa’d bin Ubadah!” Seru yang lain, membela Sa’d bin Mu’azd. “Kami benar-benar akan membunuhnya! Kau hanya seorang munafik. Munafik yang menyerang munafik!”

Situasi saat itu benar-benar panas. Emosi sebagian orang, menyulut emosi sebagian yang lain, semakin mempertajam perselisihan. Saling tunjuk, saling tuding, tidak peduli di hadapan mereka ada seorang Rasul.

“Sudah!!! Sudah!!!” Situasi yang sudah tak terkontrol lagi memaksa Rasul turun dari mimbar. Hampir saja terjadi baku hantam, jika Rasul tidak segera menengahi dan menenangkan mereka.

Aku tidak menyangka, efek fitnah keji itu begitu besar, hampir saja menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sungguh, peristiwa hari itu semakin mencabik-cabik sanubariku yang telah pilu, mengoyak jiwaku yang sedang layu, tidak sedikit pun menyisakan ruang bahagia di hatiku, untuk aku bisa menghentikan air mata. Pada dua hari berikutnya, aku tetap terbenam dalam suasana demikian.

Orangtuaku menghampiri aku yang sedang menagis. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin menamani sedihku. Seolah ingin mengatakan, mereka akan selalu ada untukku. Setelah itu, datanglah seorang sahabatku. Sama seperti orangtuaku, ia hanya ingin menemani sedihku.

Pada saat kami sedang terlarut bersama dalam sedih, tiba-tiba Rasul datang. Setelah mengucap salam, ia duduk. Itulah kali pertama ia bersedia duduk di rumahku, sejak sebulan terakhir, setelah isu tentangku mulai beredar di masyarakat. Ia datang bukan untuk menemani sedihku, tapi untuk mengatakan sesuatu…

“Aisyah, aku sudah mendengar kabar ini itu tentangmu. Jika Kau memang tidak bersalah, Allah yang akan membersihkan namamu. Dan jika perbuatan nista itu benar-benar telah Kau lakukan, mintalah ampun kepada Allah.”

Tertunduk aku menyimak ucapan Rasul. Air mata yang selama ia bicara hanyalah genangan-genangan di kelopak, meleleh membasahi pipi tanpa aku sadari. Tidak kuusap.

Rasul telah memulai pembicaraan. Saat yang tepat bagiku untuk buka suara, atau paling tidak orang tuaku mau mewakili suaraku. Aku menoleh ke ayahku, memintanya memberikan hak jawab kepada Rasul untukku. Ayah menggeleng. Aku menoleh ke ibuku, meminta hal yang sama. Ibu juga menggeleng. Ayah-ibuku melihat dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menanggapi, menjawab, atau menambah titah yang disampaikan Rasul.

Aku kembali tertunduk. Air mataku meleleh lagi. Isak tangisku tak tertahan. Melihat orangtuaku hanya diam, hatiku semakin bergejolak, seperti ada yang meronta. Sebelum kuangkat kepalaku, sejenak kuhela nafas sambil memejamkan mata. Namun, tetap tak mampu menghentikan tangisku.

Isak tangis dan air mata tumpah ruah bersama isi hatiku. Kepada Rasul, orangtuaku, dan seorang sahabatku, aku katakan…

“Memang, aku hanyalah gadis belia yang belum banyak memahami Alquran,” aku mengawali perkataan diiringi isak tangis, menjadi latar sendu. “Aku tahu, telinga kalian telah mendengar ini itu tentangku, dan hati kalian membenarkannya. Kalian boleh tidak percaya, jika aku katakan, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Tapi, percayalah kepada Allah, bahwa Dia tahu, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Nasib malang yang menimpaku ini mengingatkanku pada perkataan Nabi Yaqub, ayahanda Nabi Yusuf, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah semata yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Hanya sabar yang bisa aku lakukan. Hanya Allah yang bisa aku percaya. Sungguh, selain menitikkan air mata, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi fitnah itu.

Selesai kuutarakan isi hati, aku berlalu ke kamarku, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di kamar, kurebahkan tubuh payahku, kubenamkan jiwa dan pikiranku pada kondisi yang paling rendah dan kosong.

Aku yakin dengan apa yang aku katakan saat di ruang tamu tadi. Sepenuhnya aku yakin, Allah akan membersihkan namaku seperti sedia kala. Tapi aku tak mau menduga-duga akan turun wahyu kepada Rasul untukku, mengabarkan kebenaran keyakinanku. Aku yang hina dina ini, merasa tidak pantas, jika sekalimat wahyu akan turun hanya untukku. Tapi, sungguh, aku sangat berharap, paling tidak malam ini Rasul akan bermimpi, Allah membersihkan namaku.

Hidup hanyalah putaran waktu yang konstan berlalu. Semua yang menempati waktu pun pasti akan berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu.

Pagi itu begitu sejuk. Namun tak sesejuk wajah sang Rasul. Awan mendung kelam yang dalam beberapa waktu lalu menggelayut di wajahnya telah sirna. Kebenaran telah nampak terang. Fajar merah pagi itu telah tersingkap oleh benderang cahaya matahari.

“Berbahagialah, Aisyah. Allah telah membersihkan namamu dari segala tuduhan,” kata Rasul kepadaku dengan ekspresi yang berbinar-binar. Hatinya yang berbunga menyemburatkan tawa bahagia yang menghias paras tampannya.

“Berdirilah, anakku. Kecum kening Rasul. Pujilah dia. Berterima kasihlah kepadanya,” seru ibuku yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Tidak, Bu. Aku tidak mau berdiri untuknya. Dan jika ada yang pantas dipuji, maka hanya Allah yang telah membersihkan namaku.”

Aiysah telah melewati masa pahit hidupnya, yang pahitnya melebihi apapun dari semua yang pahit. Dan berhak menikmati buah sabar yang manisnya melebihi apapun dari semua yang manis, saat Allah menurunkan ayat yang merehabilitasi namanya…

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (An-Nur: 11)

Ciputat, 13 April 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>Yusuf: 18

3 thoughts on “Perempuan Terfitnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s