Berbeda Pendapat Tetap Akur Jua


Konon, mutiara hikmah ini diungkapkan Imam Syafi’i: ra’yuna shawwab yahtamil al-khatha, wa ra’yu ghairina khatha yahtamil al-shawab, artinya, pendapatku benar, namun bagi orang lain, bisa saja keliru. Dan pendapat orang lain, yang dianggap keliru, bisa saja benar.

Sungguh, ungkapan yang sangat bijak dan bajik, jauh dari kesan arogansi. Tak sedikit pun mencerminkan pemaksaan. Sangat tak terbayang, jika pengucapnya bernafsu pendapatnya harus diikuti, jika memang di sana ada kebenaran yang lain, atau yang lebih benar. Sebuah kuliah penting dari ulama moderat. Untuk beberapa saat, ungkapan ini, menjadi bahan renungan.

Cara berpikir seperti inilah yang perlu ditanamkan pada diri setiap orang. Tindakan pemaksaan kesamaan pikiran, pemaksaan pendapat, barang kali bisa dilakukan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta, namun itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa memaksa pikiran kita sama. Sebab, pikiran setiap orang sangat subyektif. Kebenaran yang dianut oleh seseorang, bisa saja adalah kekeliruan bagi yang lain. Sangat sulit untuk serta merta menerima pendapat subyektif orang lain.

null

Tindakan pemaksaan pendapat sesungguhnya adalah pemaksaan subyektifitas untuk menjadi obyektif, sedangkan obyektifitas itu sendiri sesungguhnya tidak diketahui, karena ia hanya milik Tuhan. Obyektifitas Tuhan itu sendiri akan terreduksi, manakala ia bersentuhan dengan alam pikiran manusia yang sama sekali subyektif. Seobyektif apapun pendapat yang kita kemukakan, tetap saja subyektif. Oleh karenanya, subyektifitas pribadi tak seharusnya dipaksakan kepada orang lain.

Persamaan mendasar pada mahluk bernama manusia adalah, mereka sama-sama “hewan” yang berpikir. Dan perbedaan mendasar darinya adalah, apa yang mereka pikirkan pada satu hal tidak sama.

Tanah luas kosong, akan terimajinasi dari darinya ragam macam bangunan. Bagi seorang kyai, tanah seluas itu, sayang kalau dibiarkan mati, dan lebih baik dibangun pesantren di atasnya. Bagi seorang kontraktor, tanah kosong itu potensial dibangun apartemen, kontrakan atau kost-an. Bagi seorang petani, ya, lebih baik dibikin lahan perkebunan atau pertanian. Lain lagi bagi seorang mucikari, tanah itu akan bagus dan prospektif jika diatasnya dibangun rumah bordir. Bagi pencinta sepak bola, mendingan tidak usah dibangun apa-apa, biar bisa terus main bola. Entah apa yang dipikirkan orang yang hobi mancing terhadap tanah itu.

Mereka sama-sama berpikir “menghidupkan” tanah mati itu, namun “kehidupan” apa yang akan mereka bangun, sama sekali berbeda.

Para ulama terdahulu kita pun sering berbeda pendapat pada satu hal. Misal saja, sekte Muktazilah memiliki manhaj (metode berpikir) yang berbeda dengan sekte Asy’ariyah, yang banyak menyebutnya sebagai ahlus-sunah. Muktazilah, misalkan, manhaj mereka adalah taqdim al-‘aql ‘ala al-naql/mengedepankan akal atas Alquran atau hadis. Berbeda dengan Asy’ariyah yang taqdim al-naql ‘ala al-‘aql/mengedapankan Alquran atau hadis atas akal. Perbedaan metode berpikir ini menimbulkan pendapat-pendapat mereka berbeda, bahkan saling menfikan.

Atau, kata “quru” dalam Alquran. Pada satu kata ini, ulama kita bebeda pendapat. Bagi sebagian ulama, kata itu bermakna “suci dari haid”. Dan bagi sebagian yang lain, kata tersebut bermakna “haid”.

Sepintas kita bertanya, apa yang menyebabkan mereka berbeda pada masalah yang sama? Secara teknis, bisa dijawab; karena metode berpikir mereka berbeda. Mereka membuat kaidah sendiri yang baginya tepat untuk menuju titik kebenaran.

Ya, metode berpikir (manhaj) itulah yang tepenting. Kita bisa berkata dan berpendapat apa saja. Apa saja, karena hal itu memang tidak penting. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita berpikir, landasan yang mendasari perkataan kita, argumentsi yang menjadi dasar bangunan pendapat kita. Jadi, kalau pendapat dan perkataan tak lagi penting, mengapa harus ada pemaksaan pendapat untuk menjadi sama?! Mengapa orang lain dipaksa berkata sama?! Yang terkadang dilakukan dengan sangat tidak bijak dan santun.

Bukankah ulama kita mengajarkan cara beda pendapat yang bijak dan santun, yang jauh dari kesan anarkis?! Jangankan hanya sekedar beda pendapat, kemungkaran yang terpampang jelas pun tidak diperkenankan diubah dengan cara anarkis dan main hakim sendiri, apa lagi di negara hukum ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s